Ayat 81:15

فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ

Maka Aku bersumpah demi yang bersembunyi,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِfa-laa uqsimu bi-l-khunnasimaka Aku bersumpah demi yang bersembunyi

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَلَاfa-laamaka
  2. أُقْسِمُuqsimuAku bersumpah
  3. بِالْخُنَّسِbi-l-khunnasidemi bintang yang beredar

Inti bacaan

Sumpah baru yang mengarah pada topik berbeda: 'maka Aku bersumpah demi (bintang-bintang) yang bersembunyi', transisi menuju rangkaian sumpah kedua yang akan mengarah pada pembelaan terhadap wahyu dan pembawanya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(bintang-bintang)" tidak dipakai: identitas "al-khunnas" tidak dirinci eksplisit dalam Arab pada ayat ini.

Kata (بِالْخُنَّسِ, bi-l-khunnas) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mundur dan bersembunyi. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 81:15 dan 114:4.

Kesejajaran dengan 114:4 patut dicatat, sebab surah itu ayat penutup mushaf, dan di sana akar yang sama dipakai untuk pembisik yang bersembunyi. Jadi satu akar menamai yang disumpahi di sini dan yang dimintakan perlindungan di sana.

Rangkaian (فَلَا أُقْسِمُ, fa-laa uqsimu) muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16. Jadi dua dari lima tempat itu berada di juz yang sama dengan surah ini.

Huruf laa di dalam (فَلَا أُقْسِمُ, fa-laa uqsimu) tidak menyatakan pengingkaran atas sumpahnya, sebab sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan tiga ayat sesudahnya. Jadi bentuknya menegaskan, bukan menolak.

Kata (بِالْخُنَّسِ, bi-l-khunnas) bertakrif, sehingga yang disumpahi jenis yang dianggap dikenali. Jadi Al-Qur'an menunjuk sesuatu tanpa menamainya, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tambahan di dalam ayat ini maupun di ayat sesudahnya.

Ayat ini membuka rangkaian sumpah, sesudah empat belas ayat tentang hari kiamat. Jadi surah ini memuat dua bagian pembuka yang berbeda jenisnya, dan yang pertama tiga belas ayat sedangkan yang kedua empat ayat.

Bentuk (أُقْسِمُ, uqsimu) berorang pertama tunggal, sehingga Yang bersumpah menyebut diri-Nya sendiri. Jadi ia berbeda dari sumpah yang dinyatakan lewat huruf di depan bendanya, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Kata (أُقْسِمُ, uqsimu) berasal dari akar yang berarti membagi dan bersumpah. Akar itu dipakai di 31 ayat, antara lain 5:53, 6:109, 16:38, 35:42, dan 90:1. Kesejajaran dengan 90:1 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dan juga membuka dengan sumpah yang memakai akar ini di ayat pertamanya, tanpa satu kalimat penghubung di antara keduanya.

Huruf ba di depan (بِالْخُنَّسِ, bi-l-khunnas) huruf sumpah, bukan huruf sarana, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Jadi kedudukan hurufnya yang menentukan seluruh bacaan ayatnya, dan menggantinya akan mengubah sumpah menjadi keterangan alat. Susunan itu membuka bagian baru sesudah empat belas ayat tentang hari kiamat berhenti, dan peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun di antara dua bagiannya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang disumpahi maupun mengapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta tiga ayat sumpah yang menyusul tanpa satu nama pun.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian sumpah baru untuk menegaskan kebenaran wahyu, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 81:15 dan 114:4.

Kesejajaran dengan 114:4 patut dicatat, sebab surah itu ayat penutup mushaf, dan di sana akar yang sama dipakai untuk pembisik yang bersembunyi. Jadi satu akar menamai yang disumpahi di sini dan yang dimintakan perlindungan di sana.

Rangkaian dua kata pertamanya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16. Jadi dua dari lima tempat itu berada di juz yang sama dengan surah ini.

Huruf kedua di dalam kata pertamanya tidak menyatakan pengingkaran atas sumpahnya, sebab sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan tiga ayat sesudahnya.

Ayat ini membuka rangkaian sumpah, sesudah empat belas ayat tentang hari kiamat. Akar kata keduanya dipakai di 31 ayat, antara lain 5:53, 6:109, 16:38, 35:42, dan 90:1. Kesejajaran dengan 90:1 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dan juga membuka dengan sumpah yang memakai akar ini di ayat pertamanya. Jadi surah ini memuat dua bagian pembuka yang berbeda jenisnya, dan yang pertama tiga belas ayat sedangkan yang kedua empat ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 81:15 dan 114:4. Di 114:4 akar yang sama dipakai untuk pembisik yang bersembunyi. Jadi satu akar menamai yang disumpahi Allah di sini dan yang dimintakan perlindungan di sana. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar di dua ujung mushaf yang berjauhan. Satu akar menghubungkan ayat ini dengan ayat penutup mushaf.
  • Rangkaian dua kata pertamanya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16. Jadi dua dari lima tempat itu berada di juz yang sama dengan surah ini, dan Allah memakai pembuka sumpah yang sama di dua surah berdekatan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan dua dari lima pemakaiannya di satu juz. Satu akar menghubungkan ayat ini dengan ayat penutup mushaf.
  • Huruf kedua di dalam kata pertamanya tidak menyatakan pengingkaran atas sumpahnya, sebab sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan tiga ayat sesudahnya. Jadi bentuknya menegaskan, bukan menolak, dan Allah tidak menerangkan bentuk itu dengan satu kalimat pun. Bentuk itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan tiga ayat yang menyusulnya. Sumpah yang bendanya tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disumpahi jenis yang dianggap dikenali. Apa yang dikerjakan sebuah sumpah pada pembacanya ketika Allah menunjuk sesuatu tanpa menamainya, dan tidak satu ayat pun sesudahnya melengkapi namanya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma sifat yang disebutkan, dan menamai bendanya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan susunan ayatnya sendiri. Satu akar menghubungkan ayat ini dengan ayat penutup mushaf. Sumpah yang bendanya tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri.
  • Ayat ini membuka rangkaian sumpah, sesudah empat belas ayat tentang hari kiamat. Jadi surah ini memuat dua bagian pembuka yang berbeda jenisnya, dan yang pertama tiga belas ayat sedangkan yang kedua empat ayat panjangnya. Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan dua jenis pembuka di dalam satu surah. Sumpah yang bendanya tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri. Satu akar menghubungkan ayat ini dengan ayat penutup mushaf.
  • Bentuk kata keduanya berorang pertama tunggal, sehingga Allah sebagai Yang bersumpah menyebut diri-Nya sendiri. Jadi ia berbeda dari sumpah yang dinyatakan lewat huruf di depan bendanya, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan kehadiran Yang bersumpah di dalam kalimatnya. Sumpah yang bendanya tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri.

Ayat 81:16

الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

Yang beredar lagi terbenam,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الْجَوَارِ الْكُنَّسِal-jawaari l-kunnasiyang beredar lagi terbenam

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. الْجَوَارِal-jawaarikapal-kapal
  2. الْكُنَّسِl-kunnasiyang bersembunyi

Inti bacaan

Kelanjutan citra astronomis: 'yang beredar lagi terbenam', deskripsi pergerakan benda langit yang teratur, fenomena alam yang dijadikan saksi bagi pernyataan yang akan menyusul.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْكُنَّسِ, al-kunnas) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti menyapu dan menyurut ke sarang. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar kelima dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Dua sisanya berada di 81:17 dan 81:24, sehingga tiga hapax akar berkumpul di sembilan ayat terakhir surahnya. Kata (الْكُنَّسِ, al-kunnas) di sini berbentuk jamak dan bertakrif.

Kata (الْجَوَارِ, al-jawaar) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 5:4, 42:32, 55:24, dan 81:16. Di 42:32 dan 55:24 kata yang sama dipakai untuk kapal yang berlayar di lautan.

Jadi kata yang di dua tempat lain menamai kapal yang berlayar, di sini menamai sesuatu yang beredar di langit. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk katanya. Kata (الْجَوَارِ, al-jawaar) mendahuluinya, dan ia juga berbentuk jamak bertakrif.

Akar (الْجَوَارِ, al-jawaar) berarti mengalir. Akar itu dipakai di 64 ayat, antara lain 2:25, 11:42, 18:31, 36:38, dan 55:24. Di 36:38 akar itu dipakai untuk matahari yang beredar ke tempat peredarannya.

Kedua kata di ayat ini bertakrif dan berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:15. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang disifatinya. Kata (الْجَوَارِ, al-jawaar) berbaris kasrah mengikuti kata terakhir di 81:15.

Kedua kata di ayat ini menyebut sifat, bukan nama, sehingga yang disumpahi tetap tidak dinamai. Jadi dua ayat berturut-turut melukiskan sesuatu tanpa satu nama pun, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Kata (الْكُنَّسِ, al-kunnas) menutup ayatnya, dan ia menyifati benda yang tak dinamai.

Ayat ini bagian kedua dari rangkaian empat ayat sumpah, dan dua ayat sisanya menyebut malam dan subuh. Jadi rangkaiannya bergerak dari benda langit kepada dua waktu, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu.

Kata (الْجَوَارِ, al-jawaar) berbentuk jamak, sehingga yang disumpahi banyak, bukan satu. Jadi bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya, dan terjemahan yang memakai bentuk tunggal akan kehilangan keluasan yang dinyatakan susunannya sendiri.

Kata (الْكُنَّسِ, al-kunnas) berbentuk jamak dan bertakrif, sama seperti kata yang mendahuluinya. Jadi dua sifat di ayat ini sejajar bentuknya, dan keduanya terikat kepada satu benda yang tidak pernah dinamai di dalam surah ini. Susunan itu melanjutkan sumpahnya dengan dua sifat, bukan dengan benda baru. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang beredar itu maupun ke mana ia terbenam, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata yang bergantung penuh pada ayat sebelumnya untuk dimengerti.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sifat objek sumpah: beredar dan terbenam, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar kelima dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Dua sisanya berada di 81:17 dan 81:24.

Kata pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 5:4, 42:32, 55:24, dan 81:16. Di 42:32 dan 55:24 kata yang sama dipakai untuk kapal yang berlayar di lautan.

Jadi kata yang di dua tempat lain menamai kapal yang berlayar, di sini menamai sesuatu yang beredar di langit. Akarnya dipakai di 64 ayat, antara lain 2:25, 11:42, 18:31, 36:38, dan 55:24.

Kedua kata di ayat ini bertakrif dan berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:15. Kata pertamanya berbentuk jamak, sehingga yang disumpahi banyak, bukan satu. Kata terakhirnya berbentuk jamak dan bertakrif, sama seperti kata yang mendahuluinya, sehingga dua sifat di ayat ini sejajar bentuknya dan keduanya terikat kepada satu benda yang tidak pernah dinamai. Jadi rangkaiannya bergerak dari benda langit kepada dua waktu di 81:17 dan 81:18, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun di dalam surahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 5:4, 42:32, 55:24, dan 81:16. Di 42:32 dan 55:24 kata yang sama dipakai Allah untuk kapal yang berlayar di lautan, sedangkan di sini ia menamai sesuatu yang beredar di langit tanpa satu nama pun. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu kata untuk kapal dan untuk benda langit. Kata yang menamai kapal berlayar dipakai untuk benda yang beredar di langit.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kelima dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan dua sisanya berada di 81:17 dan 81:24. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan tujuh akar langka di dalam satu surah. Kata yang menamai kapal berlayar dipakai untuk benda yang beredar di langit. Kata yang menamai kapal berlayar dipakai untuk benda yang beredar di langit.
  • Akar kata pertamanya dipakai Allah di 64 ayat, antara lain 2:25, 11:42, 18:31, 36:38, dan 55:24. Di 36:38 akar itu dipakai untuk matahari yang beredar ke tempat peredarannya, sedangkan di sini ia menamai benda yang tidak disebut namanya. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara peredaran matahari dan benda ini dengan satu kalimat. Dua sifat tanpa nama menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya.
  • Kedua kata di ayat ini bertakrif dan berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:15. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang disifati Allah. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang sedang disifati susunannya. Dua sifat tanpa nama menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya.
  • Kedua kata di ayat ini menyebut sifat, bukan nama, sehingga yang disumpahi tetap tidak dinamai. Apa yang dikerjakan sebuah sumpah pada pembacanya ketika Allah melukiskan bendanya dengan dua sifat dan tidak pernah menyebut namanya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua sifat itu, dan menamai bendanya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan susunan ayatnya sendiri. Dua sifat tanpa nama menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya. Dua sifat tanpa nama menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya.
  • Ayat ini bagian kedua dari rangkaian empat ayat sumpah, dan dua ayat sisanya menyebut malam dan subuh. Jadi rangkaian Allah bergerak dari benda langit kepada dua waktu, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua benda langit disebut lebih dulu daripada dua waktu di dalam rangkaiannya. Kata yang menamai kapal berlayar dipakai untuk benda yang beredar di langit.