وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ

Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْwa-idzaa l-wuhuusyu husyiratdan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. الْوُحُوشُl-wuhuusyubinatang liar
  3. حُشِرَتْhusyiratdikumpulkan

Inti bacaan

Tanda kelima tentang perilaku hewan liar: 'dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan', perubahan pola alami hewan yang biasanya menghindar, menunjukkan gangguan menyeluruh terhadap tatanan alam.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْوُحُوشُ, al-wuhuusy) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti liar. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar kedua dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Jadi dua di antaranya sudah muncul di lima ayat pertama, dan lima sisanya menyusul di 81:8, 81:11, 81:16, 81:17, dan 81:24. Kata (حُشِرَتْ, husyirat) di sini berbentuk penderita dan berpola pertama.

Kata kerja (حُشِرَتْ, husyirat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengumpulkan dari segala arah. Ia dipakai di 43 ayat, antara lain 2:203, 6:38, 17:97, 20:124, dan 59:2. Di 6:38 akar itu dipakai untuk umat binatang yang dikumpulkan kepada Tuhannya.

Kesejajaran dengan 6:38 patut dicatat, sebab di sana binatang disebut sebagai umat seperti manusia, dan akar yang sama dipakai untuk pengumpulan mereka. Jadi dua tempat memakai akar yang sama untuk binatang yang dihimpun.

Bentuk (حُشِرَتْ, husyirat) berbentuk penderita dan berpola pertama, sedangkan bentuk di 81:1, 81:3, dan 81:4 berpola kedua. Jadi ayat ini memakai pola yang lebih sederhana, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Kata (الْوُحُوشُ, al-wuhuusy) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh binatang liar, bukan sebagian. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu jenis pun yang dikecualikan.

Ayat ini bagian kelima dari rangkaian tiga belas tanda, dan ia menyebut makhluk hidup untuk pertama kalinya. Jadi urutannya bergerak dari benda mati, ke harta, lalu ke makhluk yang bernyawa.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan empat ayat sebelumnya sampai ke urutan katanya. Jadi lima ayat berturut-turut dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma benda dan kata kerjanya.

Kata (الْوُحُوشُ, al-wuhuusy) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti empat kata pokok sebelumnya. Jadi lima ayat pertama rangkaiannya dibangun dengan rangka yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun di dalam surahnya.

Bentuk (حُشِرَتْ, husyirat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, sama seperti di empat ayat sebelumnya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata penegas pun untuk menyatakannya. Susunan itu menaruh makhluk bernyawa sesudah harta, dan sebelum lautan yang menyusul di ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menyebut ke mana binatang itu dikumpulkan maupun untuk apa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang dua di antaranya tidak berulang.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran alam, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar kedua dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Lima sisanya menyusul di 81:8, 81:11, 81:16, 81:17, dan 81:24.

Kata kerjanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 43 ayat, antara lain 2:203, 6:38, 17:97, 20:124, dan 59:2. Di 6:38 akar itu dipakai untuk umat binatang yang dikumpulkan kepada Tuhannya.

Kesejajaran dengan 6:38 patut dicatat, sebab di sana binatang disebut sebagai umat seperti manusia, dan akar yang sama dipakai untuk pengumpulan mereka.

Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola pertama, sedangkan bentuk di 81:1, 81:3, dan 81:4 berpola kedua. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti empat kata pokok sebelumnya. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi, sehingga kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu tanpa satu kata penegas pun di dalam ayatnya. Jadi urutannya bergerak dari benda mati, ke harta, lalu ke makhluk yang bernyawa, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 43 ayat, antara lain 2:203, 6:38, 17:97, 20:124, dan 59:2. Di 6:38 akar itu dipakai untuk umat binatang yang dikumpulkan kepada Tuhannya, sehingga dua tempat memakai akar yang sama untuk binatang yang dihimpun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk manusia dan untuk binatang. Binatang liar yang selama ini menjauhi manusia justru dikumpulkan bersama.
  • Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan lima sisanya menyusul di 81:8, 81:11, 81:16, 81:17, dan 81:24. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tujuh akar langka di dalam satu surah. Akar yang menamai pengumpulan manusia dipakai juga untuk pengumpulan binatang.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola pertama, sedangkan bentuk di 81:1, 81:3, dan 81:4 berpola kedua. Jadi ayat ini memakai pola yang lebih sederhana, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun di dalam surahnya. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus perbedaan yang membedakan ayat ini dari tiga ayat sebelumnya. Binatang liar yang selama ini menjauhi manusia justru dikumpulkan bersama.
  • Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh binatang liar, bukan sebagian. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan tidak ada satu jenis pun yang dikecualikan di dalam ayat ini walau sekali. Ketiadaan pengecualian itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh penakrifannya. Binatang liar yang selama ini menjauhi manusia justru dikumpulkan bersama.
  • Ayat ini bagian kelima dari rangkaian tiga belas tanda, dan ia menyebut makhluk hidup untuk pertama kalinya. Apa yang dinyatakan Allah ketika binatang liar yang selama ini menjauhi manusia justru dikumpulkan bersama pada hari yang sama? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa makhluk bernyawa disebut sesudah benda mati dan harta di dalam rangkaiannya. Akar yang menamai pengumpulan manusia dipakai juga untuk pengumpulan binatang.
  • Susunan ayat ini sejajar dengan susunan empat ayat sebelumnya sampai ke urutan katanya. Jadi lima ayat berturut-turut dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma benda dan kata kerjanya di masing-masing ayat. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa lima ayat dibangun dengan urutan kata yang sama persis. Binatang liar yang selama ini menjauhi manusia justru dikumpulkan bersama. Akar yang menamai pengumpulan manusia dipakai juga untuk pengumpulan binatang.