وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ

Dan apabila lautan diletuskan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْwa-idzaa l-bihaaru fujjiratdan apabila lautan diletuskan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. الْبِحَارُl-bihaarulautan
  3. فُجِّرَتْfujjiratdilimpahkan

Inti bacaan

Tanda ketiga tentang lautan yang meletus: 'dan apabila lautan diletuskan', transformasi drastis badan air, pelepasan energi yang menegaskan skala peristiwa yang akan terjadi.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فُجِّرَتْ, fujjirat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti membelah dan menerobos. Ia dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:90, 54:12, 82:14, dan 89:1. Jadi akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:14.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di ayat ini akar itu menamai lautan yang dibuat meletus, dan di 82:14 ia menamai orang yang durhaka. Jadi satu akar mengikat air yang menerobos batasnya dan manusia yang menerobos batasnya. Kata (فُجِّرَتْ, fujjirat) di sini berbentuk penderita, bukan bentuk yang berdiri sendiri.

Di 2:60 dan 54:12 akar yang sama dipakai untuk air yang memancar dari batu dan dari bumi. Jadi tiga tempat memakai akar itu untuk air yang keluar dari tempat yang menahannya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya. Kata (الْبِحَارُ, al-bihaar) mendahuluinya, dan ia berbentuk jamak bertakrif.

Bentuk (فُجِّرَتْ, fujjirat) berbentuk penderita dan berpola kedua, sehingga yang dinyatakan lautan dibuat meletus oleh pihak lain. Jadi ia berbeda dari dua ayat sebelumnya yang memakai pola perbuatan yang kembali kepada pelakunya.

Kesejajaran itu patut dicatat. Langit terbelah sendiri di 82:1, bintang berhamburan sendiri di 82:2, dan lautan diletuskan pihak lain di sini. Jadi rangkaiannya berpindah dari perbuatan yang datang sendiri kepada perbuatan yang didatangkan.

Kata (الْبِحَارُ, al-bihaar) berasal dari akar yang berarti laut. Akar itu dipakai di 40 ayat, antara lain 5:96, 16:14, 18:109, 31:27, dan 81:6. Kesejajaran dengan 81:6 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini.

Kata (الْبِحَارُ, al-bihaar) berbentuk jamak dan bertakrif, sama seperti kata pokok di 82:2 dan 82:4. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai bentuk jamak bertakrif, sedangkan 82:1 memakai bentuk tunggal.

Ayat ini bagian ketiga dari rangkaian empat tanda, dan susunannya sejajar dengan susunan tiga ayat lainnya. Jadi keempatnya dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma benda dan kata kerjanya.

Kata (فُجِّرَتْ, fujjirat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi susunannya sejajar dengan susunan di 82:2, dan dua ayat berturut-turut sama-sama memakai kata kerja tunggal untuk pokok yang berbentuk jamak tanpa satu kata penanda pun.

Bentuk (فُجِّرَتْ, fujjirat) berpola kedua, sehingga artinya dibuat meletus dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar terbuka. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya di dalam ayat ini maupun di ayat mana pun sesudahnya. Susunan itu membuat lautan terbaca sebagai yang dikenai perbuatan, bukan sebagai pelakunya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang meletuskannya maupun ke mana airnya pergi, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta satu ayat lain di surah ini yang memakai akar yang sama.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran dengan lautan yang meletus, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:90, 54:12, 82:14, dan 89:1. Jadi akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:14.

Di ayat ini akar itu menamai lautan yang dibuat meletus, dan di 82:14 ia menamai orang yang durhaka. Jadi satu akar mengikat air yang menerobos batasnya dan manusia yang menerobos batasnya.

Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sehingga yang dinyatakan lautan dibuat meletus oleh pihak lain. Jadi ia berbeda dari dua ayat sebelumnya yang memakai pola perbuatan yang kembali kepada pelakunya.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 40 ayat, antara lain 5:96, 16:14, 18:109, 31:27, dan 81:6. Bentuk kata kerjanya berpola kedua, sehingga artinya dibuat meletus dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar terbuka. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya di dalam ayat ini maupun di ayat mana pun sesudahnya. Jadi ayat ini bagian ketiga dari rangkaian empat tanda, dan susunannya sejajar dengan susunan tiga ayat lainnya sampai ke urutan katanya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:3 dan 82:14. Di ayat ini akar itu menamai lautan yang dibuat meletus, dan di 82:14 ia menamai orang yang durhaka. Jadi Allah memakai satu akar untuk air yang menerobos batasnya dan manusia yang menerobos batasnya. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat dua ayat yang berjarak sebelas baris di surah ini.
  • Akar kata kerjanya dipakai Allah di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:90, 54:12, 82:14, dan 89:1. Di 2:60 dan 54:12 akar yang sama dipakai untuk air yang memancar dari batu dan dari bumi. Jadi tiga tempat memakainya untuk air yang keluar dari tempat yang menahannya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk air dan untuk manusia. Lautan yang meletus menghapus batas yang selama ini menahannya di tempatnya.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita dan berpola kedua, sehingga yang dinyatakan lautan dibuat meletus oleh pihak lain. Langit terbelah sendiri di 82:1 dan bintang berhamburan sendiri di 82:2, sedangkan di sini Allah yang meletuskannya. Rangkaiannya berpindah tanpa satu kata penanda. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus pergeseran dari benda yang bergerak sendiri ke benda yang digerakkan. Apa yang berubah pada sebuah gambaran ketika pelakunya berganti tanpa satu kata penanda?
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 40 ayat, antara lain 5:96, 16:14, 18:109, 31:27, dan 81:6. Kesejajaran dengan 81:6 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini dan memakai akar yang sama untuk lautan pada hari yang sama. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar yang sama di dua surah bersebelahan. Akar yang menamai air menerobos batas dipakai lagi untuk manusia menerobos batas.
  • Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sama seperti kata pokok di 82:2 dan 82:4. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai bentuk jamak bertakrif, sedangkan 82:1 memakai bentuk tunggal, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa tiga ayat memakai bentuk jamak sedangkan satu ayat memakai bentuk tunggal. Akar yang menamai air menerobos batas dipakai lagi untuk manusia menerobos batas.
  • Ayat ini bagian ketiga dari rangkaian empat tanda, dan susunannya sejajar dengan susunan tiga ayat lainnya. Jadi keempatnya dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma benda dan kata kerjanya di masing-masing ayat. Kesejajaran rangka itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan keempat ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pengulangan susunan yang sama. Lautan yang meletus menghapus batas yang selama ini menahannya di tempatnya.