بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ
Karena dosa apa dia dibunuh,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْbi-ayyi dzanbin qutilatkarena dosa apa dia dibunuh
Terjemahan per kata (3 kata)
- بِأَيِّbi-ayyidengan apa
- ذَنْبٍdzanbindosa
- قُتِلَتْqutilatdibunuh
Inti bacaan
Pertanyaan yang menuntut akuntabilitas: 'karena dosa apa dia dibunuh', konfrontasi langsung terhadap ketidakadilan mendasar, korban yang tidak bersalah diberi kesempatan menyuarakan ketidakadilan yang dialaminya, penegasan bahwa kekejaman terhadap yang tak berdaya tidak akan luput dari pertanggungjawaban.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (قُتِلَتْ, qutilat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti membunuh. Ia dipakai di 170 ayat, antara lain 2:191, 4:92, 5:32, 17:31, dan 85:4. Di 17:31 akar itu dipakai untuk larangan membunuh anak karena takut miskin.
Kesejajaran dengan 17:31 patut dicatat, sebab di sana perbuatan yang sama dilarang dengan menyebut sebabnya, sedangkan di sini justru sebabnya yang ditanyakan. Jadi dua tempat memakai akar yang sama dari dua arah yang berlawanan.
Kata (ذَنْبٍ, dzanbin) berasal dari akar yang berarti ekor dan dosa yang menyusul. Akar itu cuma dipakai di 37 ayat, antara lain 3:16, 12:29, 40:11, 47:19, dan 91:14. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai dosa yang diampuni atau dosa yang menyebabkan azab.
Jadi akar yang di puluhan ayat menamai dosa yang benar-benar ada, di sini dipakai di dalam pertanyaan tentang dosa yang tidak ada. Al-Qur'an tidak menerangkan pembalikan itu dengan satu kalimat pun. Kata (قُتِلَتْ, qutilat) di sini berbentuk penderita, sehingga pelakunya tidak disebut.
Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan, dan itu satu-satunya pertanyaan di dalam rangkaian tiga belas ayat ini. Jadi rangkaian yang seluruhnya berupa keterangan waktu disela satu pertanyaan, dan Al-Qur'an tidak menandai penyelaan itu.
Kata (ذَنْبٍ, dzanbin) tidak bertakrif, sehingga yang ditanyakan dosa apa pun, bukan satu dosa tertentu. Jadi pertanyaannya mencakup seluruh kemungkinan, dan tidak ada satu jawaban pun yang tersedia baginya.
Bentuk (قُتِلَتْ, qutilat) berbentuk penderita, sehingga pelakunya tidak disebutkan. Jadi pertanyaan itu diajukan tanpa menyebut kepada siapa ia dialamatkan, dan Al-Qur'an tidak melengkapi keterangan itu.
Ayat ini melengkapi pertanyaan yang dibuka di 81:8, dan sesudahnya 81:10 kembali kepada rangkaian keterangan waktu. Jadi dua ayat itu satu selaan di tengah rangkaiannya, dan rangkaian itu berjalan lagi tanpa satu kata penghubung.
Kata (بِأَيِّ, bi-ayyi) tersusun dari huruf ba dan kata tanya, sehingga yang ditanyakan sebab, bukan tempat maupun waktu. Jadi arah pertanyaannya ditentukan susunan hurufnya sendiri, dan menggantinya akan mengubah seluruh apa yang ditanyakan di dalam ayat ini.
Kata (قُتِلَتْ, qutilat) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokok di 81:8. Jadi ayat ini melanjutkan kalimat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang ditanyai maupun yang dibunuh. Susunan itu membuat pertanyaannya terbaca sebagai kecaman, bukan sebagai permintaan keterangan. Al-Qur'an tidak menyebut kepada siapa pertanyaan itu dialamatkan maupun jawabannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang menyela rangkaian panjang di sekitarnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan ketiadaan dosa bayi tersebut sebagai kecaman terhadap kekejaman itu, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 170 ayat, antara lain 2:191, 4:92, 5:32, 17:31, dan 85:4. Di 17:31 akar itu dipakai untuk larangan membunuh anak karena takut miskin.
Kesejajaran dengan 17:31 patut dicatat, sebab di sana perbuatan yang sama dilarang dengan menyebut sebabnya, sedangkan di sini justru sebabnya yang ditanyakan.
Kata ketiganya berasal dari akar yang cuma dipakai di 37 ayat, antara lain 3:16, 12:29, 40:11, 47:19, dan 91:14. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai dosa yang diampuni atau dosa yang menyebabkan azab.
Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan, dan itu satu-satunya pertanyaan di dalam rangkaian tiga belas ayat ini. Kata pertamanya tersusun dari huruf dan kata tanya, sehingga yang ditanyakan sebab, bukan tempat maupun waktu. Kata terakhirnya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokok di 81:8, sehingga ayat ini melanjutkan kalimat sebelumnya dan tidak bisa berdiri sendiri. Jadi rangkaian yang seluruhnya berupa keterangan waktu disela satu pertanyaan, dan rangkaian itu berjalan lagi di 81:10 tanpa satu kata penghubung pun di antara keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 170 ayat, antara lain 2:191, 4:92, 5:32, 17:31, dan 85:4. Di 17:31 akar itu dipakai untuk larangan membunuh anak karena takut miskin, sedangkan di sini sebabnya justru ditanyakan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian akar yang sama dari dua arah berlawanan. Pertanyaan tentang dosa yang tidak ada adalah kecaman yang paling telak.
- Kata ketiganya berasal dari akar yang cuma dipakai di 37 ayat, antara lain 3:16, 12:29, 40:11, 47:19, dan 91:14. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai dosa yang benar-benar ada, sedangkan di sini Allah memakainya di dalam pertanyaan tentang dosa yang tidak ada. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar dosa di dalam pertanyaan ini. Satu-satunya pertanyaan di dalam rangkaian panjang itu menyela tepat di sini.
- Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan, dan itu satu-satunya pertanyaan di dalam rangkaian tiga belas ayat ini. Jadi rangkaian yang seluruhnya berupa keterangan waktu disela satu pertanyaan dari Allah, dan Al-Qur'an tidak menandai penyelaan itu dengan satu kata pun. Bentuk itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu pertanyaan menyela rangkaian yang seluruhnya berupa keterangan waktu. Satu-satunya pertanyaan di dalam rangkaian panjang itu menyela tepat di sini.
- Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang ditanyakan dosa apa pun, bukan satu dosa tertentu. Jadi pertanyaan Allah mencakup seluruh kemungkinan, dan tidak ada satu jawaban pun yang tersedia baginya di dalam surah ini maupun di ayat mana pun. Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit pertanyaan yang mencakup seluruh kemungkinan. Pertanyaan tentang dosa yang tidak ada adalah kecaman yang paling telak.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita, sehingga pelakunya tidak disebutkan. Jadi pertanyaan itu diajukan tanpa Allah menyebut kepada siapa ia dialamatkan, dan Al-Qur'an tidak melengkapi keterangan itu di ayat mana pun sesudahnya. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderitanya. Pertanyaan tentang dosa yang tidak ada adalah kecaman yang paling telak. Pertanyaan tentang dosa yang tidak ada adalah kecaman yang paling telak.
- Ayat ini melengkapi pertanyaan yang dibuka di 81:8, dan sesudahnya 81:10 kembali kepada rangkaian keterangan waktu. Apa yang dikerjakan sebuah pertanyaan pada pembacanya ketika ia disisipkan Allah di tengah daftar tanda-tanda kehancuran alam? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menambahkan jawabannya berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya sendiri. Satu-satunya pertanyaan di dalam rangkaian panjang itu menyela tepat di sini.