بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

Apabila langit terbelah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْidzaa s-samaa'u nfatharatapabila langit terbelah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. السَّمَاءُs-samaa'ulangit
  3. انْفَطَرَتْnfatharatterbelah

Inti bacaan

Pembukaan Al-Infitar dengan tanda kosmik pertama: 'apabila langit terbelah', awal rangkaian tanda kehancuran yang menegaskan bahwa struktur paling luas sekalipun tidak kebal terhadap perubahan besar.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri.

Kata kerja (انْفَطَرَتْ, infatharat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti membelah dan memulai penciptaan. Ia dipakai di 19 ayat, antara lain 6:14, 12:101, 30:30, 35:1, dan 42:11. Di 35:1 dan 42:11 akar itu dipakai untuk Allah sebagai Pencipta langit dan bumi.

Jadi akar yang di tempat lain menamai Yang menciptakan langit, di sini menamai langit yang terbelah. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya sendiri. Kata (انْفَطَرَتْ, infatharat) di sini berpola ketujuh, bukan pola pertama.

Di 30:30 akar yang sama dipakai untuk fitrah, yaitu keadaan asal manusia diciptakan. Jadi satu akar menamai penciptaan, keadaan asal, dan keterbelahan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan rentang itu dengan satu kalimat pun. Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) mendahuluinya, dan ia berbaris damah sebagai pokok kalimat.

Bentuk (انْفَطَرَتْ, infatharat) berpola ketujuh, sehingga artinya terbelah dengan sendirinya, bukan dibelah oleh pihak lain. Jadi pelakunya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan perbuatan itu dinyatakan seolah datang dari benda itu sendiri.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang pasti terjadi, bukan kemungkinan yang masih ditimbang. Jadi peristiwanya dinyatakan sebagai yang akan datang tanpa keraguan, dan kata yang sama dipakai lagi di 82:2, 82:3, dan 82:4.

Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, dan susunan yang sama dipakai di tiga ayat sesudahnya. Jadi empat ayat pembuka dibangun dengan rangka yang sama persis: keterangan waktu, pokok kalimat, lalu kata kerjanya.

Ayat ini membuka rangkaian empat ayat tanda kehancuran, dan jawabannya baru datang di 82:5. Jadi berbeda dari surah tetangganya, rangkaian di sini ditutup dengan kalimat pokok yang jelas.

Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) berasal dari akar yang berarti tinggi menjulang. Akar itu dipakai di 352 ayat, antara lain 2:22, 7:40, 21:30, 41:11, dan 78:19, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk langit yang terbelah pada hari kehancuran, bukan untuk langit yang ditegakkan.

Bentuk (انْفَطَرَتْ, infatharat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata yang mendahuluinya. Jadi peristiwanya dinyatakan sebagai yang sudah terjadi, padahal ia belum datang, dan kepastiannya terbawa di dalam bentuk waktunya sendiri tanpa satu kata penegas pun di dalam ayatnya. Susunan itu membuat pembacanya menunggu kalimat pokoknya, dan penantian itu berlangsung sampai empat ayat penuh. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang membelah langit maupun bagaimana caranya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat pembuka ini beserta tiga gambaran yang menyusulnya.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian tanda kehancuran kosmis Hari Kiamat, pola serupa Surah 77 sampai 81, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 6:14, 12:101, 30:30, 35:1, dan 42:11. Di 35:1 dan 42:11 akar itu dipakai untuk Allah sebagai Pencipta langit dan bumi.

Jadi akar yang di tempat lain menamai Yang menciptakan langit, di sini menamai langit yang terbelah. Di 30:30 akar yang sama dipakai untuk keadaan asal manusia diciptakan, sehingga satu akar menamai penciptaan, keadaan asal, dan keterbelahan.

Bentuk kata kerjanya berpola ketujuh, sehingga artinya terbelah dengan sendirinya, bukan dibelah oleh pihak lain. Jadi pelakunya tidak disebutkan di dalam ayatnya.

Ayat ini membuka rangkaian empat ayat tanda kehancuran, dan jawabannya baru datang di 82:5. Akar kata keduanya dipakai di 352 ayat, antara lain 2:22, 7:40, 21:30, 41:11, dan 78:19, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, sehingga peristiwanya dinyatakan sebagai yang sudah terjadi padahal ia belum datang. Jadi berbeda dari surah tetangganya, rangkaian di sini ditutup dengan kalimat pokok yang jelas, bukan dibiarkan menggantung tanpa jawaban.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya dipakai Allah di 19 ayat, antara lain 6:14, 12:101, 30:30, 35:1, dan 42:11. Di 35:1 dan 42:11 akar itu dipakai untuk Dia sebagai Pencipta langit dan bumi. Jadi akar yang menamai Yang menciptakan langit, di sini menamai langit yang terbelah. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftar tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk mencipta dan untuk terbelah. Akar yang menamai penciptaan dipakai lagi untuk keterbelahan tanpa kata penghubung.
  • Di 30:30 akar kata kerjanya dipakai untuk keadaan asal manusia diciptakan. Jadi satu akar menamai penciptaan, keadaan asal, dan keterbelahan, dan Allah tidak menerangkan rentang itu dengan satu kalimat pun di ketiga tempatnya. Yang menyambungkan ketiganya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat penjelas pun di mana pun. Akar yang menamai penciptaan dipakai lagi untuk keterbelahan tanpa kata penghubung.
  • Bentuk kata kerjanya berpola ketujuh, sehingga artinya terbelah dengan sendirinya, bukan dibelah oleh pihak lain. Jadi Allah tidak menyebutkan pelakunya di dalam ayatnya, dan perbuatan itu dinyatakan seolah datang dari benda itu sendiri tanpa satu kata penyebab. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh pola kata yang dipilih. Langit yang terbelah sendiri tidak menunggu satu perintah pun yang terdengar.
  • Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, dan susunan yang sama dipakai di tiga ayat sesudahnya. Jadi empat ayat pembuka dibangun Allah dengan rangka yang sama persis, dan kesejajaran itu tidak ditandai satu kata penghubung pun. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa empat ayat pembuka dibangun dengan urutan kata yang sama persis. Akar yang menamai penciptaan dipakai lagi untuk keterbelahan tanpa kata penghubung.
  • Ayat ini membuka rangkaian empat ayat tanda kehancuran, dan jawabannya baru datang di 82:5. Apa yang berubah pada gambaran kehancuran ketika Allah menutupnya dengan satu kalimat tentang jiwa yang mengetahui perbuatannya sendiri? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat gambaran itu sendiri, dan menambahkan gambaran kelima berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya. Langit yang terbelah sendiri tidak menunggu satu perintah pun yang terdengar.
  • Kata pertamanya menandai waktu yang pasti terjadi, bukan kemungkinan yang masih ditimbang. Jadi Allah menyatakan peristiwanya sebagai yang akan datang tanpa keraguan, dan kata yang sama dipakai lagi di 82:2, 82:3, dan 82:4 pada tiga ayat sesudahnya. Perbedaan itu terbawa di dalam satu kata saja, dan terjemahan yang melemahkannya akan mengubah kepastian yang dinyatakan susunannya menjadi kemungkinan belaka. Langit yang terbelah sendiri tidak menunggu satu perintah pun yang terdengar.