وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ

Dan apabila langit disingkap,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْwa-idzaa s-samaa'u kusyithatdan apabila langit disingkap

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. السَّمَاءُs-samaa'ulangit
  3. كُشِطَتْkusyithatdilenyapkan

Inti bacaan

Tanda kesebelas tentang penyingkapan langit: 'dan apabila langit dikuliti-disingkap', metafora pengelupasan yang menegaskan bahwa bahkan struktur langit yang menutupi memiliki lapisan yang bisa disingkapkan.

Penjelasan pilihan kata

Kata majemuk ganjil "dikuliti-disingkap" disederhanakan menjadi "disingkap" saja. Kata (كُشِطَتْ, kusyithat) di sini berbentuk penderita dan berpola pertama.

Kata kerja (كُشِطَتْ, kusyithat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mengelupas penutupnya. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar keempat dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga sisanya berada di 81:16, 81:17, dan 81:24, sehingga empat dari tujuhnya sudah muncul sebelum ayat kedua belas. Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) mendahuluinya, dan ia berbentuk tunggal bertakrif.

Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) berasal dari akar yang berarti tinggi menjulang. Akar itu dipakai di 352 ayat, antara lain 2:22, 7:40, 21:30, 41:11, dan 82:1. Kesejajaran dengan 82:1 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan juga membuka dengan langit.

Jadi dua surah yang bersebelahan sama-sama menyebut langit di dalam rangkaian tanda kehancuran, dan yang di 82:1 memakainya sebagai ayat pembuka sedangkan yang di sini menaruhnya di ayat kesebelas.

Bentuk (كُشِطَتْ, kusyithat) berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5, 81:8, dan 81:10. Jadi empat ayat di dalam rangkaian ini memakai pola yang lebih sederhana.

Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) berbentuk tunggal dan bertakrif, sedangkan sembilan pokok kalimat sebelumnya kebanyakan berbentuk jamak. Jadi ia salah satu dari sedikit pokok tunggal di dalam rangkaian ini bersama 81:1 dan 81:8.

Ayat ini bagian kesebelas dari rangkaian tiga belas tanda, dan dua ayat sisanya menyebut neraka dan taman. Jadi rangkaiannya ditutup dengan dua tempat akhirat, sesudah sebelas ayat tentang dunia yang runtuh.

Kata (كُشِطَتْ, kusyithat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokok yang mendahuluinya. Jadi susunannya sejajar dengan susunan sepuluh ayat sebelumnya, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata penghubung pun di dalam surahnya.

Kata (وَإِذَا, wa idzaa) diulang dari sembilan ayat sebelumnya, sehingga dua kata itu muncul sepuluh kali berturut-turut. Jadi pengulangan sepadat itu tidak ada di surah mana pun di juz ini, dan yang bisa dicatat cuma bahwa Al-Qur'an tidak menerangkannya. Susunan itu menaruh langit di ayat kesebelas, bukan di ayat pembuka seperti di surah tetangganya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menyingkap langit maupun apa yang tampak di baliknya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran kosmis dengan tersingkapnya langit, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga sisanya berada di 81:16, 81:17, dan 81:24.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 352 ayat, antara lain 2:22, 7:40, 21:30, 41:11, dan 82:1. Kesejajaran dengan 82:1 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan juga membuka dengan langit.

Jadi dua surah yang bersebelahan sama-sama menyebut langit di dalam rangkaian tanda kehancuran, dan yang di 82:1 memakainya sebagai ayat pembuka sedangkan yang di sini menaruhnya di ayat kesebelas.

Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5, 81:8, dan 81:10. Kata pertamanya diulang dari sembilan ayat sebelumnya, sehingga dua kata itu muncul sepuluh kali berturut-turut. Jadi pengulangan sepadat itu tidak ada di surah mana pun di juz ini, dan yang bisa dicatat cuma bahwa Al-Qur'an tidak menerangkannya dengan satu kalimat pun. Jadi rangkaiannya ditutup dengan dua tempat akhirat di 81:12 dan 81:13, sesudah sebelas ayat tentang dunia yang runtuh.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar keempat dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga sisanya berada di 81:16, 81:17, dan 81:24. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan empat hapax akar di sebelas ayat pertama. Langit yang disingkap membuka apa yang selama ini tertutup dari pandangan.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 352 ayat, antara lain 2:22, 7:40, 21:30, 41:11, dan 82:1. Kesejajaran dengan 82:1 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan juga membuka rangkaian tanda kehancurannya dengan langit. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian benda yang sama di dua surah bersebelahan. Empat hapax akar sudah muncul sebelum ayat kedua belas surah ini.
  • Di 82:1 langit disebut sebagai ayat pembuka rangkaiannya, sedangkan di sini Allah menaruhnya di ayat kesebelas. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai benda yang sama di dua letak yang berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan letak itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua surahnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan letak masing-masing. Langit yang disingkap membuka apa yang selama ini tertutup dari pandangan.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola pertama, sama seperti bentuk di 81:5, 81:8, dan 81:10. Jadi empat ayat di dalam rangkaian ini memakai pola yang lebih sederhana, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan pola itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa sebelas ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan pola masing-masing. Langit yang disingkap membuka apa yang selama ini tertutup dari pandangan.
  • Kata keduanya berbentuk tunggal dan bertakrif, sedangkan sembilan pokok kalimat sebelumnya kebanyakan berbentuk jamak. Jadi ia salah satu dari sedikit pokok tunggal di dalam rangkaian ini bersama 81:1 dan 81:8, dan Allah tidak menandai perbedaan itu. Perbedaan bentuk itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa pokok tunggal jarang dipakai di dalam rangkaian yang panjang ini. Empat hapax akar sudah muncul sebelum ayat kedua belas surah ini.
  • Ayat ini bagian kesebelas dari rangkaian tiga belas tanda, dan dua ayat sisanya menyebut neraka dan taman. Apa yang dikerjakan sebuah daftar pada pembacanya ketika Allah menutup sebelas gambaran dunia yang runtuh dengan dua tempat akhirat? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua tempat akhirat ditaruh paling akhir di dalam rangkaian gambarannya. Empat hapax akar sudah muncul sebelum ayat kedua belas surah ini. Langit yang disingkap membuka apa yang selama ini tertutup dari pandangan.