Ayat 81:19
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
Sesungguhnya itu benar-benar perkataan utusan yang mulia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍinnahu la-qawlu rasuulin kariiminsesungguhnya itu benar-benar perkataan utusan yang mulia
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
- لَقَوْلُla-qawlubenar-benar perkataan
- رَسُولٍrasuulinrasul
- كَرِيمٍkariiminyang mulia
Inti bacaan
Penegasan sumber wahyu yang mulia: 'sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia', identifikasi jalur penyampaian yang terhormat, kredibilitas pembawa pesan sebagai jaminan keaslian.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(Al-Qur'an)", "(Allah yang dibawa oleh)", dan "(Jibril)" tidak dipakai total: "qawlu rasuulin" secara harfiah adalah "perkataan utusan itu sendiri", bukan "wahyu yang diturunkan kepada utusan", acuan koreksi sama dengan 69:40.
Rangkaian (لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ, la-qaulu rasuulin kariim) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:40 dan 81:19. Jadi dua surah memakai kalimat yang sama persis, dan tidak ada tempat ketiga yang memakainya.
Kesejajaran dengan 69:40 patut dicatat, sebab di sana rangkaian yang sama juga berdiri sebagai jawaban bagi rangkaian sumpah. Jadi dua surah memakai jawaban yang sama untuk sumpah yang bendanya berbeda.
Kata (قَوْلُ, qaulu) berasal dari akar yang berarti mengatakan. Akar itu dipakai di 1383 ayat, dan itu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 81:25.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini akar itu menamai perkataan utusan yang mulia, dan di 81:25 ia menamai perkataan setan yang terkutuk. Jadi satu akar mengikat dua sumber yang paling berlawanan di dalam satu surah. Kata (كَرِيمٍ, kariim) di sini tidak bertakrif, sama seperti kata sebelumnya.
Kata (رَسُولٍ, rasuulin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang utusan, bukan utusan tertentu yang sudah dikenal. Jadi Al-Qur'an tidak menamai siapa utusan itu, dan tiga ayat sesudahnya cuma menyebut sifatnya.
Huruf lam di dalam (لَقَوْلُ, la-qaulu) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.
Ayat ini membuka tiga ayat tentang utusan itu, dan ketiganya berjalan sampai 81:21. Jadi satu pihak diberi tiga ayat berturut-turut, dan seluruhnya cuma menyebut sifat tanpa satu nama pun.
Kata (كَرِيمٍ, kariim) berasal dari akar yang berarti mulia dan murah hati. Akar itu dipakai di 46 ayat, antara lain 12:31, 27:29, 44:17, 56:77, dan 82:6. Kesejajaran dengan 82:6 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan memakai akar yang sama sebagai gelar Allah.
Kata (رَسُولٍ, rasuulin) berasal dari akar yang berarti mengutus. Akar itu dipakai di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini tanpa satu nama pun yang menyertainya. Susunan itu menjawab empat ayat sumpah dengan satu pernyataan tentang sumber perkataan. Al-Qur'an tidak menyebut siapa utusan itu maupun perkataan yang mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata beserta dua ayat sifat yang menyusul sesudahnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa wahyu ini disampaikan oleh utusan yang mulia dan terpercaya, dan rangkaian tiga kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:40 dan 81:19.
Jadi dua surah memakai kalimat yang sama persis, dan tidak ada tempat ketiga yang memakainya. Kesejajaran dengan 69:40 patut dicatat, sebab di sana rangkaian yang sama juga berdiri sebagai jawaban bagi rangkaian sumpah.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 1383 ayat, dan itu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 81:25.
Di sini akar itu menamai perkataan utusan yang mulia, dan di 81:25 ia menamai perkataan setan yang terkutuk. Jadi satu akar mengikat dua sumber yang paling berlawanan di dalam satu surah.
Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang utusan, bukan utusan tertentu yang sudah dikenal. Akar kata terakhirnya dipakai di 46 ayat, antara lain 12:31, 27:29, 44:17, 56:77, dan 82:6. Kesejajaran dengan 82:6 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan memakai akar yang sama sebagai gelar Allah, bukan sebagai sifat seorang utusan. Jadi satu pihak diberi tiga ayat berturut-turut, dan seluruhnya cuma menyebut sifat tanpa satu nama pun di sepanjang ketiganya.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 1383 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 81:19 dan 81:25. Di sini akar itu menamai perkataan utusan yang mulia, dan di 81:25 ia menamai perkataan setan yang terkutuk. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua sumber berlawanan. Perkataan utusan yang mulia disebut tanpa satu nama pun mengiringinya.
- Rangkaian tiga kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:40 dan 81:19. Di 69:40 rangkaian yang sama juga berdiri sebagai jawaban bagi rangkaian sumpah Allah. Jadi dua surah memakai jawaban yang sama untuk sumpah yang bendanya berbeda. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kalimat yang sama di dua surah saja. Satu akar mengikat perkataan utusan mulia dan perkataan setan terkutuk.
- Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang disebut seorang utusan, bukan utusan tertentu yang sudah dikenal. Apa yang dijaga sebuah terjemahan ketika ia membiarkan utusan itu tanpa nama, alih-alih menyisipkan nama yang tidak ada di dalam Arabnya? Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh ketiadaan penakrifannya. Satu akar mengikat perkataan utusan mulia dan perkataan setan terkutuk.
- Huruf di dalam kata keduanya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini di mana pun. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua penegas berdiri di dalam satu ayat yang cuma empat kata. Satu akar mengikat perkataan utusan mulia dan perkataan setan terkutuk. Satu akar mengikat perkataan utusan mulia dan perkataan setan terkutuk.
- Ayat ini membuka tiga ayat tentang utusan itu, dan ketiganya berjalan sampai 81:21. Jadi satu pihak diberi Allah tiga ayat berturut-turut, dan seluruhnya cuma menyebut sifat tanpa satu nama pun di sepanjang ketiganya. Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemberian tiga ayat untuk satu pihak. Perkataan utusan yang mulia disebut tanpa satu nama pun mengiringinya. Perkataan utusan yang mulia disebut tanpa satu nama pun mengiringinya.
- Kata keduanya disandarkan langsung kepada utusan, sehingga yang dinyatakan perkataan utusan itu sendiri. Jadi terjemahan ini tidak menyisipkan keterangan bahwa yang dimaksud wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, dan susunan Arabnya dibiarkan apa adanya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan Arabnya, dan menyisipkan keterangan tentang siapa yang menurunkan berarti keluar dari apa yang tertulis. Perkataan utusan yang mulia disebut tanpa satu nama pun mengiringinya.
Ayat 81:20
ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ
Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi yang memiliki Arasy,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍdzii quwwatin 'inda dzii l-'arsyi makiininyang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi yang memiliki Arasy
Terjemahan per kata (6 kata)
- ذِيdziipemilik
- قُوَّةٍquwwatinkekuatan
- عِنْدَ'indadi sisi
- ذِيdziipemilik
- الْعَرْشِl-'arsyiArasy
- مَكِينٍmakiininyang kokoh
Inti bacaan
Kualifikasi lanjutan sang pembawa wahyu: 'yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki Arasy', penegasan status istimewa yang memperkuat kepercayaan terhadap keandalan penyampaian pesan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(Allah)" tidak dipakai: "dzii l-arshi" (yang memiliki Arasy) dibiarkan tanpa penambahan nama eksplisit yang tidak ada pada posisi ini dalam Arab.
Kata (مَكِينٍ, makiin) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 23:13, 77:21, dan 81:20. Kesejajaran dengan 77:21 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.
Di 23:13 dan 77:21 kata yang sama dipakai untuk tempat yang kokoh bagi air mani. Jadi kata yang di dua tempat lain menamai tempat penyimpanan, di sini menamai kedudukan seorang utusan. Kata (مَكِينٍ, makiin) di sini menutup ayatnya, dan ia berbaris kasrah.
Rangkaian (ذِي الْعَرْشِ, dzi l-'arsy) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 17:42 dan 81:20. Di 17:42 rangkaian itu dipakai di dalam bantahan terhadap orang yang mengatakan ada tuhan lain bersama-Nya.
Akar (الْعَرْشِ, al-'arsy) berarti bangunan yang ditinggikan. Akar itu dipakai di 32 ayat, antara lain 7:54, 20:5, 23:86, 69:17, dan 85:15. Kesejajaran dengan 85:15 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama.
Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:63, 8:60, 18:95, 30:54, dan 86:10. Kesejajaran dengan 86:10 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk manusia yang tidak punya kekuatan pada hari itu.
Jadi kata yang di 86:10 menyatakan ketiadaan kekuatan manusia, di sini menyatakan kekuatan utusan itu. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) mendahuluinya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.
Ketiga sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang disifatinya. Kata (ذِي, dzii) diulang di dalam ayat ini, sekali untuk utusan dan sekali untuk Pemilik Arasy.
Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang utusan itu, dan ia menyebut dua sifat sekaligus. Jadi ia yang paling padat di antara ketiganya, sedangkan 81:21 cuma menyebut dua sifat dalam tiga kata.
Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) berasal dari akar yang berarti kuat. Akar itu dipakai di 39 ayat, antara lain 8:52, 11:66, 22:40, 33:25, dan 57:25. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kekuatan Allah atau kekuatan kaum yang binasa, bukan kekuatan seorang utusan.
Kata (ذِي, dzii) diulang di dalam ayat ini sendiri, sekali untuk utusan dan sekali untuk Pemilik Arasy. Jadi satu kata penghubung dipakai dua kali di dalam satu ayat pendek, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Susunan itu menaruh dua sifat sekaligus di dalam satu ayat, sedangkan dua ayat lainnya masing-masing menaruh lebih sedikit. Al-Qur'an tidak menyebut sekuat apa maupun setinggi apa kedudukannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang bergantung pada 81:19.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sifat utusan tersebut: berkekuatan dan berkedudukan tinggi, dan kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 23:13, 77:21, dan 81:20.
Kesejajaran dengan 77:21 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Di 23:13 dan 77:21 kata yang sama dipakai untuk tempat yang kokoh bagi air mani.
Jadi kata yang di dua tempat lain menamai tempat penyimpanan, di sini menamai kedudukan seorang utusan. Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 17:42 dan 81:20.
Kata keduanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:63, 8:60, 18:95, 30:54, dan 86:10. Kesejajaran dengan 86:10 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk manusia yang tidak punya kekuatan pada hari itu.
Ketiga sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19. Akar kata keduanya dipakai di 39 ayat, antara lain 8:52, 11:66, 22:40, 33:25, dan 57:25. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kekuatan Allah atau kekuatan kaum yang binasa, bukan kekuatan seorang utusan seperti di dalam ayat ini. Jadi ayat ini yang paling padat di antara tiga ayat sifat itu, sedangkan 81:21 cuma menyebut dua sifat dalam tiga kata saja.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 23:13, 77:21, dan 81:20. Di 23:13 dan 77:21 kata yang sama dipakai Allah untuk tempat yang kokoh bagi air mani, sedangkan di sini ia menamai kedudukan seorang utusan di sisi-Nya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu kata untuk tempat dan untuk kedudukan. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun.
- Kata keduanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:63, 8:60, 18:95, 30:54, dan 86:10. Di 86:10 kata yang sama dipakai untuk manusia yang tidak punya kekuatan pada hari itu, sedangkan di sini ia menyatakan kekuatan utusan yang disebut Allah. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kata kekuatan untuk seorang utusan. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun.
- Akar kata keempatnya dipakai Allah di 32 ayat, antara lain 7:54, 20:5, 23:86, 69:17, dan 85:15. Kesejajaran dengan 85:15 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama dengan surah ini dan memakai rangkaian yang berdekatan bunyinya. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua surah di juz ini dengan satu kalimat penjelas pun. Kata yang menamai tempat kokoh bagi air mani dipakai untuk kedudukan utusan.
- Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 17:42 dan 81:20. Di 17:42 rangkaian itu dipakai Allah di dalam bantahan terhadap orang yang mengatakan ada tuhan lain bersama-Nya, sedangkan di sini ia menyebut di sisi siapa utusan itu berkedudukan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian rangkaian yang sama di dua tempat saja. Kata yang menamai tempat kokoh bagi air mani dipakai untuk kedudukan utusan.
- Ketiga sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang disifati Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang disifati susunannya. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun.
- Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang utusan itu, dan ia menyebut dua sifat sekaligus. Apa yang dinyatakan Allah dengan menyebut kekuatan dan kedudukan berdampingan, tanpa satu kata pun tentang siapa utusan itu sebenarnya? Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemberian dua sifat sekaligus di ayat ini. Kata yang menamai tempat kokoh bagi air mani dipakai untuk kedudukan utusan.
Ayat 81:21
مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
Yang ditaati di sana lagi terpercaya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍmuthaa'in tsamma amiininyang ditaati di sana lagi terpercaya
Terjemahan per kata (3 kata)
- مُطَاعٍmuthaa'inyang ditaati
- ثَمَّtsammadi sana
- أَمِينٍamiininyang tepercaya
Inti bacaan
Dua sifat kunci tambahan: 'yang ditaati di sana lagi terpercaya', kombinasi otoritas (ditaati) dan integritas (terpercaya), dua kualitas yang saling melengkapi dalam menjamin keandalan transmisi wahyu.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُطَاعٍ, muthaa'in) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menurut dengan sukarela. Ia dipakai di 118 ayat, antara lain 3:32, 4:59, 8:1, 24:54, dan 64:16. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ketaatan manusia kepada Allah dan rasul-Nya.
Jadi akar yang di ratusan ayat menamai ketaatan yang dituntut dari manusia, di sini menamai utusan yang ditaati. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menaatinya, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan itu. Kata (أَمِينٍ, amiin) di sini menutup ayatnya, dan ia berbaris kasrah.
Kata (أَمِينٍ, amiin) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 44:51 dan 81:21. Di 44:51 kata yang sama dipakai untuk tempat yang aman bagi orang bertakwa, bukan untuk sifat seseorang.
Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk dua perkara yang berbeda jenisnya, dan yang di 44:51 tempat sedangkan yang di sini orang. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Kata (مُطَاعٍ, muthaa'in) membuka ayatnya, dan ia berbentuk penderita.
Kata (ثَمَّ, tsamma) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:115, 26:64, 76:20, dan 81:21. Kata itu menyatakan di sana, bukan urutan waktu, sehingga ia berbeda dari kata yang bunyinya berdekatan.
Bentuk (مُطَاعٍ, muthaa'in) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia ditaati, bukan ia menaati. Jadi arah ketaatannya ditentukan bentuk katanya, dan menggantinya akan membalikkan seluruh maksud ayatnya.
Kedua sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19, sama seperti tiga sifat di 81:20. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu kata yang disebut sekali di awalnya. Kata (ثَمَّ, tsamma) berdiri di antara keduanya, dan ia menyatakan di sana.
Ayat ini menutup tiga ayat tentang utusan itu, dan sesudahnya 81:22 berpindah kepada Nabi yang disapa. Jadi lima sifat disebutkan seluruhnya tanpa satu nama pun, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya.
Kata (مُطَاعٍ, muthaa'in) tidak bertakrif, sama seperti dua sifat di 81:20 dan sifat di 81:19. Jadi lima sifat utusan itu seluruhnya tidak bertakrif, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun di antaranya sebagai yang sudah dikenal pembacanya.
Kata (أَمِينٍ, amiin) menutup rangkaian lima sifat, dan ia berbaris kasrah seperti empat sifat sebelumnya. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu kata di 81:19, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya walau sekali. Susunan itu menutup lima sifat utusan itu tanpa satu nama pun disebutkan. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menaatinya maupun dalam hal apa ia dipercaya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang mengakhiri satu bagian pendek di tengah surahnya.
Tafsiran
Ayat ini menutup sifat utusan tersebut: ditaati dan terpercaya, dan kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 118 ayat, antara lain 3:32, 4:59, 8:1, 24:54, dan 64:16. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ketaatan manusia kepada Allah dan rasul-Nya, sedangkan di sini ia menamai utusan yang ditaati.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 44:51 dan 81:21. Di 44:51 kata yang sama dipakai untuk tempat yang aman bagi orang bertakwa, bukan untuk sifat seseorang.
Kata keduanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:115, 26:64, 76:20, dan 81:21. Kata itu menyatakan di sana, bukan urutan waktu.
Ayat ini menutup tiga ayat tentang utusan itu, dan sesudahnya 81:22 berpindah kepada Nabi yang disapa. Kata pertamanya tidak bertakrif, sama seperti dua sifat di 81:20 dan sifat di 81:19. Jadi lima sifat utusan itu seluruhnya tidak bertakrif, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun di antaranya sebagai yang sudah dikenal pembacanya di dalam surah ini. Jadi lima sifat disebutkan seluruhnya tanpa satu nama pun, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Ketiga ayat sifat itu terikat kepada satu kata di 81:19, dan kata itu tidak diulang walau sekali.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 118 ayat, antara lain 3:32, 4:59, 8:1, 24:54, dan 64:16. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ketaatan yang dituntut dari manusia, sedangkan di sini ia menamai utusan yang ditaati. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pembalikan arah ketaatan di dalam ayat ini. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 44:51 dan 81:21. Di 44:51 kata yang sama dipakai Allah untuk tempat yang aman bagi orang bertakwa, bukan untuk sifat seseorang. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk dua perkara yang berbeda jenisnya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata untuk tempat dan untuk orang. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama.
- Kata keduanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:115, 26:64, 76:20, dan 81:21. Kata itu menyatakan di sana, bukan urutan waktu, sehingga ia berbeda dari kata yang bunyinya berdekatan dan sering dipakai Allah untuk menyatakan kemudian. Perbedaan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan empat tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang bunyinya berdekatan. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.
- Bentuk kata pertamanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia ditaati, bukan ia menaati. Jadi arah ketaatannya ditentukan bentuk katanya, dan menggantinya akan membalikkan seluruh maksud ayat yang disusun Allah di sini. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang membalikkannya akan mengubah utusan yang ditaati menjadi utusan yang menaati. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.
- Kedua sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19, sama seperti tiga sifat di 81:20. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu kata yang disebut Allah sekali di awalnya tanpa satu pengulangan pun. Kesejajaran itu berlaku sampai ke barisnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa tiga ayat terikat kepada satu kata yang disebut sekali. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama.
- Ayat ini menutup tiga ayat tentang utusan itu, dan sesudahnya 81:22 berpindah kepada Nabi yang disapa. Apa yang dijaga Al-Qur'an ketika Allah menyebut lima sifat seorang utusan berturut-turut dan tidak pernah menyebut namanya sekali pun? Yang tersedia bagi pembacanya cuma lima sifat itu, dan menamai utusannya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan susunan ketiga ayatnya. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.