وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kalian tidak menghendaki, kecuali jika Allah, Tuhan seisi alam, menghendaki.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَwa-maa tasyaa'uuna illaa an yasyaa'a llaahu rabbu l-'aalamiinadan kalian tidak menghendaki, kecuali jika Allah, Tuhan seisi alam, menghendaki

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. تَشَاءُونَtasyaa'uunakalian kehendaki
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. أَنْanbahwa
  5. يَشَاءَyasyaa'amenghendaki
  6. اللَّهُllaahuAllah
  7. رَبُّrabbuTuhan
  8. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Keseimbangan antara kehendak manusia dan kehendak ilahi: 'kalian tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seisi alam', penutup surah yang menempatkan kebebasan memilih manusia dalam kerangka kedaulatan yang lebih besar.

Penjelasan pilihan kata

Struktur disusun harfiah aktif ("kalian tidak menghendaki, kecuali jika Allah menghendaki"), bukan pasif "(dikehendaki Allah)" pada draf, konsisten dengan 76:30.

Rangkaian (رَبُّ الْعَالَمِينَ, rabbu l-'aalamiin) muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 7:54, 26:23, 28:30, 40:64, 41:9, dan 81:29. Jadi rangkaian itu selalu dipakai untuk menyebut Allah sebagai Tuhan seluruh alam.

Akar (شَاءَ, syaa-a) berarti menghendaki. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 81:28 dan ayat ini. Di dalam ayat ini sendiri akar itu dipakai dua kali, sekali untuk manusia dan sekali untuk Allah.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Kata yang sama dipakai untuk kehendak manusia dan kehendak Allah di dalam satu kalimat, dan yang membedakan keduanya cuma pelakunya. Jadi susunannya menaruh keduanya dalam satu bingkai. Kata (تَشَاءُونَ, tasyaa-uun) di sini berbentuk sekarang dan berorang kedua jamak.

Akar (الْعَالَمِينَ, al-'aalamiin) berarti mengetahui. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 81:14, 81:27, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya bersama akar untuk jiwa.

Nama (اللَّهُ, Allaah) disebut di ayat ini, dan itu satu-satunya penyebutan nama-Nya di sepanjang surah ini. Jadi dua puluh delapan ayat lainnya menyebut Dia lewat kata ganti atau lewat bentuk kata kerja.

Kesejajaran dengan 82:19 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan juga menahan nama-Nya sampai ayat terakhirnya. Jadi dua surah bersebelahan memakai cara yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata (إِلَّا, illaa) huruf pengecualian, dan ia mengeluarkan satu keadaan dari pengingkaran di depannya. Jadi susunannya mengingkari lebih dulu dan mengecualikan kemudian, dan urutan itu diulang dari susunan di 81:27.

Kata (تَشَاءُونَ, tasyaa-uun) berbentuk sekarang dan berorang kedua jamak, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk lampau dan berorang ketiga tunggal. Jadi dua kehendak di dalam satu kalimat dinyatakan dengan dua bentuk waktu yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat huruf pengingkaran, sama seperti kata pembuka di 81:22, 81:24, dan 81:25. Jadi empat ayat di dalam surah ini dibuka dengan kata yang sama persis, dan yang terakhir justru ayat penutupnya. Susunan itu menutup surahnya dengan menaruh kehendak manusia di bawah kehendak-Nya, sesudah satu ayat yang membukanya. Al-Qur'an tidak menyebut bagaimana dua kehendak itu bertemu maupun mana yang lebih dulu, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma sembilan kata penutupnya.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menegaskan bahwa kehendak manusia untuk menempuh jalan lurus tunduk pada kehendak Allah, Tuhan seluruh alam, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 7:54, 26:23, 28:30, 40:64, 41:9, dan 81:29.

Akar kata pertamanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 81:28 dan ayat ini. Di dalam ayat ini sendiri akar itu dipakai dua kali, sekali untuk manusia dan sekali untuk Allah.

Jadi kata yang sama dipakai untuk kehendak manusia dan kehendak Allah di dalam satu kalimat, dan yang membedakan keduanya cuma pelakunya.

Nama Allah disebut di ayat ini, dan itu satu-satunya penyebutan nama-Nya di sepanjang surah ini. Kesejajaran dengan 82:19 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan juga menahan nama-Nya sampai ayat terakhirnya.

Jadi dua surah bersebelahan memakai cara yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Kata keduanya berbentuk sekarang dan berorang kedua jamak, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk lampau dan berorang ketiga tunggal. Jadi dua kehendak di dalam satu kalimat dinyatakan dengan dua bentuk waktu yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Jadi susunannya mengingkari lebih dulu dan mengecualikan kemudian, dan urutan itu diulang dari susunan yang dipakai di 81:27.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata pertamanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 81:28 dan 81:29, dan di dalam ayat ini sendiri ia dipakai dua kali. Jadi kata yang sama dipakai untuk kehendak manusia dan kehendak Allah di dalam satu kalimat, dan yang membedakan keduanya cuma pelakunya. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu kata dipakai untuk dua kehendak di dalam satu kalimat. Nama-Nya ditahan sampai ayat terakhir, sama seperti di surah tetangganya.
  • Nama Allah disebut di ayat ini, dan itu satu-satunya penyebutan nama-Nya di sepanjang surah ini. Jadi dua puluh delapan ayat lainnya menyebut Dia lewat kata ganti atau lewat bentuk kata kerja, dan nama-Nya baru muncul di kalimat penutupnya. Penyebutan itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa seluruh ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penahanan nama-Nya sampai ayat terakhir. Kehendak manusia diakui ada, lalu ditaruh di bawah kehendak-Nya dalam satu kalimat.
  • Kesejajaran dengan 82:19 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini dan juga menahan nama Allah sampai ayat terakhirnya. Jadi dua surah bersebelahan memakai cara yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Kesejajaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua surahnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian cara yang sama di keduanya. Kehendak manusia diakui ada, lalu ditaruh di bawah kehendak-Nya dalam satu kalimat.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 7:54, 26:23, 28:30, 40:64, 41:9, dan 81:29. Jadi rangkaian itu selalu dipakai untuk menyebut Allah sebagai Tuhan seluruh alam, dan di sini ia menutup surahnya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian rangkaian itu selalu untuk sebutan yang sama. Kehendak manusia diakui ada, lalu ditaruh di bawah kehendak-Nya dalam satu kalimat.
  • Akar kata terakhirnya berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 81:14, 81:27, dan 81:29. Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya bersama akar untuk jiwa, dan Allah memakainya untuk pengetahuan jiwa dan untuk seluruh alam. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebaran satu akar di tiga bagian surahnya. Nama-Nya ditahan sampai ayat terakhir, sama seperti di surah tetangganya.
  • Kata kelimanya huruf pengecualian, dan ia mengeluarkan satu keadaan dari pengingkaran di depannya. Apa yang tersisa dari kehendak seseorang ketika Allah menyatakannya ada, lalu langsung menaruhnya di bawah kehendak-Nya sendiri di dalam satu kalimat? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa pengingkaran disebut lebih dulu daripada pengecualiannya di dalam susunan ayatnya. Nama-Nya ditahan sampai ayat terakhir, sama seperti di surah tetangganya.