وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ

Dan demi malam apabila telah larut,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَwa-l-layli idzaa as'asadan demi malam apabila telah larut

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَاللَّيْلِwa-l-laylidan demi malam
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. عَسْعَسَas'asalarut

Inti bacaan

Sumpah demi waktu malam: 'dan demi malam apabila telah larut', penggunaan siklus waktu sebagai bukti tambahan, momen kegelapan yang mendalam sebagai bagian dari rangkaian sumpah.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (عَسْعَسَ, 'as'asa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti gelap yang datang lalu pergi. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan akar itu tersusun dari empat huruf, bukan tiga.

Ini akar keenam dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan satu sisanya berada di 81:24. Jadi tujuh akar langka berkumpul di dalam satu surah dua puluh sembilan ayat. Kata (عَسْعَسَ, 'as'asa) di sini berbentuk lampau dan berorang ketiga tunggal.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar berhuruf empat jarang dipakai di dalam Al-Qur'an, dan yang di sini malah tersusun dari dua suku yang diulang. Jadi bunyinya sendiri mengulang, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu. Kata (إِذَا, idzaa) mendahuluinya, dan ia menandai keadaan, bukan peristiwa besar.

Kata (إِذَا, idzaa) diulang dari rangkaian tiga belas ayat pembuka, sehingga kata itu muncul lagi di bagian sumpahnya. Jadi satu kata waktu dipakai di dua bagian surah yang berbeda jenisnya, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata (إِذَا, idzaa) di ayat ini menandai keadaan malam, bukan waktu peristiwa besar seperti di 81:1 sampai 81:13. Jadi satu kata dipakai untuk dua jenis keterangan yang berbeda, dan pembacanya harus menimbangnya dari susunan kalimatnya.

Bentuk (عَسْعَسَ, 'as'asa) berbentuk lampau, sehingga keadaan malam itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi ia sejajar dengan bentuk kata kerja di 81:18, dan dua ayat sumpah terakhir sama-sama memakai bentuk lampau.

Ayat ini bagian ketiga dari rangkaian empat ayat sumpah, dan susunannya sejajar dengan susunan 81:18. Jadi dua ayat terakhir rangkaiannya dibangun dengan rangka yang sama: benda, penanda waktu, lalu kata kerjanya.

Susunan ayat ini menaruh benda yang disumpahi lebih dulu dan keadaannya belakangan, berbeda dari 81:15 yang menaruh kata kerja sumpahnya lebih dulu. Jadi rangkaiannya berganti susunan di tengah jalan.

Kata (إِذَا, idzaa) berdiri di antara benda yang disumpahi dan keadaannya, sehingga ia mengikat keduanya menjadi satu satuan. Jadi yang disumpahi bukan malamnya begitu saja melainkan malam pada keadaan itu, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu kata saja.

Kata (عَسْعَسَ, 'as'asa) berbentuk lampau dan berorang ketiga tunggal, mengikuti benda yang mendahuluinya. Jadi ayat ini melanjutkan susunan yang sama seperti 81:18, dan dua ayat sumpah terakhir dibangun dengan rangka yang sama persis tanpa satu kata pembeda. Susunan itu berpindah dari benda langit kepada waktu, tanpa satu kata penanda yang membedakannya. Al-Qur'an tidak menyebut malam yang mana maupun apa arti keadaannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang salah satunya tidak berulang di tempat lain.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian sumpah dengan malam yang larut, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan akar itu tersusun dari empat huruf, bukan tiga. Ini akar keenam dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan satu sisanya berada di 81:24.

Akar berhuruf empat jarang dipakai di dalam Al-Qur'an, dan yang di sini malah tersusun dari dua suku yang diulang. Jadi bunyinya sendiri mengulang, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Kata keduanya diulang dari rangkaian tiga belas ayat pembuka, sehingga kata itu muncul lagi di bagian sumpahnya. Jadi satu kata waktu dipakai di dua bagian surah yang berbeda jenisnya.

Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, sehingga keadaan malam itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Kata keduanya berdiri di antara benda yang disumpahi dan keadaannya, sehingga ia mengikat keduanya menjadi satu satuan. Jadi yang disumpahi bukan malamnya begitu saja melainkan malam pada keadaan itu, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu kata saja tanpa keterangan tambahan. Jadi ayat ini bagian ketiga dari rangkaian empat ayat sumpah, dan susunannya sejajar dengan susunan 81:18 sampai ke urutan katanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat serta tersusun dari empat huruf, bukan tiga. Akar berhuruf empat jarang dipakai Allah, dan yang di sini malah tersusun dari dua suku yang diulang sehingga bunyinya sendiri mengulang. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan memeriksa korpus morfologi, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan akar berhuruf empat untuk ayat ini. Satu kata waktu dipakai di dua bagian surah yang berbeda jenisnya.
  • Ini akar keenam dari tujuh akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan satu sisanya berada di 81:24. Jadi tujuh akar langka berkumpul Allah di dalam satu surah dua puluh sembilan ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai pemusatan itu. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan tujuh akar langka di dalam satu surah. Akar berhuruf empat yang mengulang bunyinya sendiri melukiskan malam yang larut.
  • Kata keduanya diulang dari rangkaian tiga belas ayat pembuka, sehingga kata itu muncul lagi di bagian sumpahnya. Jadi satu kata waktu dipakai Allah di dua bagian surah yang berbeda jenisnya, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu kata waktu dipakai di dua bagian surah yang berbeda. Akar berhuruf empat yang mengulang bunyinya sendiri melukiskan malam yang larut.
  • Kata keduanya di ayat ini menandai keadaan malam, bukan waktu peristiwa besar seperti di 81:1 sampai 81:13. Jadi satu kata dipakai untuk dua jenis keterangan yang berbeda, dan pembacanya harus menimbangnya dari susunan kalimatnya, bukan dari bunyinya. Perbedaan kedudukan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua bagiannya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang sama. Akar berhuruf empat yang mengulang bunyinya sendiri melukiskan malam yang larut.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, sehingga keadaan malam itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi ia sejajar dengan bentuk kata kerja di 81:18, dan dua ayat sumpah terakhir sama-sama memakai bentuk lampau tanpa satu kata pembeda dari Allah. Kesejajaran itu berlaku sampai ke bentuknya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat sumpah terakhir memakai bentuk lampau yang sama. Satu kata waktu dipakai di dua bagian surah yang berbeda jenisnya.
  • Susunan ayat ini menaruh benda yang disumpahi lebih dulu dan keadaannya belakangan, berbeda dari 81:15 yang menaruh kata kerja sumpahnya lebih dulu. Apa yang berubah pada sebuah rangkaian sumpah ketika Allah mengganti susunannya di tengah jalan? Perbedaan susunan itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan membandingkan empat ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pergantiannya di tengah jalan. Satu kata waktu dipakai di dua bagian surah yang berbeda jenisnya.