وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
Dan apabila gunung-gunung dijalankan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْwa-idzaa l-jibaalu suyyiratdan apabila gunung-gunung dijalankan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
- سُيِّرَتْsuyyiratdijalankan
Inti bacaan
Tanda ketiga tentang pergerakan gunung: 'dan apabila gunung-gunung dijalankan', struktur paling stabil di bumi mulai bergerak, penegasan bahwa tidak ada yang benar-benar tetap.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (سُيِّرَتْ, suyyirat) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 13:31 dan 81:3. Di 13:31 kata yang sama dipakai di dalam pengandaian tentang Al-Qur'an yang bisa menjalankan gunung.
Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk gunung yang dijalankan, dan yang di 13:31 pengandaian tentang kitab sedangkan yang di sini keterangan tentang hari kiamat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (سُيِّرَتْ, suyyirat) di sini berbentuk penderita dan berpola kedua.
Akar (سُيِّرَتْ, suyyirat) berarti berjalan. Akar itu cuma dipakai di 25 ayat, antara lain 3:137, 12:109, 22:46, 34:18, dan 40:82. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai perjalanan manusia di muka bumi.
Jadi akar yang di puluhan ayat menyuruh manusia berjalan, di sini menamai gunung yang dijalankan. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian ganda itu dengan satu kalimat pun. Kata (الْجِبَالُ, al-jibaal) mendahuluinya, dan ia berbentuk jamak bertakrif.
Kata (الْجِبَالُ, al-jibaal) berasal dari akar yang berarti bawaan yang tertanam. Akar itu dipakai di 39 ayat, antara lain 7:143, 20:105, 69:14, 77:10, dan 78:20. Kesejajaran dengan 77:10 dan 78:20 patut dicatat, sebab kedua surah itu berada di juz yang sama.
Bentuk (سُيِّرَتْ, suyyirat) berbentuk penderita dan berpola kedua, sama seperti bentuk di 81:1. Jadi dua ayat di dalam rangkaian ini memakai bentuk yang sama persis, dan yang berbeda cuma bendanya.
Kata (الْجِبَالُ, al-jibaal) berbentuk jamak dan bertakrif, sama seperti kata pokok di 81:2. Jadi tiga ayat pertama rangkaiannya memakai dua bentuk tunggal dan satu bentuk jamak, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu.
Ayat ini bagian ketiga dari rangkaian tiga belas tanda, dan tiga ayat pertamanya seluruhnya tentang benda alam yang besar. Jadi urutannya bergerak dari matahari, ke bintang, lalu ke gunung sebelum berpindah kepada perkara manusia.
Kata (الْجِبَالُ, al-jibaal) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti dua kata pokok sebelumnya. Jadi tiga ayat pertama rangkaiannya dibangun dengan rangka yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata penghubung pun.
Kata (وَإِذَا, wa idzaa) diulang dari 81:1 dengan tambahan kata sambung, dan susunan yang sama dipakai di sembilan ayat berikutnya. Jadi sepuluh ayat berturut-turut dibuka dengan dua kata yang sama persis, dan pengulangan sepadat itu tidak ada di surah lain di juz ini. Susunan itu membuat gunung terbaca sebagai yang dikenai perbuatan, bukan sebagai pelakunya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menjalankannya maupun ke mana ia dijalankan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta satu ayat lain yang memakai kata yang sama.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran kosmis, dan kata kerjanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 13:31 dan 81:3.
Di 13:31 kata yang sama dipakai di dalam pengandaian tentang Al-Qur'an yang bisa menjalankan gunung. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk gunung yang dijalankan, dan yang di 13:31 pengandaian tentang kitab sedangkan yang di sini keterangan tentang hari kiamat.
Akar kata kerjanya cuma dipakai di 25 ayat, antara lain 3:137, 12:109, 22:46, 34:18, dan 40:82. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai perjalanan manusia di muka bumi.
Jadi akar yang di puluhan ayat menyuruh manusia berjalan, di sini menamai gunung yang dijalankan. Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, antara lain 7:143, 20:105, 69:14, 77:10, dan 78:20.
Kesejajaran dengan 77:10 dan 78:20 patut dicatat, sebab kedua surah itu berada di juz yang sama. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti dua kata pokok sebelumnya. Kata pertamanya diulang dari 81:1 dengan tambahan kata sambung, dan susunan yang sama dipakai di sembilan ayat berikutnya, sehingga sepuluh ayat berturut-turut dibuka dengan dua kata yang sama persis. Jadi urutan bendanya bergerak dari matahari, ke bintang, lalu ke gunung sebelum berpindah kepada perkara manusia di 81:4.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 13:31 dan 81:3. Di 13:31 kata yang sama dipakai Allah di dalam pengandaian tentang Al-Qur'an yang bisa menjalankan gunung, sedangkan di sini ia menyebut gunung yang benar-benar dijalankan pada hari itu. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kata yang sama di dua tempat yang berjauhan. Akar yang menyuruh manusia berjalan dipakai untuk gunung yang berjalan sendiri.
- Akar kata kerjanya cuma dipakai di 25 ayat, antara lain 3:137, 12:109, 22:46, 34:18, dan 40:82. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai perjalanan manusia di muka bumi, sedangkan di sini Allah memakainya untuk gunung yang dijalankan. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat penjelas pun. Gunung yang dijalankan menghapus lambang segala yang tidak bergerak. Akar yang menyuruh manusia berjalan dipakai untuk gunung yang berjalan sendiri.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 39 ayat, antara lain 7:143, 20:105, 69:14, 77:10, dan 78:20. Kesejajaran dengan 77:10 dan 78:20 patut dicatat, sebab kedua surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian akar yang sama di tiga surah satu juz. Akar yang menyuruh manusia berjalan dipakai untuk gunung yang berjalan sendiri.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sama seperti bentuk di 81:1. Jadi dua ayat di dalam rangkaian ini memakai bentuk yang sama persis, dan yang berbeda cuma bendanya tanpa satu kata pembeda dari Allah. Kesejajaran itu berlaku sampai ke polanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat memakai bentuk kata kerja yang sama persis. Gunung yang dijalankan menghapus lambang segala yang tidak bergerak. Gunung yang dijalankan menghapus lambang segala yang tidak bergerak.
- Ayat ini bagian ketiga dari rangkaian tiga belas tanda, dan tiga ayat pertamanya seluruhnya tentang benda alam yang besar. Jadi urutan Allah bergerak dari matahari, ke bintang, lalu ke gunung sebelum berpindah kepada perkara manusia di 81:4. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa tiga benda alam disebut lebih dulu daripada milik manusia di dalam rangkaiannya. Akar yang menyuruh manusia berjalan dipakai untuk gunung yang berjalan sendiri.
- Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh gunung, bukan sebagian. Apa yang tersisa dari rasa aman manusia ketika Allah menjalankan benda yang selama ini dipakainya sebagai lambang segala yang tidak bergerak? Ketiadaan pengecualian itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh penakrifannya. Gunung yang dijalankan menghapus lambang segala yang tidak bergerak.