وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ

Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar-balik,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْwa-idzaa l-qubuuru bu'tsiratdan apabila kuburan-kuburan dibongkar-balik

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. الْقُبُورُl-qubuurukubur-kubur
  3. بُعْثِرَتْbu'tsiratdibongkar

Inti bacaan

Tanda keempat tentang pembongkaran kubur: 'dan apabila kuburan-kuburan dibongkar-balik', gambaran eksplisit proses kebangkitan, tempat peristirahatan terakhir yang kini terbuka kembali.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (بُعْثِرَتْ, bu'tsirat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menjungkirkan sampai isinya keluar. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 82:4 dan 100:9, dan akar itu tersusun dari empat huruf, bukan tiga.

Kata (الْقُبُورُ, al-qubuur) berasal dari akar yang berarti kubur. Akar itu cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 9:84, 22:7, 35:22, 60:13, 80:21, 82:4, 100:9, dan 102:2. Jadi dua akar sekaligus di ayat ini juga bertemu di 100:9.

Kesejajaran dengan 100:9 patut dicatat, sebab di sana kedua akar itu berdiri berdampingan seperti di sini. Jadi dua ayat di seluruh Al-Qur'an memakai pasangan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (بُعْثِرَتْ, bu'tsirat) di sini berbentuk penderita, sama seperti bentuk di 82:3.

Di 100:9 rangkaian itu berbentuk pertanyaan tentang apakah manusia tidak mengetahui, sedangkan di sini ia berbentuk keterangan waktu. Jadi pasangan yang sama dipakai dengan dua bentuk kalimat yang berbeda.

Bentuk (بُعْثِرَتْ, bu'tsirat) berbentuk penderita, sama seperti bentuk di 82:3. Jadi dua ayat terakhir rangkaiannya memakai bentuk penderita, sedangkan dua ayat pertamanya memakai bentuk yang datang dari bendanya sendiri.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Rangkaian empat tanda ini terbelah dua secara rapi: dua benda langit bergerak sendiri, dan dua benda bumi digerakkan. Al-Qur'an tidak menandai pembelahan itu dengan satu kata pun.

Kata (الْقُبُورُ, al-qubuur) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh kuburan, bukan sebagian. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu kuburan pun yang dikecualikan.

Ayat ini menutup rangkaian empat tanda, dan sesudahnya 82:5 menjawabnya. Jadi empat ayat keterangan waktu dijawab satu kalimat pokok, dan kalimat itu tidak menyebut kehancuran melainkan pengetahuan.

Kata (بُعْثِرَتْ, bu'tsirat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk jamak tak berakal yang mendahuluinya. Jadi keempat ayat pembuka surah ini memakai bentuk yang sama persis, dan yang berbeda cuma benda dan kata kerjanya di masing-masing ayat tanpa satu kata penghubung.

Kata (الْقُبُورُ, al-qubuur) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, dan ia benda terakhir yang disebut di dalam rangkaiannya. Jadi urutan bendanya bergerak dari langit, ke bintang, ke lautan, lalu ke kuburan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun. Susunan itu menutup rangkaian gambarannya dengan benda yang paling dekat kepada manusia, sesudah tiga benda yang jauh darinya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang membongkar kuburan maupun apa yang keluar darinya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian tanda kehancuran dengan dibongkarnya kuburan pada saat kebangkitan, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 82:4 dan 100:9, dan akar itu tersusun dari empat huruf, bukan tiga. Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 9:84, 22:7, 35:22, 60:13, 80:21, 82:4, 100:9, dan 102:2.

Jadi dua akar sekaligus di ayat ini juga bertemu di 100:9. Kesejajaran dengan 100:9 patut dicatat, sebab di sana kedua akar itu berdiri berdampingan seperti di sini.

Di 100:9 rangkaian itu berbentuk pertanyaan tentang apakah manusia tidak mengetahui, sedangkan di sini ia berbentuk keterangan waktu. Jadi pasangan yang sama dipakai dengan dua bentuk kalimat yang berbeda.

Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita, sama seperti bentuk di 82:3. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, dan ia benda terakhir yang disebut di dalam rangkaiannya. Jadi urutan bendanya bergerak dari langit, ke bintang, ke lautan, lalu ke kuburan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun. Jadi rangkaian empat tanda ini terbelah dua secara rapi: dua benda langit bergerak sendiri, dan dua benda bumi digerakkan pihak lain.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 82:4 dan 100:9, dan akar kata keduanya cuma dipakai di 8 ayat termasuk 100:9. Jadi dua akar sekaligus di ayat ini juga bertemu di satu ayat lain, dan Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pertemuan dua akar yang jarang di dua ayat yang berjauhan. Dua akar langka bertemu lagi di satu ayat lain, dan cuma di sana.
  • Di 100:9 pasangan akar yang sama berbentuk pertanyaan tentang apakah manusia tidak mengetahui, sedangkan di sini ia berbentuk keterangan waktu. Jadi Allah memakai pasangan yang sama dengan dua bentuk kalimat yang berbeda di dua surah yang berjauhan. Perbedaan bentuk itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian dua bentuk kalimat berbeda. Dua akar langka bertemu lagi di satu ayat lain, dan cuma di sana.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita, sama seperti bentuk di 82:3. Jadi rangkaian empat tanda ini terbelah dua secara rapi: dua benda langit bergerak sendiri, dan dua benda bumi digerakkan Allah. Al-Qur'an tidak menandai pembelahan itu dengan satu kata pun. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus pembelahan rapi yang dibangun susunan empat ayatnya. Kuburan yang dibongkar menutup daftar tempat yang pernah dianggap akhir.
  • Akar kata kerjanya tersusun dari empat huruf, bukan tiga, dan ia cuma dipakai Allah di 2 ayat. Jadi bentuknya berdiri di luar pola akar yang paling lazim di dalam Al-Qur'an, dan kelangkaannya berlipat: akarnya jarang dan susunan hurufnya pun tidak biasa. Susunan akar itu bisa diperiksa siapa pun di dalam korpus morfologi, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan akar berhuruf empat untuk ayat ini. Kuburan yang dibongkar menutup daftar tempat yang pernah dianggap akhir.
  • Kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh kuburan, bukan sebagian. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan tidak ada satu kuburan pun yang dikecualikan di dalam ayat ini walau sekali. Ketiadaan pengecualian itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh penakrifannya. Kuburan yang dibongkar menutup daftar tempat yang pernah dianggap akhir. Kuburan yang dibongkar menutup daftar tempat yang pernah dianggap akhir.
  • Ayat ini menutup rangkaian empat tanda, dan sesudahnya 82:5 menjawabnya. Apa yang dinyatakan Allah ketika empat gambaran kehancuran alam dijawab bukan dengan gambaran kelima, melainkan dengan satu kalimat tentang jiwa yang mengetahui perbuatannya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat sesudahnya, dan memisahkan keduanya berarti kehilangan jawaban yang menutup seluruh rangkaian gambarannya. Dua akar langka bertemu lagi di satu ayat lain, dan cuma di sana.