أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

Mereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُulaa'ika humu l-kafaratu l-fajaratumereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  2. هُمُhumumerekalah
  3. الْكَفَرَةُl-kafaratuorang-orang kafir
  4. الْفَجَرَةُl-fajaratuorang-orang durhaka

Inti bacaan

Pemilik wajah berdebu diberi nama kafir dan durhaka, dengan dua bentuk jamak yang tidak berulang dalam Al-Qur'an. Pola jamak itu serupa dengan sebutan para penulis mulia di 80:15-16.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri atas empat kata, (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "mereka itu", (هُمُ, humu) yang berarti "merekalah", (الْكَفَرَةُ, l-kafaratu) yang berarti "orang-orang kafir", dan (الْفَجَرَةُ, l-fajaratu) yang berarti "orang-orang durhaka". Kata penunjuk ulaa'ika merujuk kepada pemilik wajah-wajah di 80:40-41, dan kata ganti humu menegaskan bahwa sebutan sesudahnya berlaku bagi mereka. Terjemahan ini merangkum keduanya dalam "mereka itulah", dan menambahkan "lagi" di antara dua sebutan.

Gabungan kata mereka itu dan mereka tercatat di 58 ayat, misalnya (وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ, wa-ulaa'ika humu l-muflihuuna) yang berarti "dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" di 2:5. Di 2:5 dan 80:42 susunan itu memberi sebutan kepada golongan yang sudah digambarkan sebelumnya, yang satu golongan yang beruntung dan yang lain golongan yang durhaka. Di 2:5 sebutan diberikan sesudah 2:3-4 menyebut iman, salat, infak, dan keyakinan akan akhirat, dan di 80:42 sebutan diberikan sesudah 80:40-41 menggambarkan wajah.

Kata l-kafaratu dengan bentuk jamak ini tercatat di 80:42 saja. Akarnya, ك-ف-ر, tercatat di 465 ayat, dan bentuk jamak lain dipakai misalnya di 83:34, (الْكُفَّارِ, l-kuffaari) yang berarti "orang-orang kufar". Dalam surah ini akar itu muncul di 80:17, (مَا أَكْفَرَهُ, maa akfarahu) yang berarti "alangkah kufurnya dia", dan di 80:42. Kekufuran yang di 80:17 diserukan tentang manusia, di 80:42 menjadi sebutan bagi satu golongan.

Kata l-fajaratu juga tercatat di 80:42 saja. Akarnya, ف-ج-ر, tercatat di 21 ayat dengan tiga kelompok arti. Lima ayat memakai akar itu untuk subuh, misalnya 89:1 dan 97:5, sembilan ayat untuk air yang memancar atau lautan yang diletuskan, misalnya 2:60 dan 82:3, dan tujuh ayat untuk kedurhakaan, yaitu 38:28, 71:27, 75:5, 80:42, 82:14, 83:7, dan 91:8. Bentuk jamak lain, (الْفُجَّارَ, l-fujjaara) yang berarti "orang-orang durhaka", dipakai di 82:14 berhadapan dengan (الْأَبْرَارَ, l-abraara) yang berarti "orang-orang berbakti" di 82:13, dan pasangan yang sama muncul di 83:7 dan 83:18. Di 71:27 kedua akar muncul berdampingan dengan urutan terbalik, (إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا, illaa faajiran kaffaaran) yang berarti "kecuali yang jahat lagi sangat kufur", dalam doa Nuh tentang kaumnya.

Pola jamak kedua sebutan di ayat ini sama dengan pola dua sebutan di awal surah, (سَفَرَةٍ, safaratin) yang berarti "para penulis" di 80:15 dan (بَرَرَةٍ, bararatin) yang berarti "berbudi" di 80:16. Di 80:15-16 pola itu dipakai untuk para penulis yang memegang lembaran-lembaran mulia, dan di 80:42 untuk golongan yang wajahnya tertutup. Surah ini memakai pola jamak yang sama untuk dua kelompok yang berseberangan.

Tafsiran

Ayat ini memberi nama kepada golongan kedua, dan golongan pertama dibiarkan tanpa nama. Sebutan kafir menyambung surah ini kembali ke 80:17, tempat kekufuran manusia diserukan, dan ke 80:23, (كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ, kallaa lammaa yaqdhi maa amarahu) yang berarti "sekali-kali tidak, dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya". Di antara kedua ayat itu, 80:18-22 mengingatkan asal penciptaan manusia sampai kebangkitannya, dan sesudahnya 80:24-32 menguraikan makanan yang ditumbuhkan untuknya. Kedurhakaan di 80:42 dapat dibaca bersama 80:23 sebagai perintah yang tidak ditunaikan.

Surah ini dibuka dengan dua orang di 80:1-10, orang yang merasa serba cukup dan orang yang datang dengan takut, tanpa memasukkan keduanya ke golongan mana pun. Surah ini ditutup dengan dua golongan yang sudah ditetapkan. Jarak antara keduanya diisi peringatan di 80:11-16 dan pemberian di 80:17-32, sehingga penggolongan di akhir surah datang sesudah semua itu disampaikan. Surah 80 tidak menyebut taman atau api sebagai balasan kedua golongan, dan akhir surah berhenti pada nama golongan kedua. Kata terakhir surah ini, orang-orang durhaka, menjadi penutup bagi rangkaian yang dibuka dengan muka masam di 80:1.

Renungan dan Hikmah

  • Allah di 91:8 (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا, fa-alhamahaa fujuurahaa wa-taqwaahaa) yang berarti "lalu mengilhamkan kepadanya kedurhakaan dan ketakwaannya", dan 91:9-10 menyebut beruntung orang yang menyucitumbuhkan jiwa itu dan merugi orang yang menguburnya. Kedurhakaan di sana berakar sama dengan sebutan orang-orang durhaka di 80:42. Kedua arah itu diilhamkan ke dalam jiwa, dan golongan di 80:42 dapat dibaca sebagai hasil arah yang dipilih. Kata menyucitumbuhkan di 91:9 seakar dengan kata yang di 80:3 dan 80:7 dipakai untuk dua orang di awal surah, sehingga pilihan antara menyucitumbuhkan diri atau tidak sudah hadir sejak awal surah, jauh sebelum sebutan di 80:42 diberikan.
  • Ayat 75:5 menyebut (بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ, bal yuriidu l-insaanu li-yafjura amaamahu) yang berarti "bahkan manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus di hadapannya", dan 75:6 menyusulkan pertanyaannya tentang kapan hari kiamat itu. Kedurhakaan di sana berjalan bersama pertanyaan tentang hari itu, seakan hari yang masih jauh memberi ruang untuk terus durhaka. Surah 80 menjawab pertanyaan semacam itu dengan menggambarkan hari itu, dan orang-orang durhaka di 80:42 berada di dalamnya.
  • Allah bertanya di 38:28 apakah Dia akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, atau orang-orang yang bertakwa sama dengan para pendurhaka. Kata para pendurhaka di sana seakar dengan sebutan di 80:42. Pertanyaan itu diajukan sesudah 38:27 menyatakan bahwa langit dan bumi tidak diciptakan dengan sia-sia. Pemisahan wajah di 80:38-42 memperlihatkan jawabannya di hari itu, dan penciptaan yang tidak sia-sia berujung pada golongan yang tidak disamakan.
  • Susunan mereka itulah di 80:42 juga dipakai di 2:5 untuk golongan yang beruntung, sesudah 2:3-4 menyebut ciri-ciri mereka, yaitu beriman kepada yang gaib, menegakkan salat, berinfak dari rezeki yang diberikan Allah, dan yakin akan akhirat. Sebutan di 2:5 diberikan berdasarkan perbuatan yang disebut satu per satu. Di 80:42 sebutan diberikan sesudah wajah digambarkan, dan perbuatannya dicari di bagian surah sebelumnya. Susunan kalimat yang sama memberi nama kepada dua golongan yang berseberangan, dan nama itu diberikan Tuhan sesudah ciri-cirinya terlihat.
  • Tuhan memaklumkan di 14:7 bahwa jika manusia bersyukur Dia akan menambah bagi mereka, dan jika mereka kufur azab-Nya benar-benar keras. Kufur di sana berhadapan dengan syukur. Di 80:24-32 manusia diajak melihat makanannya, air yang dicurahkan, bumi yang dibelah, dan tumbuhan yang ditumbuhkan, dan di 80:42 golongan kedua disebut kafir. Dibaca bersama 14:7, sebutan itu dapat mencakup orang yang menerima semua pemberian itu tanpa bersyukur kepada pemberinya.
  • Surah 82 ditutup (وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ, wa-l-amru yawma'idzin li-llaahi) yang berarti "dan urusan pada hari itu milik Allah", sesudah menyebut hari ketika seseorang tidak berkuasa apa pun bagi orang lain. Surah 82 juga memuat pasangan orang-orang berbakti dan orang-orang durhaka di 82:13-14. Di 80:37 setiap orang dicukupkan oleh urusannya, dan 82:19 menyebut pemilik seluruh urusan di hari itu, sehingga penggolongan di 80:42 berada di tangan-Nya. Kalau urusan hari itu milik Allah, apa yang masih dapat diurus seseorang sebelum hari itu tiba?