وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ

Dan dia tidak kikir atas yang gaib.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍwa-maa huwa 'alaa l-ghaybi bi-dhaniinindan dia tidak kikir atas yang gaib

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. هُوَhuwaia
  3. عَلَى'alaaatas
  4. الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
  5. بِضَنِينٍbi-dhaniininyang kikir

Inti bacaan

Ketiadaan penahanan informasi: 'dan dia bukanlah penahan atas yang gaib', bantahan terhadap tuduhan bahwa penyampai pesan menyembunyikan sebagian pengetahuan, penegasan transparansi penuh dalam penyampaian wahyu.

Penjelasan pilihan kata

"Daniinin" diterjemahkan harfiah "kikir" (bukan "penahan" pada draf): makna leksikal akar d-n-n adalah "kikir atau pelit", bukan "menahan".

Kata (بِضَنِينٍ, bi-dhaniin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti kikir menahan. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Ini akar ketujuh dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Enam lainnya berada di 81:2, 81:5, 81:8, 81:11, 81:16, dan 81:17, sehingga tujuh hapax akar berkumpul di satu surah. Kata (بِضَنِينٍ, bi-dhaniin) di sini didahului huruf yang menguatkan pengingkaran.

Kata (الْغَيْبِ, al-ghaib) berasal dari akar yang berarti tersembunyi dari pandangan. Akar itu dipakai di 59 ayat, antara lain 2:3, 6:59, 12:81, 27:65, dan 82:16. Kesejajaran dengan 82:16 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini.

Jadi dua surah yang bersebelahan memakai akar yang sama, dan yang di 82:16 menyatakan orang durhaka tidak bisa menghilang sedangkan yang di sini menyebut perkara yang tidak terlihat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (الْغَيْبِ, al-ghaib) mendahuluinya, dan ia bertakrif sebagai jenis.

Huruf ba di depan (بِضَنِينٍ, bi-dhaniin) huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran, sama seperti huruf di 81:22. Jadi dua ayat bantahan di surah ini memakai penguat yang sama persis.

Huruf 'ala di depan (عَلَى, 'alaa) menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga yang dinyatakan sikapnya terhadap perkara gaib. Jadi susunannya menyebut kedudukan, bukan kepemilikan, dan perbedaan itu terbawa di dalam hurufnya.

Ayat ini bagian ketiga dari empat ayat bantahan, dan ia membantah tuduhan yang berbeda dari 81:22. Jadi dua tuduhan yang berlainan dibantah di dalam satu bagian, dan Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menuduhkannya.

Kata (هُوَ, huwa) menunjuk Nabi yang disebut di 81:22, sehingga tiga ayat dari 81:22 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Jadi pihak itu cuma disebut sekali dengan kata benda, dan dua ayat sesudahnya memakai kata ganti saja.

Kata (الْغَيْبِ, al-ghaib) bertakrif, sehingga yang disebut perkara gaib sebagai jenis, bukan satu perkara tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu jenis wahyu akan mengurangi apa yang tertulis. Susunan itu membantah tuduhan kedua dengan susunan yang sama seperti tuduhan pertama. Al-Qur'an tidak menyebut bagian mana dari perkara gaib yang dimaksud maupun kepada siapa ia disampaikan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi tidak menyembunyikan sedikit pun dari wahyu yang diterimanya, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar ketujuh dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Enam lainnya berada di 81:2, 81:5, 81:8, 81:11, 81:16, dan 81:17.

Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 59 ayat, antara lain 2:3, 6:59, 12:81, 27:65, dan 82:16. Kesejajaran dengan 82:16 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini.

Jadi dua surah yang bersebelahan memakai akar yang sama, dan yang di 82:16 menyatakan orang durhaka tidak bisa menghilang sedangkan yang di sini menyebut perkara yang tidak terlihat.

Huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran, sama seperti huruf di 81:22. Kata keduanya menunjuk Nabi yang disebut di 81:22, sehingga tiga ayat dari 81:22 sampai ayat ini terikat kepada satu pihak. Kata keempatnya bertakrif, sehingga yang disebut perkara gaib sebagai jenis, bukan satu perkara tertentu yang sudah ditentukan. Jadi dua tuduhan yang berlainan dibantah di dalam satu bagian, dan Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menuduhkannya di ayat mana pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar ketujuh dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan enam lainnya berada di 81:2, 81:5, 81:8, 81:11, 81:16, dan 81:17. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tujuh akar langka di dalam satu surah. Akar ketujuh yang cuma hidup di satu ayat menutup daftar kelangkaan surah ini.
  • Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 59 ayat, antara lain 2:3, 6:59, 12:81, 27:65, dan 82:16. Kesejajaran dengan 82:16 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan memakai akar yang sama untuk perkara yang berbeda. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar yang sama di dua surah bersebelahan. Yang diingkari bukan perbuatan menahan melainkan sifat kikir atas wahyu.
  • Huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran, sama seperti huruf di 81:22. Jadi dua ayat bantahan di surah ini memakai penguat yang sama persis, dan Allah tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata pun. Kesejajaran itu berlaku sampai ke hurufnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat bantahan memakai penguat yang sama persis. Yang diingkari bukan perbuatan menahan melainkan sifat kikir atas wahyu. Yang diingkari bukan perbuatan menahan melainkan sifat kikir atas wahyu.
  • Huruf di depan kata ketiganya menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga yang dinyatakan sikapnya terhadap perkara gaib. Jadi susunannya menyebut kedudukan, bukan kepemilikan, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah kedudukan terhadap perkara gaib menjadi kepemilikan atasnya. Yang diingkari bukan perbuatan menahan melainkan sifat kikir atas wahyu.
  • Makna dasar akar kata terakhirnya adalah kikir atau pelit, bukan menahan, dan terjemahan ini mempertahankan makna itu. Apa yang berubah pada sebuah bantahan ketika yang diingkari bukan perbuatan menahan, melainkan sifat kikir terhadap apa yang diterima dari Allah? Makna dasar itu bisa diperiksa siapa pun di dalam kamus akarnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan sifat itu untuk bantahan di ayat ini. Akar ketujuh yang cuma hidup di satu ayat menutup daftar kelangkaan surah ini.
  • Ayat ini bagian ketiga dari empat ayat bantahan, dan ia membantah tuduhan yang berbeda dari 81:22. Jadi dua tuduhan yang berlainan dibantah di dalam satu bagian, dan Allah tidak menyebut siapa yang menuduhkannya di ayat mana pun. Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua tuduhan yang dibantah, dan menyebut siapa yang menuduhkannya berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam surahnya. Akar ketujuh yang cuma hidup di satu ayat menutup daftar kelangkaan surah ini.