وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْwa-idzaa n-nujuumu nkadaratdan apabila bintang-bintang berjatuhan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. النُّجُومُn-nujuumubintang-bintang
  3. انْكَدَرَتْnkadaratberjatuhan

Inti bacaan

Tanda kedua tentang cahaya bintang: 'dan apabila bintang-bintang berjatuhan (redup)', kelanjutan tema kehilangan cahaya kosmik, benda langit yang selama ini stabil kehilangan fungsinya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(redup)" tidak dipakai.

Kata kerja (انْكَدَرَتْ, inkadarat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti keruh dan meredup. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar pertama dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Enam lainnya berada di 81:5, 81:8, 81:11, 81:16, 81:17, dan 81:24. Jadi surah dua puluh sembilan ayat ini memuat tujuh hapax akar sekaligus. Kata (انْكَدَرَتْ, inkadarat) di sini berpola ketujuh, bukan bentuk penderita.

Bentuk (انْكَدَرَتْ, inkadarat) berpola ketujuh, sehingga artinya berjatuhan dengan sendirinya, bukan dijatuhkan pihak lain. Jadi ia satu-satunya kata kerja di dalam rangkaian tiga belas ayat ini yang tidak berbentuk penderita.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua belas ayat lainnya memakai bentuk yang menyatakan perbuatan datang dari luar, dan cuma ayat ini yang memakai bentuk yang datang dari bendanya sendiri. Al-Qur'an tidak menerangkan pengecualian itu.

Kata (النُّجُومُ, an-nujuum) berasal dari akar yang berarti bintang yang terbit. Akar itu cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 16:12, 22:18, 53:1, 77:8, dan 81:2. Kesejajaran dengan 77:8 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.

Kata (النُّجُومُ, an-nujuum) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh bintang, bukan sebagian. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan bentuk yang sama dipakai di sepuluh ayat berikutnya pada benda yang berbeda.

Ayat ini bagian kedua dari rangkaian tiga belas tanda, dan susunannya sejajar dengan susunan ayat pertamanya. Jadi keduanya dibangun dengan rangka yang sama: penanda waktu, pokok kalimat, lalu kata kerjanya.

Bentuk (انْكَدَرَتْ, inkadarat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi bilangannya jamak tetapi kata kerjanya tunggal, dan susunan semacam itu dipakai lagi di sepuluh ayat berikutnya pada benda yang berbeda-beda.

Kata (النُّجُومُ, an-nujuum) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti kata pokok di 81:1. Jadi dua ayat pembuka memakai baris yang sama, dan yang berbeda cuma bilangan bendanya: yang satu tunggal dan yang lain jamak. Susunan itu membuat bintang terbaca bergerak sendiri, berbeda dari dua belas benda lain di dalam rangkaiannya. Al-Qur'an tidak menyebut ke mana bintang itu berjatuhan maupun berapa banyak, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata beserta letaknya di dalam rangkaian yang panjang itu.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran kosmis, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar pertama dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Enam lainnya berada di 81:5, 81:8, 81:11, 81:16, 81:17, dan 81:24.

Bentuk kata kerjanya berpola ketujuh, sehingga artinya berjatuhan dengan sendirinya, bukan dijatuhkan pihak lain. Jadi ia satu-satunya kata kerja di dalam rangkaian tiga belas ayat ini yang tidak berbentuk penderita.

Dua belas ayat lainnya memakai bentuk yang menyatakan perbuatan datang dari luar, dan cuma ayat ini yang memakai bentuk yang datang dari bendanya sendiri.

Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 16:12, 22:18, 53:1, 77:8, dan 81:2. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi bilangannya jamak tetapi kata kerjanya tunggal, dan susunan semacam itu dipakai lagi di sepuluh ayat berikutnya pada benda yang berbeda-beda di dalam surah ini. Jadi ayat ini bagian kedua dari rangkaian tiga belas tanda, dan susunannya sejajar dengan susunan ayat pertamanya sampai ke urutan katanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar pertama dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan enam lainnya berada di 81:5, 81:8, 81:11, 81:16, 81:17, dan 81:24. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tujuh akar langka di dalam satu surah pendek. Satu kata yang tidak berulang di mana pun memikul seluruh gambaran nasib bintang.
  • Bentuk kata kerjanya berpola ketujuh, sehingga artinya berjatuhan dengan sendirinya, bukan dijatuhkan pihak lain. Jadi ia satu-satunya kata kerja di dalam rangkaian tiga belas ayat ini yang tidak berbentuk penderita, dan Allah tidak menerangkan pengecualian itu. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus pengecualian yang membedakan ayat ini dari dua belas lainnya. Satu kata yang tidak berulang di mana pun memikul seluruh gambaran nasib bintang.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 16:12, 22:18, 53:1, 77:8, dan 81:2. Kesejajaran dengan 77:8 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini dan memakai akar yang sama untuk bintang pada hari itu. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar yang sama di dua surah satu juz. Bintang yang berjatuhan sendiri berbeda dari dua belas benda lain yang digerakkan.
  • Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh bintang, bukan sebagian. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan bentuk yang sama dipakai di sepuluh ayat berikutnya pada benda yang berbeda-beda. Ketiadaan pengecualian itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh penakrifannya. Bintang yang berjatuhan sendiri berbeda dari dua belas benda lain yang digerakkan.
  • Ayat ini bagian kedua dari rangkaian tiga belas tanda, dan susunannya sejajar dengan susunan ayat pertamanya. Jadi keduanya dibangun Allah dengan rangka yang sama: penanda waktu, pokok kalimat, lalu kata kerjanya tanpa satu kata penghubung. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat pembuka dibangun dengan urutan kata yang sama persis. Satu kata yang tidak berulang di mana pun memikul seluruh gambaran nasib bintang.
  • Akar kata kerjanya cuma dipakai di 1 ayat, sehingga tidak ada satu tempat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika satu-satunya kata yang melukiskan nasib bintang tidak punya pembanding di mana pun? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan bentuknya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam susunannya. Bintang yang berjatuhan sendiri berbeda dari dua belas benda lain yang digerakkan.