وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ

Dan kawan kalian bukanlah orang gila.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍwa-maa shaahibukum bi-majnuunindan kawan kalian bukanlah orang gila

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. صَاحِبُكُمْshaahibukumkawan kalian
  3. بِمَجْنُونٍbi-majnuuninorang gila

Inti bacaan

Ketika mendengar kabar bahwa seorang kenalan lama sudah tidak waras karena pendiriannya, mengingat kembali pengalaman bergaul dengannya selama ini sebelum ikut mengulang cap itu kepada orang lain.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ, wa-maa shaahibukum bi-majnuunin) yang berarti "dan kawan kalian bukanlah orang gila". Kalimatnya dibuka dengan (وَمَا, wa-maa) yang berarti "dan tidaklah", lalu kata terakhirnya diberi huruf bi- di depannya. Huruf itu menguatkan pengingkaran, dan terjemahan menampungnya lewat kata "bukanlah". Susunan pengingkaran dengan maa dan bi- dipakai di tiga ayat rangkaian ini, yaitu 81:22, 81:24, dan 81:25. Di 81:24 bunyinya (وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ, wa-maa huwa 'alaa l-ghaybi bi-dhaniinin) yang berarti "dan dia tidak kikir atas yang gaib", dan di 81:25 (وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ, wa-maa huwa bi-qawli syaythaanin rajiimin) yang berarti "dan itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk". Tiga sangkaan disangkal dengan bentuk yang sama, sedangkan 81:23 yang berdiri di tengahnya berupa pernyataan tanpa pengingkaran.

Kata (صَاحِبُكُمْ, shaahibukum) berakar ص-ح-ب dan berarti "kawan kalian", orang yang menyertai mereka. Dalam bantahan terhadap tuduhan kepada seorang utusan, Al-Qur'an memakai sebutan ini di 4 ayat (7:184, 34:46, 53:2, 81:22). Tiga di antaranya menyangkal tuduhan gila, yaitu 7:184, 34:46, dan ayat ini, sedangkan 53:2 menyangkal tuduhan sesat dan keliru. Di 7:184 bunyinya (مَا بِصَاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ, maa bi-shaahibihim min jinnatin) yang berarti "pada kawan mereka tidak ada kegilaan sedikit pun", dengan akhiran -him karena ayat itu berbicara tentang para penuduh. Ayat ini memakai akhiran -kum, sehingga para penuduh disapa langsung, sama seperti di 53:2 yang memakai bentuk kata yang sama.

Kata (بِمَجْنُونٍ, bi-majnuunin) berakar ج-ن-ن dan berarti "orang gila". Bentuk ini dipakai di 11 ayat (15:6, 26:27, 37:36, 44:14, 51:39, 51:52, 52:29, 54:9, 68:2, 68:51, 81:22), dan di semuanya kata itu keluar dari mulut para penentang atau disangkal oleh Allah. Kaum Nuh memakainya (54:9), Fir'aun memakainya untuk Musa (26:27, 51:39), dan 51:52 merangkum pola itu dengan (سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ, saahirun aw majnuunun) yang berarti "penyihir atau orang gila", ucapan yang diterima setiap rasul dari kaumnya. Empat ayat mencatat tuduhan yang sama terhadap kawan yang disapa di sini (15:6, 37:36, 44:14, 68:51), dan tiga ayat menyangkalnya (52:29, 68:2, 81:22). Dengan huruf bi- yang melekat, bentuk ini hanya ada di 68:2 dan ayat ini.

Dari akar yang sama Al-Qur'an memakai kata benda (جِنَّةٌ, jinnatun) untuk kegilaan di 5 ayat (7:184, 23:25, 23:70, 34:8, 34:46), misalnya (أَمْ بِهِ جِنَّةٌ, am bihi jinnatun) yang berarti "ataukah ada kegilaan padanya" di 34:8. Kata benda yang sama menamai bangsa jin di 11:119, 32:13, 37:158, dan 114:6, dan akar itu juga menamai taman yang didekatkan di 81:13. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan di antara pemakaian-pemakaian itu, sehingga uraian ini tidak menarik makna dari kedekatan akarnya.

Dua ayat menyangkal tuduhan itu dengan menyapa orangnya sendiri. Di 68:2 bunyinya (مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ, maa anta bi-ni'mati rabbika bi-majnuunin) yang berarti "engkau, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah orang gila", dan 52:29 memakai susunan serupa untuk menyangkal tuduhan tukang tenung dan orang gila sekaligus. Ayat ini menyangkal tuduhan yang sama dengan menyapa pihak yang lain, yaitu para penuduh, lewat sebutan kawan kalian.

Tafsiran

Ayat ini berpindah dari pembawa perkataan kepada kawan yang menyampaikannya. Tiga ayat sebelumnya menyifati utusan yang mulia (81:19) sebagai pemilik kekuatan yang berkedudukan tinggi di sisi pemilik Arasy (81:20), ditaati dan terpercaya (81:21). Sesudah itu ayat ini menoleh kepada orang yang hidup di tengah para penuduh. Urutan serupa ada di awal Surah 53, tempat kawan yang dibela disebut lebih dulu (53:2), lalu pengajarnya yang sangat kuat (53:5). Kedua surah menempatkan dua sosok, yang membawa perkataan dan yang menerimanya, lalu membela keduanya bersama.

Tuduhan gila juga pernah digabung dengan tuduhan lain yang berlawanan. Di 44:14 para penentang berkata (مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ, mu'allamun majnuunun) yang berarti "diajari, lagi gila". Orang yang diajari pihak lain dituduh menyalin, sedangkan orang gila dituduh berbicara tanpa kendali, dan dua tuduhan itu tidak mungkin benar bersamaan. Rangkaian di Surah 81 menjawab keduanya, karena pembawa perkataannya disifati di 81:19-21 dan kewarasan kawan itu dinyatakan di ayat ini.

Sesudah pengingkaran ini, 81:23 menyatakan bahwa kawan itu telah melihat utusan yang mulia di ufuk yang terang. Tuduhan gila dijawab dengan kesaksian penglihatan, dan kesaksian itu disusul dua pengingkaran lagi di 81:24 dan 81:25. Menurut 51:52, tuduhan itu sudah dialami setiap rasul sebelumnya, sehingga ayat ini menyangkal satu mata rantai dari pola yang panjang, dan penyangkalnya Allah sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memberitahukan di 51:52 bahwa setiap rasul yang datang kepada kaum-kaum terdahulu disambut dengan tuduhan penyihir atau orang gila. Pemberitahuan itu membuat tuduhan yang sama terhadap kawan di ayat ini tidak lagi mengejutkan, sebab polanya sudah dikenal. Cap itu jarang menyentuh isi yang disampaikan, dan lebih sering dipakai supaya isi itu tidak perlu didengar. Orang yang dicap tidak waras karena menyampaikan kebenaran yang tidak disukai berdiri di barisan yang panjang, dan barisan itu dibela oleh Dia yang mengutus mereka.
  • Sebutan kawan kalian mengarahkan para penuduh kepada ingatan mereka sendiri. Mereka sudah lama hidup berdampingan dengan orang itu, dan tuduhan gila harus melawan semua yang pernah mereka saksikan sendiri. Di 7:184 dan 34:46 Allah meminta mereka merenungkan lebih dulu sebelum menerima tuduhan itu. Ketika seseorang yang sudah lama kita kenal tiba-tiba dicap buruk oleh orang banyak, ingatan kita tentang dia menjadi saksi yang perlu ditanya lebih dulu, sebelum suara ramai di sekeliling.
  • Di 68:2 Allah menyangkal tuduhan gila dengan menyapa orang yang dituduh, lengkap dengan penghiburan tentang nikmat Tuhannya. Di ayat ini tuduhan yang sama disangkal dengan menyapa para penuduh. Kepada yang dituduh diberikan ketenangan, dan kepada yang menuduh diberikan koreksi. Ketika seseorang di sekitar kita difitnah, kepada siapa kita berbicara lebih dulu, kepada orang yang terluka atau kepada orang yang melukai? Dua ayat itu memperlihatkan bahwa keduanya perlu disapa, masing-masing dengan kata yang berbeda.
  • Di 44:14 para penentang menyebut kawan itu diajari orang lain sekaligus gila. Orang yang sedang menyalin pelajaran dari orang lain membutuhkan akal yang tertata, sehingga dua tuduhan itu saling membatalkan. Tuduhan yang lahir dari keinginan menolak sering tidak peduli pada kecocokan di antara bagian-bagiannya, sebab tujuannya menjauhkan orang dari pesan. Allah menjawab keduanya dengan tenang, dan jawaban yang tenang itu cukup untuk memperlihatkan retaknya.
  • Sesudah menyangkal tuduhan gila, Allah langsung menyebut bahwa kawan itu telah melihat utusan yang mulia di ufuk yang terang (81:23). Pengingkaran saja belum memberi alasan, sedangkan kesaksian penglihatan memberi isi pada pengingkaran itu. Orang yang ingin membersihkan nama seseorang dari tuduhan sering berhenti pada kalimat bahwa tuduhan itu salah, padahal menunjukkan apa yang benar-benar dia saksikan jauh lebih meyakinkan bagi yang mendengar.
  • Rangkaian ini menyangkal tiga sangkaan dengan satu bentuk kalimat, yaitu tuduhan gila (81:22), sangkaan bahwa kawan itu kikir atas yang gaib (81:24), dan tuduhan bahwa perkataan itu berasal dari setan (81:25). Allah tidak mengumpulkan ketiganya dalam satu sangkalan umum, dan setiap sangkaan mendapat kalimatnya sendiri. Tuduhan yang dijawab satu per satu tidak bisa bersembunyi di balik tuduhan lain, dan cara itu layak ditiru ketika kita harus meluruskan beberapa salah paham sekaligus.