أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

Mereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُulaa'ika humu l-kafaratu l-fajaratumereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  2. هُمُhumumerekalah
  3. الْكَفَرَةُl-kafaratuorang-orang kafir
  4. الْفَجَرَةُl-fajaratuorang-orang durhaka

Inti bacaan

Penutup 'Abasa dengan klasifikasi tegas: 'mereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka', penutup surah yang mengidentifikasi golongan wajah suram sebelumnya, kombinasi penolakan keyakinan dan perilaku bermasalah sebagai definisi kategori ini.

Penjelasan pilihan kata

'Ulaa'ika' (jauh, jamak) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'mereka itulah': draf sudah tepat.

Kata (الْكَفَرَةُ, al-kafarah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 465 ayat, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul, sedangkan bentuk yang di ayat ini cuma sekali.

Akar (الْكَفَرَةُ, al-kafarah) muncul di dua ayat di surah ini: 80:17 dan 80:42. Di 80:17 akar itu dipakai untuk menyatakan kadar kekufuran manusia, dan di sini untuk menamai golongan kedua.

Jadi surah ini dibuka celaan atas kekufuran dan ditutup dengan sebutan bagi yang menanggungnya. Al-Qur'an tidak menandai lingkaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata (الْفَجَرَةُ, al-fajarah) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 12:18, 17:78, 75:5, dan 82:14.

Di 82:14 akar (الْفَجَرَةُ, al-fajarah) dipakai untuk orang-orang durhaka yang berada di neraka, dan di 82:13 orang-orang berbakti disebut berada di kenikmatan. Susunan dua golongan itu sama dengan surah ini.

Perhatikan bahwa akar lawan (الْفَجَرَةُ, al-fajarah) yang dipakai di 82:13 juga muncul di surah ini, yaitu di 80:16 untuk para pemegang lembaran. Jadi dua surah memakai pasangan akar yang sama, tetapi menaruhnya di tempat yang berbeda.

Di surah 82 keduanya dipakai untuk dua golongan manusia. Di surah ini yang satu dipakai untuk pemegang wahyu dan yang lain untuk golongan yang tercela.

Kata (هُمُ, humu) adalah kata ganti pemisah yang menegaskan. Susunannya membatasi sebutan itu kepada mereka saja, sehingga tidak ada pihak lain yang tercakup.

Kata (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) menunjuk golongan yang disebut di 80:40 dan 80:41. Jadi tiga ayat terakhir terikat, dan golongan itu tidak disebut ulang.

Perhatikan bahwa golongan pertama tidak diberi satu sebutan pun. Dua ayat melukiskan wajah mereka, dan tidak ada satu nama yang dikenakan kepada mereka.

Ketimpangan itu satu-satunya di surah ini. Di seluruh bagian lain dua golongan selalu diberi ruang yang setara, dan di ayat terakhir cuma satu yang diberi nama.

Surah ini ditutup dengan dua sebutan yang keduanya tidak pernah dipakai lagi di tempat lain. Yang membuka surah juga sebuah kata dari akar yang cuma hidup di tiga ayat.

Perhatikan pula bahwa surah ini tidak ditutup dengan ancaman maupun janji. Ayat terakhirnya cuma memberi nama, dan namanya berupa dua sebutan yang berdampingan.

Susunan itu meninggalkan pembacanya tanpa kalimat penutup yang melegakan. Tidak ada seruan, tidak ada ajakan, dan tidak ada penghiburan bagi golongan pertama.

Yang tertinggal cuma pembagian yang sudah selesai. Sebuah surah yang dibuka dengan seseorang yang memilih siapa yang layak diperhatikan ditutup dengan pembagian yang tidak lagi bisa dipilih siapa pun.

Tafsiran

Ayat penutup ini memberi sebutan bagi golongan kedua. Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 465 ayat, sehingga bentuk yang di ayat ini cuma sekali untuk akar yang paling sering muncul.

Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:17 untuk menyatakan kadar kekufuran manusia, dan 80:42 untuk menamai golongan kedua. Jadi surah ini dibuka celaan atas kekufuran dan ditutup dengan sebutan bagi yang menanggungnya.

Kata terakhirnya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 12:18, 17:78, 75:5, dan 82:14. Di 82:14 akar itu dipakai untuk orang durhaka yang berada di neraka, dan di 82:13 orang berbakti disebut berada di kenikmatan, sedangkan akar yang dipakai di 82:13 juga muncul di 80:16 untuk para pemegang lembaran.

Kata keduanya adalah kata ganti pemisah yang menegaskan, sehingga sebutan itu dibatasi kepada mereka saja.

Golongan pertama tidak diberi satu sebutan pun, dan ketimpangan itu satu-satunya di surah ini. Surah ini tidak ditutup dengan ancaman maupun janji; ayat terakhirnya cuma memberi nama. Sebuah surah yang dibuka dengan seseorang yang memilih siapa yang layak diperhatikan ditutup dengan pembagian yang tidak lagi bisa dipilih siapa pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 465 ayat. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:17 untuk menyatakan kadar kekufuran manusia, dan 80:42 untuk menamai golongan kedua. Jadi surah ini dibuka celaan atas kekufuran dan ditutup dengan sebutan bagi yang menanggungnya, dan Al-Qur'an tidak menandai lingkaran itu. Celaan di awal dan sebutan di akhir dinamai dengan akar yang sama tanpa satu penanda. Empat puluh dua ayat berdiri di antara dua kemunculan itu, dan keduanya tetap terhubung.
  • Kata terakhirnya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 21 ayat, antara lain 2:60, 12:18, 17:78, 75:5, dan 82:14. Di 82:14 akar itu menamai orang durhaka, dan di 82:13 akar yang lain menamai orang berbakti. Akar kedua itu juga muncul di 80:16 untuk para pemegang lembaran. Jadi dua surah memakai pasangan akar yang sama, tetapi menaruhnya di tempat yang berbeda. Pasangan akar yang sama di dua surah ditaruh di tempat berbeda, dan itu mengubah artinya. Tempat sebuah kata di dalam susunan menentukan artinya sebanyak katanya sendiri.
  • Kata keduanya adalah kata ganti pemisah yang menegaskan, dan susunannya membatasi sebutan itu kepada mereka saja. Allah tidak menyisakan pihak lain yang tercakup di dalamnya. Penegasan itu masuk lewat satu kata ganti, dan tanpa kata itu kalimatnya masih bisa dibaca lebih luas daripada yang dimaksudkan. Kata ganti pemisah menutup kemungkinan pembacaan yang lebih luas daripada yang dimaksudkan. Satu kata kecil menentukan seberapa jauh sebuah sebutan boleh dibentangkan.
  • Kata pertamanya menunjuk golongan yang disebut di 80:40 dan 80:41, sehingga tiga ayat terakhir terikat dan golongan itu tidak disebut ulang. Allah membiarkan pembacanya membawa sebutan itu melintasi dua ayat. Penutup yang bergantung pada ayat sebelumnya menolak dibaca sendirian, sama seperti hampir seluruh bagian surah ini. Penutup yang bergantung pada ayat sebelumnya menolak dibaca sendirian, seperti hampir seluruh surahnya. Sebuah penutup yang tidak bisa berdiri sendiri menuntut seluruh surahnya dibaca utuh.
  • Golongan pertama tidak diberi satu sebutan pun. Dua ayat melukiskan wajah mereka, dan Allah tidak mengenakan satu nama kepada mereka. Ketimpangan itu satu-satunya di surah ini, karena di seluruh bagian lain dua golongan selalu diberi ruang yang setara. Apa yang dinyatakan sebuah penutup ketika cuma golongan yang tercela yang diberi nama, sedangkan yang lain dibiarkan tanpa sebutan? Satu golongan diberi nama dan yang lain tidak, dan ketimpangan itu berdiri di ayat terakhir. Yang tidak diberi nama tidak berarti tidak dikenali, dan diamnya justru menonjol.
  • Surah ini ditutup dengan dua sebutan yang keduanya tidak pernah dipakai lagi di tempat lain, dan yang membuka surah juga sebuah kata dari akar yang cuma hidup di tiga ayat. Jadi Allah memilih kosakata yang tidak ada bandingnya di dua ujung surahnya. Yang paling awal dan yang paling akhir sama-sama tidak bisa dibandingkan dengan ayat mana pun. Kosakata yang tidak ada bandingnya dipilih untuk dua ujung surahnya, awal dan akhir sekaligus. Dua ujung yang sama-sama tanpa banding menandai surah yang tidak menyerupai surah lain.