مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

Yang ditaati di sana lagi terpercaya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍmuthaa'in tsamma amiininyang ditaati di sana lagi terpercaya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. مُطَاعٍmuthaa'inyang ditaati
  2. ثَمَّtsammadi sana
  3. أَمِينٍamiininyang tepercaya

Inti bacaan

Dua sifat kunci tambahan: 'yang ditaati di sana lagi terpercaya', kombinasi otoritas (ditaati) dan integritas (terpercaya), dua kualitas yang saling melengkapi dalam menjamin keandalan transmisi wahyu.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مُطَاعٍ, muthaa'in) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menurut dengan sukarela. Ia dipakai di 118 ayat, antara lain 3:32, 4:59, 8:1, 24:54, dan 64:16. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ketaatan manusia kepada Allah dan rasul-Nya.

Jadi akar yang di ratusan ayat menamai ketaatan yang dituntut dari manusia, di sini menamai utusan yang ditaati. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menaatinya, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan itu. Kata (أَمِينٍ, amiin) di sini menutup ayatnya, dan ia berbaris kasrah.

Kata (أَمِينٍ, amiin) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 44:51 dan 81:21. Di 44:51 kata yang sama dipakai untuk tempat yang aman bagi orang bertakwa, bukan untuk sifat seseorang.

Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk dua perkara yang berbeda jenisnya, dan yang di 44:51 tempat sedangkan yang di sini orang. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Kata (مُطَاعٍ, muthaa'in) membuka ayatnya, dan ia berbentuk penderita.

Kata (ثَمَّ, tsamma) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:115, 26:64, 76:20, dan 81:21. Kata itu menyatakan di sana, bukan urutan waktu, sehingga ia berbeda dari kata yang bunyinya berdekatan.

Bentuk (مُطَاعٍ, muthaa'in) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia ditaati, bukan ia menaati. Jadi arah ketaatannya ditentukan bentuk katanya, dan menggantinya akan membalikkan seluruh maksud ayatnya.

Kedua sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19, sama seperti tiga sifat di 81:20. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu kata yang disebut sekali di awalnya. Kata (ثَمَّ, tsamma) berdiri di antara keduanya, dan ia menyatakan di sana.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang utusan itu, dan sesudahnya 81:22 berpindah kepada Nabi yang disapa. Jadi lima sifat disebutkan seluruhnya tanpa satu nama pun, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya.

Kata (مُطَاعٍ, muthaa'in) tidak bertakrif, sama seperti dua sifat di 81:20 dan sifat di 81:19. Jadi lima sifat utusan itu seluruhnya tidak bertakrif, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun di antaranya sebagai yang sudah dikenal pembacanya.

Kata (أَمِينٍ, amiin) menutup rangkaian lima sifat, dan ia berbaris kasrah seperti empat sifat sebelumnya. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu kata di 81:19, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya walau sekali. Susunan itu menutup lima sifat utusan itu tanpa satu nama pun disebutkan. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menaatinya maupun dalam hal apa ia dipercaya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang mengakhiri satu bagian pendek di tengah surahnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup sifat utusan tersebut: ditaati dan terpercaya, dan kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya dipakai di 118 ayat, antara lain 3:32, 4:59, 8:1, 24:54, dan 64:16. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ketaatan manusia kepada Allah dan rasul-Nya, sedangkan di sini ia menamai utusan yang ditaati.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 44:51 dan 81:21. Di 44:51 kata yang sama dipakai untuk tempat yang aman bagi orang bertakwa, bukan untuk sifat seseorang.

Kata keduanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:115, 26:64, 76:20, dan 81:21. Kata itu menyatakan di sana, bukan urutan waktu.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang utusan itu, dan sesudahnya 81:22 berpindah kepada Nabi yang disapa. Kata pertamanya tidak bertakrif, sama seperti dua sifat di 81:20 dan sifat di 81:19. Jadi lima sifat utusan itu seluruhnya tidak bertakrif, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun di antaranya sebagai yang sudah dikenal pembacanya di dalam surah ini. Jadi lima sifat disebutkan seluruhnya tanpa satu nama pun, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat mana pun sesudahnya. Ketiga ayat sifat itu terikat kepada satu kata di 81:19, dan kata itu tidak diulang walau sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 118 ayat, antara lain 3:32, 4:59, 8:1, 24:54, dan 64:16. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ketaatan yang dituntut dari manusia, sedangkan di sini ia menamai utusan yang ditaati. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pembalikan arah ketaatan di dalam ayat ini. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.
  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 44:51 dan 81:21. Di 44:51 kata yang sama dipakai Allah untuk tempat yang aman bagi orang bertakwa, bukan untuk sifat seseorang. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk dua perkara yang berbeda jenisnya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata untuk tempat dan untuk orang. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama.
  • Kata keduanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:115, 26:64, 76:20, dan 81:21. Kata itu menyatakan di sana, bukan urutan waktu, sehingga ia berbeda dari kata yang bunyinya berdekatan dan sering dipakai Allah untuk menyatakan kemudian. Perbedaan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan empat tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang bunyinya berdekatan. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.
  • Bentuk kata pertamanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia ditaati, bukan ia menaati. Jadi arah ketaatannya ditentukan bentuk katanya, dan menggantinya akan membalikkan seluruh maksud ayat yang disusun Allah di sini. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang membalikkannya akan mengubah utusan yang ditaati menjadi utusan yang menaati. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.
  • Kedua sifat di ayat ini berbaris kasrah, mengikuti kata terakhir di 81:19, sama seperti tiga sifat di 81:20. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu kata yang disebut Allah sekali di awalnya tanpa satu pengulangan pun. Kesejajaran itu berlaku sampai ke barisnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa tiga ayat terikat kepada satu kata yang disebut sekali. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama.
  • Ayat ini menutup tiga ayat tentang utusan itu, dan sesudahnya 81:22 berpindah kepada Nabi yang disapa. Apa yang dijaga Al-Qur'an ketika Allah menyebut lima sifat seorang utusan berturut-turut dan tidak pernah menyebut namanya sekali pun? Yang tersedia bagi pembacanya cuma lima sifat itu, dan menamai utusannya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan susunan ketiga ayatnya. Lima sifat disebut berturut-turut dan tidak satu pun menyebut nama. Bentuk penderita membalik arah ketaatan dari menaati menjadi ditaati.