وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ
Dan apabila lembaran-lembaran dibentangkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْwa-idzaa sh-shuhufu nusyiratdan apabila lembaran-lembaran dibentangkan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- الصُّحُفُsh-shuhufulembaran-lembaran
- نُشِرَتْnusyiratdisebarkan
Inti bacaan
Tanda kesepuluh tentang pengungkapan catatan: 'dan apabila lembaran-lembaran dibentangkan', momen transparansi penuh ketika seluruh riwayat perbuatan menjadi terbuka untuk diperiksa.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الصُّحُفُ, ash-shuhuf) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti lembaran tulisan. Ia cuma dipakai di 9 ayat, antara lain 20:133, 53:36, 74:52, 87:18, dan 98:2.
Kesejajaran dengan 87:18 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk lembaran-lembaran terdahulu, dan surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Jadi satu akar menamai kitab para nabi dan catatan amal manusia. Kata (نُشِرَتْ, nusyirat) di sini berbentuk penderita dan berpola pertama.
Kata kerja (نُشِرَتْ, nusyirat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti membentangkan. Ia cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 7:57, 18:16, 25:47, 43:11, dan 77:3. Kesejajaran dengan 77:3 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama.
Jadi akar yang di 77:3 menamai angin yang menyebarkan, di sini menamai catatan yang dibentangkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (الصُّحُفُ, ash-shuhuf) mendahuluinya, dan ia berbentuk jamak bertakrif.
Bentuk (نُشِرَتْ, nusyirat) berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5 dan 81:8. Jadi tiga ayat di dalam rangkaian ini memakai pola yang lebih sederhana daripada lima ayat lainnya.
Kata (الصُّحُفُ, ash-shuhuf) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh catatan, bukan sebagian. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu catatan pun yang dikecualikan.
Ayat ini kembali kepada rangkaian keterangan waktu sesudah dua ayat selaan di 81:8 dan 81:9. Jadi rangkaiannya berjalan lagi tanpa satu kata penghubung, dan Al-Qur'an tidak menandai kembalinya itu.
Ayat ini bagian kesepuluh dari rangkaian tiga belas tanda, dan tiga ayat sisanya menyusul sebelum kalimat pokoknya datang. Jadi pembacanya sudah menahan sepuluh gambaran, dan tiga lagi masih menunggu.
Kata (الصُّحُفُ, ash-shuhuf) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti kata pokok di delapan ayat sebelumnya. Jadi rangkaiannya kembali kepada rangka yang sama sesudah dua ayat selaan, dan Al-Qur'an tidak menandai kembalinya itu dengan satu kata pun.
Bentuk (نُشِرَتْ, nusyirat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, sama seperti di delapan ayat sebelumnya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata penegas pun untuk menyatakannya. Susunan itu mengembalikan pembacanya kepada rangkaian keterangan waktu sesudah dua ayat selaan. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang membentangkan catatan itu maupun apa isinya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta letaknya di dalam rangkaian yang belum selesai.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan dibukanya catatan amal setiap jiwa, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 9 ayat, antara lain 20:133, 53:36, 74:52, 87:18, dan 98:2.
Kesejajaran dengan 87:18 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk lembaran-lembaran terdahulu, dan surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.
Kata kerjanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 7:57, 18:16, 25:47, 43:11, dan 77:3. Kesejajaran dengan 77:3 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama.
Jadi akar yang di 77:3 menamai angin yang menyebarkan, di sini menamai catatan yang dibentangkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Ayat ini kembali kepada rangkaian keterangan waktu sesudah dua ayat selaan di 81:8 dan 81:9. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti kata pokok di delapan ayat sebelumnya. Jadi rangkaiannya kembali kepada rangka yang sama sesudah dua ayat selaan, dan Al-Qur'an tidak menandai kembalinya itu dengan satu kata pun. Jadi pembacanya sudah menahan sepuluh gambaran, dan tiga gambaran lagi masih menunggu sebelum kalimat pokoknya datang.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata keduanya cuma dipakai di 9 ayat, antara lain 20:133, 53:36, 74:52, 87:18, dan 98:2. Di 87:18 akar yang sama dipakai Allah untuk lembaran-lembaran terdahulu. Jadi satu akar menamai kitab para nabi dan catatan amal manusia tanpa satu kalimat penghubung. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk kitab nabi dan catatan amal. Akar yang menamai lembaran para nabi dipakai juga untuk catatan amal manusia.
- Akar kata kerjanya cuma dipakai di 20 ayat, antara lain 7:57, 18:16, 25:47, 43:11, dan 77:3. Di 77:3 akar itu dipakai Allah untuk angin yang menyebarkan, sedangkan di sini ia menamai catatan yang dibentangkan pada hari itu. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk angin dan untuk catatan. Catatan yang dibentangkan tidak menyisakan satu perbuatan pun tersembunyi.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5 dan 81:8. Jadi tiga ayat di dalam rangkaian ini memakai pola yang lebih sederhana daripada lima ayat lainnya, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan pola itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan sepuluh ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan pola masing-masing. Catatan yang dibentangkan tidak menyisakan satu perbuatan pun tersembunyi.
- Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh catatan, bukan sebagian. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan tidak ada satu catatan pun yang dikecualikan di dalam ayat ini walau sekali. Ketiadaan pengecualian itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh penakrifannya. Akar yang menamai lembaran para nabi dipakai juga untuk catatan amal manusia.
- Ayat ini kembali kepada rangkaian keterangan waktu sesudah dua ayat selaan di 81:8 dan 81:9. Jadi rangkaiannya berjalan lagi tanpa satu kata penghubung, dan Allah tidak menandai kembalinya itu dengan apa pun di dalam susunannya. Kembalinya itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa rangkaian yang tersela sudah berjalan lagi di ayat ini. Catatan yang dibentangkan tidak menyisakan satu perbuatan pun tersembunyi. Catatan yang dibentangkan tidak menyisakan satu perbuatan pun tersembunyi.
- Ayat ini bagian kesepuluh dari rangkaian tiga belas tanda, dan tiga ayat sisanya menyusul sebelum kalimat pokoknya datang. Apa yang tersisa pada pembacanya ketika ia harus menahan sepuluh gambaran sekaligus tanpa satu kalimat yang selesai? Yang tersedia bagi pembacanya cuma sepuluh gambaran yang sudah lewat, dan tiga gambaran lagi masih menunggu sebelum kalimat pokoknya datang. Akar yang menamai lembaran para nabi dipakai juga untuk catatan amal manusia.