وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ
Dan sungguh dia telah melihatnya di ufuk yang terang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِwa-la-qad ra'aahu bi-l-ufuqi l-mubiinidan sungguh dia telah melihatnya di ufuk yang terang
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- رَآهُra'aahumelihatnya
- بِالْأُفُقِbi-l-ufuqidi ufuk
- الْمُبِينِl-mubiiniyang jelas
Inti bacaan
Kesaksian langsung tentang pengalaman visual: 'dan sungguh dia telah melihatnya di ufuk yang terang', penegasan bahwa pengalaman spiritual yang dialami bersifat nyata dan jelas, bukan halusinasi dalam kegelapan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ, bi-l-ufuqi l-mubiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar (الْأُفُقِ, al-ufuq) berarti ufuk. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 41:53, 53:7, dan 81:23.
Kesejajaran dengan 53:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk ufuk yang tinggi tempat Nabi melihat, dan ayat itu berdiri di dalam rangkaian yang berdekatan isinya dengan ayat ini. Kata (بِالْأُفُقِ, bi-l-ufuq) di sini bertakrif, dan hurufnya menyatakan tempat.
Jadi dua dari tiga pemakaian akar itu menyebut ufuk tempat Nabi melihat, dan yang di 41:53 menyebut tanda-tanda yang diperlihatkan di ufuk. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (الْمُبِينِ, al-mubiin) menutup ayatnya, dan ia menyifati kata sebelumnya.
Kata kerja (رَآهُ, ra-aahu) memakai kata ganti objek yang menunjuk utusan di 81:19, sehingga lima ayat dari 81:19 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi pihak itu cuma disebut sekali, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya.
Kata (وَلَقَدْ, wa laqad) memuat dua penegas sekaligus, yaitu huruf lam dan huruf yang menyatakan kepastian. Jadi ayat ini dinyatakan dengan penegasan ganda, sama seperti susunan di 81:19.
Akar (الْمُبِينِ, al-mubiin) berarti jelas dan memisahkan. Akar itu dipakai di 454 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai keterangan yang jelas, bukan tempat.
Jadi akar yang di ratusan ayat menamai kejelasan keterangan, di sini menyifati ufuk. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa sifatnya dipinjam dari bidang yang lain. Kata (رَآهُ, ra-aahu) mendahului keduanya, dan ia memakai kata ganti objek.
Ayat ini pernyataan, sedangkan 81:22 dan 81:24 pengingkaran. Jadi ia berdiri di antara dua bantahan sebagai penegasan, dan susunan berselang itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kata pun.
Kata (رَآهُ, ra-aahu) berasal dari akar yang berarti melihat dan menimbang. Akar itu dipakai di 297 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk satu penglihatan yang tidak diterangkan isinya sama sekali.
Kata (الْمُبِينِ, al-mubiin) bertakrif dan menerangkan kata sebelumnya, sehingga keduanya terikat rapat. Jadi yang disebut bukan sembarang ufuk melainkan ufuk yang terang itu, dan pembatasan itu terbawa di dalam penakrifannya sendiri. Susunan itu menaruh satu pernyataan di antara dua bantahan, bukan sesudah keduanya selesai. Al-Qur'an tidak menyebut kapan penglihatan itu terjadi maupun apa yang dilihatnya secara terperinci, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi benar-benar menyaksikan utusan tersebut di ufuk yang terang, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akar kata ketiganya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 41:53, 53:7, dan 81:23. Kesejajaran dengan 53:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk ufuk yang tinggi tempat Nabi melihat.
Jadi dua dari tiga pemakaian akar itu menyebut ufuk tempat Nabi melihat, dan yang di 41:53 menyebut tanda-tanda yang diperlihatkan di ufuk.
Kata keduanya memakai kata ganti objek yang menunjuk utusan di 81:19, sehingga lima ayat dari 81:19 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Kata pertamanya memuat dua penegas sekaligus.
Ayat ini pernyataan, sedangkan 81:22 dan 81:24 pengingkaran. Akar kata keduanya dipakai di 297 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Kata terakhirnya bertakrif dan menerangkan kata sebelumnya, sehingga yang disebut bukan sembarang ufuk melainkan ufuk yang terang itu. Jadi ia berdiri di antara dua bantahan sebagai penegasan, dan susunan berselang itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kata pun. Lima ayat dari 81:19 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak yang disebut sekali saja.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata ketiganya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 41:53, 53:7, dan 81:23. Di 53:7 akar yang sama dipakai untuk ufuk yang tinggi tempat Nabi melihat. Jadi dua dari tiga pemakaian akar itu menyebut ufuk tempat Nabi melihat apa yang diperlihatkan Allah. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan dua dari tiga pemakaiannya pada penglihatan Nabi. Penglihatan yang ditegaskan berdiri di antara dua bantahan, bukan sesudahnya.
- Di 41:53 akar kata ketiganya dipakai untuk tanda-tanda yang diperlihatkan Allah di ufuk. Jadi tiga tempat memakai akar yang sama untuk ufuk, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun di mana pun. Yang menyambungkan ketiganya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat penjelas pun. Penglihatan yang ditegaskan berdiri di antara dua bantahan, bukan sesudahnya.
- Kata keduanya memakai kata ganti objek yang menunjuk utusan di 81:19, sehingga lima ayat dari 81:19 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi Allah cuma menyebut pihak itu sekali, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya walau sekali. Kesejajaran itu berlaku sampai ke kata gantinya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa lima ayat terikat kepada satu pihak yang disebut sekali. Dua dari tiga pemakaian akar ufuk menyebut tempat Nabi melihat.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 454 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai keterangan yang jelas, bukan tempat. Jadi akar yang di ratusan ayat menamai kejelasan keterangan, di sini menyifati ufuk, sehingga sifatnya dipinjam dari bidang yang lain. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan peminjaman sifat dari bidang keterangan ke tempat. Penglihatan yang ditegaskan berdiri di antara dua bantahan, bukan sesudahnya.
- Kata pertamanya memuat dua penegas sekaligus, yaitu huruf lam dan huruf yang menyatakan kepastian. Jadi ayat ini dinyatakan Allah dengan penegasan ganda, sama seperti susunan di 81:19 pada awal bagian tentang utusan itu. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua penegas berdiri di dalam satu kata di awal ayat ini. Penglihatan yang ditegaskan berdiri di antara dua bantahan, bukan sesudahnya. Dua dari tiga pemakaian akar ufuk menyebut tempat Nabi melihat.
- Ayat ini pernyataan, sedangkan 81:22 dan 81:24 pengingkaran. Apa yang dikerjakan sebuah penegasan pada pembacanya ketika Allah menaruhnya persis di antara dua bantahan, bukan sesudah keduanya selesai? Perbedaan bentuk itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan empat ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyelaan pernyataan di tengahnya. Dua dari tiga pemakaian akar ufuk menyebut tempat Nabi melihat. Dua dari tiga pemakaian akar ufuk menyebut tempat Nabi melihat.