ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ
Yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi yang memiliki Arasy,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍdzii quwwatin 'inda dzii l-'arsyi makiininyang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi yang memiliki Arasy
Terjemahan per kata (6 kata)
- ذِيdziipemilik
- قُوَّةٍquwwatinkekuatan
- عِنْدَ'indadi sisi
- ذِيdziipemilik
- الْعَرْشِl-'arsyiArasy
- مَكِينٍmakiininyang kokoh
Inti bacaan
Kualifikasi lanjutan sang pembawa wahyu: 'yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki Arasy', penegasan status istimewa yang memperkuat kepercayaan terhadap keandalan penyampaian pesan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(Allah)" tidak dipakai: "dzii l-arshi" (yang memiliki Arasy) dibiarkan tanpa penambahan nama eksplisit yang tidak ada pada posisi ini dalam Arab.
Kata (مَكِينٍ, makiin) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 23:13, 77:21, dan 81:20. Kesejajaran dengan 77:21 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.
Di 23:13 dan 77:21 kata yang sama dipakai untuk tempat yang kokoh bagi air mani. Jadi kata yang di dua tempat lain menamai tempat penyimpanan, di sini menamai kedudukan seorang utusan. Kata (مَكِينٍ, makiin) di sini menutup ayatnya, dan ia berbaris kasrah.
Rangkaian (ذِي الْعَرْشِ, dzi l-'arsy) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 17:42 dan 81:20. Di 17:42 rangkaian itu dipakai di dalam bantahan terhadap orang yang mengatakan ada tuhan lain bersama-Nya.
Akar (الْعَرْشِ, al-'arsy) berarti bangunan yang ditinggikan. Akar itu dipakai di 32 ayat, antara lain 7:54, 20:5, 23:86, 69:17, dan 85:15. Kesejajaran dengan 85:15 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama.
Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:63, 8:60, 18:95, 30:54, dan 86:10. Kesejajaran dengan 86:10 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk manusia yang tidak punya kekuatan pada hari itu.
Jadi kata yang di 86:10 menyatakan ketiadaan kekuatan manusia, di sini menyatakan kekuatan utusan itu. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) mendahuluinya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.
Ketiga sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang disifatinya. Kata (ذِي, dzii) diulang di dalam ayat ini, sekali untuk utusan dan sekali untuk Pemilik Arasy.
Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang utusan itu, dan ia menyebut dua sifat sekaligus. Jadi ia yang paling padat di antara ketiganya, sedangkan 81:21 cuma menyebut dua sifat dalam tiga kata.
Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) berasal dari akar yang berarti kuat. Akar itu dipakai di 39 ayat, antara lain 8:52, 11:66, 22:40, 33:25, dan 57:25. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kekuatan Allah atau kekuatan kaum yang binasa, bukan kekuatan seorang utusan.
Kata (ذِي, dzii) diulang di dalam ayat ini sendiri, sekali untuk utusan dan sekali untuk Pemilik Arasy. Jadi satu kata penghubung dipakai dua kali di dalam satu ayat pendek, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Susunan itu menaruh dua sifat sekaligus di dalam satu ayat, sedangkan dua ayat lainnya masing-masing menaruh lebih sedikit. Al-Qur'an tidak menyebut sekuat apa maupun setinggi apa kedudukannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang bergantung pada 81:19.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sifat utusan tersebut: berkekuatan dan berkedudukan tinggi, dan kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 23:13, 77:21, dan 81:20.
Kesejajaran dengan 77:21 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Di 23:13 dan 77:21 kata yang sama dipakai untuk tempat yang kokoh bagi air mani.
Jadi kata yang di dua tempat lain menamai tempat penyimpanan, di sini menamai kedudukan seorang utusan. Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 17:42 dan 81:20.
Kata keduanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:63, 8:60, 18:95, 30:54, dan 86:10. Kesejajaran dengan 86:10 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk manusia yang tidak punya kekuatan pada hari itu.
Ketiga sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19. Akar kata keduanya dipakai di 39 ayat, antara lain 8:52, 11:66, 22:40, 33:25, dan 57:25. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kekuatan Allah atau kekuatan kaum yang binasa, bukan kekuatan seorang utusan seperti di dalam ayat ini. Jadi ayat ini yang paling padat di antara tiga ayat sifat itu, sedangkan 81:21 cuma menyebut dua sifat dalam tiga kata saja.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 23:13, 77:21, dan 81:20. Di 23:13 dan 77:21 kata yang sama dipakai Allah untuk tempat yang kokoh bagi air mani, sedangkan di sini ia menamai kedudukan seorang utusan di sisi-Nya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu kata untuk tempat dan untuk kedudukan. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun.
- Kata keduanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:63, 8:60, 18:95, 30:54, dan 86:10. Di 86:10 kata yang sama dipakai untuk manusia yang tidak punya kekuatan pada hari itu, sedangkan di sini ia menyatakan kekuatan utusan yang disebut Allah. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kata kekuatan untuk seorang utusan. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun.
- Akar kata keempatnya dipakai Allah di 32 ayat, antara lain 7:54, 20:5, 23:86, 69:17, dan 85:15. Kesejajaran dengan 85:15 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama dengan surah ini dan memakai rangkaian yang berdekatan bunyinya. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua surah di juz ini dengan satu kalimat penjelas pun. Kata yang menamai tempat kokoh bagi air mani dipakai untuk kedudukan utusan.
- Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 17:42 dan 81:20. Di 17:42 rangkaian itu dipakai Allah di dalam bantahan terhadap orang yang mengatakan ada tuhan lain bersama-Nya, sedangkan di sini ia menyebut di sisi siapa utusan itu berkedudukan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian rangkaian yang sama di dua tempat saja. Kata yang menamai tempat kokoh bagi air mani dipakai untuk kedudukan utusan.
- Ketiga sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19. Jadi ayat ini keterangan bagi ayat sebelumnya, bukan kalimat baru, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang disifati Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang disifati susunannya. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun. Kekuatan dan kedudukan disebut berdampingan tanpa satu ukuran pun.
- Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang utusan itu, dan ia menyebut dua sifat sekaligus. Apa yang dinyatakan Allah dengan menyebut kekuatan dan kedudukan berdampingan, tanpa satu kata pun tentang siapa utusan itu sebenarnya? Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemberian dua sifat sekaligus di ayat ini. Kata yang menamai tempat kokoh bagi air mani dipakai untuk kedudukan utusan.