وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْwa-idzaa n-nufuusu zuwwijatdan apabila jiwa-jiwa dipasangkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- النُّفُوسُn-nufuusujiwa-jiwa
- زُوِّجَتْzuwwijatdipasangkan
Inti bacaan
Tanda ketujuh tentang pengelompokan jiwa: 'dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan', proses klasifikasi berdasarkan kesamaan amal, sistem yang mengelompokkan berdasarkan kualitas tindakan bukan afiliasi sosial.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (زُوِّجَتْ, zuwwijat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berpasangan. Ia dipakai di 72 ayat, antara lain 2:35, 4:1, 30:21, 36:36, dan 78:8. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai pasangan suami istri.
Jadi akar yang di puluhan ayat menamai pasangan manusia, di sini menamai jiwa yang dipasangkan. Al-Qur'an tidak menyebut dengan apa jiwa itu dipasangkan, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan itu. Kata (زُوِّجَتْ, zuwwijat) di sini berbentuk penderita dan berpola kedua.
Kata (النُّفُوسُ, an-nufuus) berasal dari akar yang berarti napas dan jiwa. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 81:14, dan 81:18. Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini dan di 81:14 akar itu menamai jiwa manusia, dan di 81:18 ia menamai subuh yang bernapas. Jadi satu akar mengikat jiwa dan napas pagi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Kata (النُّفُوسُ, an-nufuus) mendahuluinya, dan ia berbentuk jamak bertakrif.
Bentuk (زُوِّجَتْ, zuwwijat) berbentuk penderita dan berpola kedua, sama seperti bentuk di 81:1, 81:3, 81:4, dan 81:6. Jadi lima ayat di dalam rangkaian ini memakai bentuk yang sama persis sampai ke polanya.
Kata (النُّفُوسُ, an-nufuus) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh jiwa, bukan sebagian. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu jiwa pun yang dikecualikan.
Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut manusia sendiri, sesudah enam ayat tentang alam, harta, dan binatang. Jadi urutannya bergerak dari yang paling jauh kepada yang paling dekat.
Susunan ayat ini sejajar dengan susunan enam ayat sebelumnya, dan ia tetap tidak memuat kalimat pokok. Jadi tujuh ayat menggantung bersama, dan pokoknya masih tujuh ayat lagi jauhnya.
Kata (النُّفُوسُ, an-nufuus) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti enam kata pokok sebelumnya. Jadi tujuh ayat pertama rangkaiannya dibangun dengan rangka yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata penghubung pun di dalam surahnya.
Bentuk (زُوِّجَتْ, zuwwijat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, sama seperti di enam ayat sebelumnya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata penegas pun untuk menyatakannya di dalam ayatnya. Susunan itu menaruh jiwa manusia sesudah enam benda di luar dirinya, dan sebelum satu kekejaman yang disebut di dua ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menyebut dengan apa jiwa itu dipasangkan maupun menurut apa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan pengelompokan jiwa-jiwa sesuai amal masing-masing, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 72 ayat, antara lain 2:35, 4:1, 30:21, 36:36, dan 78:8. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai pasangan suami istri, sedangkan di sini ia menamai jiwa yang dipasangkan.
Al-Qur'an tidak menyebut dengan apa jiwa itu dipasangkan, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan itu. Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 81:14, dan 81:18.
Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya. Di sini dan di 81:14 akar itu menamai jiwa manusia, dan di 81:18 ia menamai subuh yang bernapas.
Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut manusia sendiri, sesudah enam ayat tentang alam, harta, dan binatang. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti enam kata pokok sebelumnya. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi, sehingga kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu sama seperti di enam ayat sebelumnya. Jadi tujuh ayat menggantung bersama, dan pokok kalimat yang dijanjikan masih tujuh ayat lagi jauhnya di 81:14.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 81:7, 81:14, dan 81:18. Di sini dan di 81:14 akar itu menamai jiwa manusia, dan di 81:18 ia menamai subuh yang bernapas. Jadi satu akar mengikat jiwa dan napas pagi tanpa satu kalimat penghubung dari Allah. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat jiwa manusia dan napas pagi di surah ini. Jiwa yang dipasangkan tidak diberi tahu dengan apa ia dipasangkan.
- Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 72 ayat, antara lain 2:35, 4:1, 30:21, 36:36, dan 78:8. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai pasangan suami istri, sedangkan di sini ia menamai jiwa yang dipasangkan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar pasangan untuk jiwa yang dipasangkan. Jiwa yang dipasangkan tidak diberi tahu dengan apa ia dipasangkan.
- Allah tidak menyebut dengan apa jiwa itu dipasangkan, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan itu di dalam ayat ini maupun di ayat mana pun sesudahnya. Apa yang dibayangkan pembaca ketika ia diberi tahu jiwanya akan dipasangkan tanpa diberi tahu dengan apa? Ketiadaan keterangan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan kosong oleh susunan katanya. Akar yang menamai pasangan suami istri dipakai untuk pengelompokan jiwa.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sama seperti bentuk di 81:1, 81:3, 81:4, dan 81:6. Jadi lima ayat di dalam rangkaian ini memakai bentuk yang sama persis sampai ke polanya tanpa satu kata pembeda dari Allah. Kesejajaran itu berlaku sampai ke polanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa lima ayat memakai bentuk kata kerja yang sama persis. Akar yang menamai pasangan suami istri dipakai untuk pengelompokan jiwa.
- Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut manusia sendiri, sesudah enam ayat tentang alam, harta, dan binatang. Jadi urutan Allah bergerak dari yang paling jauh kepada yang paling dekat tanpa satu kata penanda di antaranya. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa manusia disebut sesudah enam benda di luar dirinya di dalam rangkaiannya. Jiwa yang dipasangkan tidak diberi tahu dengan apa ia dipasangkan.
- Susunan ayat ini sejajar dengan susunan enam ayat sebelumnya, dan ia tetap tidak memuat kalimat pokok. Jadi tujuh ayat menggantung bersama, dan pokok kalimat yang dijanjikan Allah masih tujuh ayat lagi jauhnya di 81:14. Yang tersedia bagi pembacanya cuma tujuh gambaran yang sudah lewat, dan kalimat pokoknya masih tujuh ayat lagi jauhnya di dalam susunan surahnya. Jiwa yang dipasangkan tidak diberi tahu dengan apa ia dipasangkan. Akar yang menamai pasangan suami istri dipakai untuk pengelompokan jiwa.