وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ
Dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْwa-idzaa l-'isyaaru 'uththilatdan apabila unta-unta bunting ditinggalkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- الْعِشَارُl-'isyaaruunta bunting
- عُطِّلَتْ'uththilatditinggalkan
Inti bacaan
Tanda keempat dengan detail budaya spesifik: 'dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan', penggunaan referensi harta paling berharga bagi pemiliknya (unta bunting) yang diabaikan, menegaskan skala krisis yang membuat bahkan aset paling berharga menjadi tidak relevan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْعِشَارُ, al-'isyaar) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (عُطِّلَتْ, 'uththilat) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun.
Akar (عُطِّلَتْ, 'uththilat) berarti ditinggalkan tanpa diurus. Akar itu cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 22:45 dan 81:4. Di 22:45 akar itu dipakai untuk sumur yang ditinggalkan dan istana yang kokoh setelah negerinya binasa.
Jadi akar yang di satu tempat lain menamai bangunan yang ditinggalkan, di sini menamai harta yang diabaikan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (عُطِّلَتْ, 'uththilat) di sini berbentuk penderita dan berpola kedua.
Akar (الْعِشَارُ, al-'isyaar) berarti sepuluh. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 2:196, 5:89, 7:142, 12:4, dan 89:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai bilangan sepuluh, bukan unta.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar menamai bilangan sepuluh dan menamai unta bunting sepuluh bulan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berbagi huruf yang sama. Kata (الْعِشَارُ, al-'isyaar) mendahuluinya, dan ia bertakrif sebagai jenis.
Bentuk (عُطِّلَتْ, 'uththilat) berbentuk penderita dan berpola kedua, sama seperti bentuk di 81:1 dan 81:3. Jadi tiga ayat di dalam rangkaian ini memakai bentuk yang sama persis sampai ke polanya.
Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut milik manusia, sesudah tiga ayat tentang benda langit dan bumi. Jadi pembicaraan berpindah dari alam kepada harta tanpa satu kata penghubung.
Kata (الْعِشَارُ, al-'isyaar) bertakrif, sehingga yang disebut jenis yang sudah dikenali. Jadi Al-Qur'an menunjuk satu jenis harta tanpa menerangkan apa itu, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tambahan.
Kata (الْعِشَارُ, al-'isyaar) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti tiga kata pokok sebelumnya. Jadi empat ayat pertama rangkaiannya dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma bendanya serta kata kerjanya di masing-masing ayat.
Bentuk (عُطِّلَتْ, 'uththilat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi susunannya sejajar dengan susunan di 81:2 dan 81:3, dan tiga ayat berturut-turut sama-sama memakai kata kerja tunggal untuk pokok yang berbentuk jamak. Susunan itu menaruh harta di tengah daftar benda alam, tanpa satu kata penanda yang membedakannya. Al-Qur'an tidak menerangkan apa itu maupun siapa pemiliknya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang dua di antaranya tidak berulang di tempat lain mana pun.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan harta paling berharga yang diabaikan pada hari itu, dan kata keduanya serta kata kerjanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun. Akar kata kerjanya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 22:45 dan 81:4.
Di 22:45 akar itu dipakai untuk sumur yang ditinggalkan dan istana yang kokoh setelah negerinya binasa. Jadi akar yang di satu tempat lain menamai bangunan yang ditinggalkan, di sini menamai harta yang diabaikan.
Akar kata keduanya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:196, 5:89, 7:142, 12:4, dan 89:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai bilangan sepuluh, bukan unta.
Jadi satu akar menamai bilangan sepuluh dan menamai unta bunting sepuluh bulan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti tiga kata pokok sebelumnya. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya, sehingga tiga ayat berturut-turut memakai susunan yang sama. Jadi pembicaraan berpindah dari alam kepada harta tanpa satu kata penghubung, dan peralihan itu tidak ditandai Al-Qur'an dengan apa pun.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerjanya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 22:45 dan 81:4. Di 22:45 akar itu dipakai Allah untuk sumur yang ditinggalkan dan istana yang kokoh setelah negerinya binasa. Jadi akar yang menamai bangunan yang ditinggalkan, di sini menamai harta yang diabaikan pemiliknya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk bangunan dan untuk harta. Dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain mana pun.
- Akar kata keduanya dipakai Allah di 26 ayat, antara lain 2:196, 5:89, 7:142, 12:4, dan 89:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai bilangan sepuluh, bukan unta. Jadi satu akar menamai bilangan dan menamai unta bunting sepuluh bulan tanpa satu kalimat penghubung. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara bilangan dan unta dengan satu kalimat penjelas pun. Harta yang paling dijaga ditinggalkan begitu saja tanpa satu penjelasan pun.
- Kata keduanya dan kata kerjanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksudkan Allah. Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menerangkan dua di antaranya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam ayatnya. Harta yang paling dijaga ditinggalkan begitu saja tanpa satu penjelasan pun.
- Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut milik manusia, sesudah tiga ayat tentang benda langit dan bumi. Jadi pembicaraan Allah berpindah dari alam kepada harta tanpa satu kata penghubung, dan peralihan itu tidak ditandai apa pun. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa pokok pembicaraannya sudah berpindah kepada milik manusia. Dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain mana pun.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sama seperti bentuk di 81:1 dan 81:3. Jadi tiga ayat di dalam rangkaian ini memakai bentuk yang sama persis sampai ke polanya, dan Allah tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata pun. Kesejajaran itu berlaku sampai ke polanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa tiga ayat memakai bentuk kata kerja yang sama persis. Dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain mana pun.
- Kata keduanya bertakrif, sehingga yang disebut jenis yang sudah dikenali. Apa yang berubah pada gambaran sebuah hari ketika Allah menyebut harta yang paling dijaga manusia ditinggalkan begitu saja, tanpa menerangkan apa harta itu? Ketiadaan keterangan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan tidak diterangkan oleh susunannya. Harta yang paling dijaga ditinggalkan begitu saja tanpa satu penjelasan pun.