وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ
Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْwa-idzaa l-maw'uudatu su'ilatdan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- الْمَوْءُودَةُl-maw'uudatubayi perempuan yang dikubur hidup-hidup
- سُئِلَتْsu'ilatditanya
Inti bacaan
Tanda kedelapan yang mengangkat kejahatan tersembunyi: 'dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya', pengungkapan praktik kejam yang pernah dilakukan secara diam-diam, momen ketika korban yang tak berdaya akhirnya diberi suara.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْمَوْءُودَةُ, al-mau-uudah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mengubur hidup-hidup. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Ini akar ketiga dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Jadi separuh hampir genap dari kelangkaan surah ini sudah muncul di delapan ayat pertamanya. Kata (سُئِلَتْ, su-ilat) di sini berbentuk penderita dan berpola pertama.
Kata kerja (سُئِلَتْ, su-ilat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti bertanya dan meminta. Ia dipakai di 118 ayat, antara lain 2:186, 17:36, 21:23, 37:24, dan 102:8. Di 17:36 dan 102:8 akar itu dipakai untuk manusia yang akan ditanyai atas perbuatannya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di tempat lain yang ditanyai pelakunya, dan di sini yang ditanyai justru korbannya. Jadi arah pertanyaannya dibalik, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk (الْمَوْءُودَةُ, al-mau-uudah) berbentuk penderita dan berbentuk perempuan tunggal, sehingga yang disebut satu anak perempuan, bukan kumpulan. Jadi ia satu-satunya pokok kalimat berbentuk tunggal di dalam rangkaian ini sesudah 81:1.
Bentuk (سُئِلَتْ, su-ilat) berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5. Jadi dua ayat di dalam rangkaian ini memakai pola yang lebih sederhana daripada lima ayat lainnya.
Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut perbuatan manusia atas manusia, sesudah tujuh ayat tentang alam, harta, binatang, dan jiwa. Jadi kekejaman disebut paling akhir di antara benda-benda yang disebutkan.
Ayat ini dan 81:9 satu kalimat yang dipisah, sebab pertanyaan yang diajukan baru disebut di ayat sesudahnya. Jadi dua ayat itu terikat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa isi pertanyaannya.
Kata (الْمَوْءُودَةُ, al-mau-uudah) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti tujuh kata pokok sebelumnya. Jadi delapan ayat pertama rangkaiannya dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma bendanya serta kata kerjanya di masing-masing ayat.
Bentuk (سُئِلَتْ, su-ilat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, sama seperti di tujuh ayat sebelumnya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata penegas pun di dalam ayat ini maupun di ayat sesudahnya. Susunan itu menaruh satu kekejaman di tengah daftar tanda-tanda kehancuran alam, tanpa satu kata penanda yang membedakannya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang membunuhnya maupun kapan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta pertanyaan yang menyusulnya.
Tafsiran
Ayat ini menyoroti pertanggungjawaban atas kekejaman pembunuhan bayi perempuan, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar ketiga dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat.
Kata kerjanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 118 ayat, antara lain 2:186, 17:36, 21:23, 37:24, dan 102:8. Di 17:36 dan 102:8 akar itu dipakai untuk manusia yang akan ditanyai atas perbuatannya.
Jadi di tempat lain yang ditanyai pelakunya, dan di sini yang ditanyai justru korbannya. Arah pertanyaannya dibalik, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu dengan satu kalimat pun.
Ayat ini dan 81:9 satu kalimat yang dipisah, sebab pertanyaan yang diajukan baru disebut di ayat sesudahnya. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti tujuh kata pokok sebelumnya. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi, sehingga kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu tanpa satu kata penegas pun. Jadi kekejaman disebut paling akhir di antara benda-benda yang disebutkan, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan jenisnya dengan satu kata pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 118 ayat, antara lain 2:186, 17:36, 21:23, 37:24, dan 102:8. Di 17:36 dan 102:8 akar itu dipakai untuk manusia yang ditanyai atas perbuatannya, sedangkan di sini yang ditanyai justru korbannya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pembalikan arah pertanyaan dari pelaku kepada korban. Yang ditanyai bukan pelakunya melainkan korbannya sendiri.
- Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar ketiga dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan Allah tidak menyediakan satu pembanding pun untuk menerangkannya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan tujuh akar langka di dalam satu surah. Yang ditanyai bukan pelakunya melainkan korbannya sendiri.
- Bentuk kata keduanya berbentuk penderita dan berbentuk perempuan tunggal, sehingga yang disebut satu anak perempuan, bukan kumpulan. Jadi ia satu-satunya pokok kalimat berbentuk tunggal di dalam rangkaian ini sesudah 81:1, dan Allah tidak menerangkan pengecualian itu. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan katanya, dan terjemahan yang memakai bentuk jamak akan menghapus ketunggalan yang dinyatakan susunannya. Satu kekejaman ditaruh di tengah daftar kehancuran alam semesta.
- Ayat ini yang pertama di dalam rangkaiannya yang menyebut perbuatan manusia atas manusia, sesudah tujuh ayat tentang alam, harta, binatang, dan jiwa. Apa yang dinyatakan Allah dengan menaruh satu kekejaman di tengah daftar tanda-tanda kehancuran alam semesta? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu kekejaman ditaruh di tengah daftar tanda-tanda kehancuran alam semesta. Yang ditanyai bukan pelakunya melainkan korbannya sendiri.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5. Jadi dua ayat di dalam rangkaian ini memakai pola yang lebih sederhana daripada lima ayat lainnya, dan Allah tidak menandai perbedaan itu dengan satu kata pun. Perbedaan pola itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan delapan ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan pola masing-masing. Satu kekejaman ditaruh di tengah daftar kehancuran alam semesta.
- Ayat ini dan 81:9 satu kalimat yang dipisah, sebab pertanyaan yang diajukan baru disebut Allah di ayat sesudahnya. Jadi dua ayat itu terikat, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa isi pertanyaannya sama sekali. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa isi pertanyaan yang baru disebut di ayat sesudahnya. Satu kekejaman ditaruh di tengah daftar kehancuran alam semesta. Satu kekejaman ditaruh di tengah daftar kehancuran alam semesta.