بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
Apabila matahari digulung,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْidzaa sy-syamsu kuwwiratapabila matahari digulung
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِذَاidzaaapabila
- الشَّمْسُsy-syamsumatahari
- كُوِّرَتْkuwwiratdigulung
Inti bacaan
Pembukaan At-Takwir dengan citra kosmik dramatis: 'apabila matahari digulung', awal rangkaian tanda kehancuran yang menggunakan metafora tekstil (digulung seperti kain), transformasi sumber cahaya utama menjadi sesuatu yang bisa dilipat.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri.
Kata kerja (كُوِّرَتْ, kuwwirat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menggulung. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 39:5 dan 81:1. Di 39:5 akar itu dipakai untuk malam yang digulungkan atas siang dan siang atas malam.
Jadi akar yang di satu tempat lain menamai pergantian siang dan malam, di sini menamai matahari yang digulung. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya. Kata (كُوِّرَتْ, kuwwirat) di sini berbentuk penderita, bukan bentuk yang berdiri sendiri.
Bentuk (كُوِّرَتْ, kuwwirat) berbentuk penderita dan berpola kedua, sehingga yang dinyatakan matahari digulung oleh pihak lain. Jadi pelakunya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan bentuk penderita itu dipakai lagi di sebelas ayat berikutnya.
Kata (الشَّمْسُ, asy-syams) berasal dari akar yang berarti matahari. Akar itu dipakai di 32 ayat, antara lain 6:78, 21:33, 36:38, 75:9, dan 91:1. Kesejajaran dengan 75:9 patut dicatat, sebab di sana matahari disebut bersama bulan pada hari yang sama.
Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang pasti terjadi, dan kata itu diulang di dua belas ayat sesudahnya. Jadi tiga belas ayat berturut-turut dibuka dengan penanda waktu yang sama, dan itu rangkaian terpanjang semacam itu di dalam Al-Qur'an bagian akhir.
Susunan ayat ini tidak memuat kalimat pokok, dan pokoknya baru datang di 81:14. Jadi tiga belas ayat menggantung bersama, dan pembacanya harus menahan seluruh gambaran itu sebelum kalimatnya selesai.
Ayat ini membuka rangkaian yang paling panjang di dalam surah ini, dan rangkaian itu memakan hampir separuh ayatnya. Jadi tiga belas dari dua puluh sembilan ayat dipakai untuk satu keterangan waktu yang belum ditutup.
Kata (الشَّمْسُ, asy-syams) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, dan susunan yang sama dipakai di dua belas ayat sesudahnya. Jadi tiga belas ayat berturut-turut memakai baris yang sama pada kata pokoknya, dan kesejajaran itu mengikat seluruhnya menjadi satu kalimat panjang yang belum selesai.
Bentuk (كُوِّرَتْ, kuwwirat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, bukan lewat kata penegas, dan cara yang sama dipakai di seluruh rangkaian tiga belas ayatnya tanpa satu pengecualian pun. Susunan itu membuat pembacanya menunggu kalimat pokoknya, dan penantian itu berlangsung sampai tiga belas ayat penuh. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menggulung matahari maupun bagaimana caranya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat pembuka ini beserta dua belas gambaran yang menyusulnya.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian panjang pengandaian yang menggambarkan kehancuran kosmis Hari Kiamat, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 39:5 dan 81:1. Di 39:5 akar itu dipakai untuk malam yang digulungkan atas siang dan siang atas malam.
Jadi akar yang di satu tempat lain menamai pergantian siang dan malam, di sini menamai matahari yang digulung. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sehingga yang dinyatakan matahari digulung oleh pihak lain. Jadi pelakunya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan bentuk penderita itu dipakai lagi di sebelas ayat berikutnya.
Susunan ayat ini tidak memuat kalimat pokok, dan pokoknya baru datang di 81:14. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, dan susunan yang sama dipakai di dua belas ayat sesudahnya. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi, sehingga kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, bukan lewat kata penegas. Cara yang sama dipakai di seluruh rangkaiannya. Jadi tiga belas ayat menggantung bersama, dan pembacanya harus menahan seluruh gambaran itu sebelum kalimatnya selesai di 81:14.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerjanya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 39:5 dan 81:1. Di 39:5 akar itu dipakai Allah untuk malam yang digulungkan atas siang dan siang atas malam. Jadi akar yang menamai pergantian siang dan malam, di sini menamai matahari yang digulung sekali untuk selamanya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftar tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua peristiwa yang berjauhan. Tiga belas gambaran tanpa kalimat pokok menahan napas pembacanya sampai ayat keempat belas.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sehingga yang dinyatakan matahari digulung oleh pihak lain. Jadi Allah tidak menyebutkan pelakunya di dalam ayatnya, dan bentuk penderita itu dipakai lagi di sebelas ayat berikutnya di dalam surah ini. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderitanya. Matahari yang digulung menghapus penanda waktu yang paling tua bagi manusia.
- Susunan ayat ini tidak memuat kalimat pokok, dan pokoknya baru datang di 81:14. Apa yang dikerjakan sebuah rangkaian pada pembacanya ketika Allah menahan kalimat pokoknya selama tiga belas ayat berturut-turut tanpa satu jeda? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga belas gambaran itu sendiri, dan menambahkan kesimpulan sebelum 81:14 berarti mendahului susunan yang dibangun surahnya. Matahari yang digulung menghapus penanda waktu yang paling tua bagi manusia.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 32 ayat, antara lain 6:78, 21:33, 36:38, 75:9, dan 91:1. Kesejajaran dengan 75:9 patut dicatat, sebab di sana matahari disebut bersama bulan pada hari yang sama seperti di dalam surah ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan matahari sebagai benda yang pertama disebut. Matahari yang digulung menghapus penanda waktu yang paling tua bagi manusia.
- Kata pertamanya menandai waktu yang pasti terjadi, dan kata itu diulang Allah di dua belas ayat sesudahnya. Jadi tiga belas ayat berturut-turut dibuka dengan penanda waktu yang sama, dan pengulangan sepadat itu tidak ada di surah lain di juz ini. Pengulangan itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa ayat-ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian penanda yang sama tiga belas kali. Tiga belas gambaran tanpa kalimat pokok menahan napas pembacanya sampai ayat keempat belas.
- Ayat ini membuka rangkaian yang paling panjang di dalam surah ini, dan rangkaian itu memakan hampir separuh ayatnya. Jadi tiga belas dari dua puluh sembilan ayat dipakai Allah untuk satu keterangan waktu yang belum ditutup sampai 81:14. Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung nomornya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemberian hampir separuh surah untuk satu keterangan. Tiga belas gambaran tanpa kalimat pokok menahan napas pembacanya sampai ayat keempat belas.