وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ

Dan apabila bintang-bintang berhamburan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْwa-idzaa l-kawaakibu ntatsaratdan apabila bintang-bintang berhamburan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. الْكَوَاكِبُl-kawaakibubintang-bintang
  3. انْتَثَرَتْntatsaratberhamburan

Inti bacaan

Tanda kedua tentang bintang berserakan: 'dan apabila bintang-bintang berhamburan', kelanjutan gambaran kekacauan kosmik yang mempengaruhi elemen-elemen yang selama ini dianggap tetap pada posisinya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْكَوَاكِبُ, al-kawaakib) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti bintang. Ia cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 6:76, 12:4, 24:35, 37:6, dan 82:2.

Di 12:4 akar itu dipakai untuk bintang-bintang yang dilihat Yusuf di dalam mimpinya, dan di 24:35 ia dipakai untuk pelita yang bercahaya seperti bintang. Jadi akar yang jarang ini dipakai untuk penglihatan, perumpamaan cahaya, dan kehancuran. Kata (انْتَثَرَتْ, intatsarat) di sini berpola kedelapan, bukan pola ketujuh.

Kata kerja (انْتَثَرَتْ, intatsarat) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berhamburan. Ia cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 25:23, 76:19, dan 82:2. Jadi ayat ini memuat dua kata yang keduanya tidak berulang di tempat lain mana pun.

Di 25:23 akar itu dipakai untuk amal yang dijadikan debu yang beterbangan, dan di 76:19 ia dipakai untuk mutiara yang bertaburan. Jadi satu akar menamai amal yang sia-sia, perhiasan surga, dan bintang yang berhamburan. Kata (الْكَوَاكِبُ, al-kawaakib) mendahuluinya, dan ia berbentuk jamak bertakrif.

Bentuk (انْتَثَرَتْ, intatsarat) berpola kedelapan, sedangkan bentuk di 82:1 berpola ketujuh. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua pola yang berbeda, dan keduanya sama-sama menyatakan perbuatan yang kembali kepada pelakunya.

Kata (وَإِذَا, wa idzaa) diulang dari 82:1 dengan tambahan kata sambung, dan susunan yang sama dipakai lagi di 82:3 serta 82:4. Jadi tiga ayat berturut-turut dibuka dengan kata yang sama persis.

Kata (الْكَوَاكِبُ, al-kawaakib) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh bintang, bukan sebagian. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu bintang pun yang dikecualikan di dalam ayatnya.

Ayat ini bagian kedua dari rangkaian empat tanda, dan seluruh rangkaian itu belum ditutup sampai 82:5. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa kalimat pokok yang menaunginya.

Kata (انْتَثَرَتْ, intatsarat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi bilangannya jamak tetapi kata kerjanya tunggal, dan susunan semacam itu dipakai lagi di 82:3 serta 82:4 pada dua benda yang lain di dalam surah ini.

Kata (الْكَوَاكِبُ, al-kawaakib) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti kata pokok di 82:1. Jadi empat ayat pembuka memakai baris yang sama pada kata pokoknya, dan kesejajaran itu mengikat keempatnya menjadi satu rangkaian yang tidak terputus sampai 82:5. Susunan itu membuat bintang terbaca bergerak sendiri, sama seperti langit di ayat sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyebut ke mana bintang itu berhamburan maupun berapa banyak, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata di dalam ayat ini beserta letaknya di dalam rangkaiannya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran kosmis, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 6:76, 12:4, 24:35, 37:6, dan 82:2.

Di 12:4 akar itu dipakai untuk bintang-bintang yang dilihat Yusuf di dalam mimpinya, dan di 24:35 ia dipakai untuk pelita yang bercahaya seperti bintang.

Kata kerjanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 25:23, 76:19, dan 82:2. Jadi ayat ini memuat dua kata yang keduanya tidak berulang di tempat lain mana pun.

Di 25:23 akar itu dipakai untuk amal yang dijadikan debu yang beterbangan, dan di 76:19 ia dipakai untuk mutiara yang bertaburan. Jadi satu akar menamai amal yang sia-sia, perhiasan surga, dan bintang yang berhamburan.

Bentuk kata kerjanya berpola kedelapan, sedangkan bentuk di 82:1 berpola ketujuh. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi bilangannya jamak tetapi kata kerjanya tunggal, dan susunan semacam itu dipakai lagi di 82:3 serta 82:4 pada dua benda yang lain di dalam surah ini. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua pola yang berbeda, dan keduanya sama-sama menyatakan perbuatan yang kembali kepada pelakunya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dan kata kerjanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini memuat dua kata yang keduanya tidak berulang di tempat lain mana pun, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksudkan Allah. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan dua kata yang keduanya tidak berulang di mana pun. Dua kata yang keduanya tidak berulang berdiri di dalam satu ayat yang cuma dua kata.
  • Akar kata keduanya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 6:76, 12:4, 24:35, 37:6, dan 82:2. Di 12:4 akar itu dipakai untuk bintang-bintang yang dilihat Yusuf di dalam mimpinya, dan di 24:35 Allah memakainya untuk pelita yang bercahaya seperti bintang. Yang menyambungkan tempat-tempat itu cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan di antaranya dengan satu kalimat penjelas pun. Bintang yang berhamburan menghapus seluruh patokan arah yang pernah dipakai manusia.
  • Akar kata kerjanya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 25:23, 76:19, dan 82:2. Di 25:23 akar itu dipakai untuk amal yang dijadikan Allah debu yang beterbangan, dan di 76:19 untuk mutiara yang bertaburan. Jadi satu akar menamai amal yang sia-sia, perhiasan surga, dan bintang yang berhamburan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk tiga perkara yang berjauhan.
  • Bentuk kata kerjanya berpola kedelapan, sedangkan bentuk di 82:1 berpola ketujuh. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua pola yang berbeda, dan keduanya sama-sama menyatakan perbuatan yang kembali kepada pelakunya tanpa Allah menyebut satu pelaku lain pun. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus perbedaan yang dibawa dua bentuk itu di dua ayat berturut-turut. Bintang yang berhamburan menghapus seluruh patokan arah yang pernah dipakai manusia.
  • Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh bintang, bukan sebagian. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan tidak ada satu bintang pun yang dikecualikan di dalam ayatnya walau sekali. Ketiadaan pengecualian itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh penakrifannya. Bintang yang berhamburan menghapus seluruh patokan arah yang pernah dipakai manusia.
  • Ayat ini bagian kedua dari rangkaian empat tanda, dan seluruh rangkaian itu belum ditutup Allah sampai 82:5. Apa yang dikerjakan sebuah gambaran pada pembacanya ketika ia harus menahan empat pemandangan sekaligus sebelum kalimatnya selesai? Yang tersedia bagi pembacanya cuma letak ayat ini di dalam rangkaiannya, dan memisahkannya berarti kehilangan kalimat pokok yang menaunginya di 82:5. Dua kata yang keduanya tidak berulang berdiri di dalam satu ayat yang cuma dua kata.