عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan dilalaikannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ'alimat nafsun maa qaddamat wa-akhkharatsetiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan dilalaikannya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. عَلِمَتْ'alimatmengetahui
  2. نَفْسٌnafsunsatu jiwa
  3. مَاmaaapa yang
  4. قَدَّمَتْqaddamatmengirimkan lebih dulu
  5. وَأَخَّرَتْwa-akhkharatdan menangguhkan

Inti bacaan

Kesadaran penuh yang menyertai kebangkitan: 'setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya)', cakupan yang mencakup baik tindakan aktif maupun kelalaian, akuntabilitas menyeluruh atas apa yang dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan namun diabaikan.

Penjelasan pilihan kata

Sufiks "-nya" dilekatkan langsung tanpa tanda kurung.

Rangkaian (قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ, qaddamat wa akhkharat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua kata kerjanya berpola kedua dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti jiwa yang disebut di depannya.

Kata (نَفْسٌ, nafs) berasal dari akar yang berarti napas dan jiwa. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:19. Jadi satu akar mengikat jiwa yang mengetahui perbuatannya dan jiwa yang tidak berkuasa atas jiwa lain.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini jiwa mengetahui apa yang dikerjakannya sendiri, dan di 82:19 ia tidak memiliki apa pun bagi jiwa yang lain. Jadi satu akar mengikat ayat kelima dan ayat penutup surahnya.

Kata (نَفْسٌ, nafs) tidak bertakrif, sehingga yang disebut setiap jiwa, bukan satu jiwa tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 82:19 dengan dua kali penyebutan.

Kata kerja (عَلِمَتْ, 'alimat) berasal dari akar yang berarti mengetahui. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:12. Jadi satu akar mengikat pengetahuan jiwa atas dirinya dan pengetahuan penjaga atas perbuatannya.

Kata (مَا, maa) di ayat ini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi isi perbuatannya tidak dinamai sama sekali, dan menyisipkan namanya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin.

Kedua kata kerja di ujung ayat berlawanan artinya, yaitu mendahulukan dan mengakhirkan. Jadi seluruh perbuatan dicakup lewat dua ujungnya, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Kata (نَفْسٌ, nafs) di sini tidak bertakrif, sehingga yang disebut setiap jiwa.

Ayat ini jawaban bagi empat ayat keterangan waktu sebelumnya, dan ia kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri. Jadi pembicaraan berpindah dari alam kepada jiwa tanpa satu kata penghubung.

Kata (عَلِمَتْ, 'alimat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi pengetahuan itu dinyatakan sebagai yang sudah berlangsung, dan kepastiannya terbawa di dalam bentuk waktunya, sama seperti bentuk yang dipakai di empat ayat sebelumnya di dalam surah ini.

Kata (نَفْسٌ, nafs) berasal dari akar yang berarti napas dan jiwa. Akar itu dipakai di 270 ayat, antara lain 2:48, 6:93, 17:14, 39:42, dan 91:7. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk jiwa yang menghadapi catatannya sendiri, bukan untuk jiwa yang dicabut maupun yang disucikan. Susunan itu menjawab empat gambaran kehancuran dengan satu kalimat tentang jiwa, bukan dengan gambaran kelima. Al-Qur'an tidak menyebut jiwa siapa maupun perbuatan apa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata yang menutup seluruh bagian pembuka surahnya.

Tafsiran

Ayat ini menyimpulkan rangkaian tanda kehancuran: setiap jiwa akan mengetahui hasil perbuatannya, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Kedua kata kerjanya berpola kedua dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti jiwa yang disebut di depannya. Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:19.

Jadi satu akar mengikat jiwa yang mengetahui perbuatannya dan jiwa yang tidak berkuasa atas jiwa lain. Di sini jiwa mengetahui apa yang dikerjakannya sendiri, dan di 82:19 ia tidak memiliki apa pun bagi jiwa yang lain.

Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:12. Jadi satu akar mengikat pengetahuan jiwa atas dirinya dan pengetahuan penjaga atas perbuatannya.

Ayat ini jawaban bagi empat ayat keterangan waktu sebelumnya, dan ia kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri. Kata pertamanya berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi pengetahuan itu dinyatakan sebagai yang sudah berlangsung, dan kepastiannya terbawa di dalam bentuk waktunya. Akar kata keduanya dipakai di 270 ayat, antara lain 2:48, 6:93, 17:14, 39:42, dan 91:7. Jadi pembicaraan berpindah dari alam kepada jiwa tanpa satu kata penghubung, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu dengan apa pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan 82:19. Di sini jiwa mengetahui apa yang dikerjakannya sendiri, dan di 82:19 ia tidak memiliki apa pun bagi jiwa yang lain. Jadi satu akar mengikat ayat kelima dan ayat penutup surah Allah ini. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat ayat kelima dan ayat penutup surahnya. Empat gambaran kehancuran dijawab satu kalimat tentang jiwa, bukan gambaran kelima.
  • Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan 82:12. Jadi satu akar mengikat pengetahuan jiwa atas dirinya dan pengetahuan penjaga atas perbuatannya, dan Allah tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua pengetahuan yang berbeda waktunya. Yang dikerjakan dan yang ditinggalkan sama-sama dihitung tanpa satu pengecualian.
  • Kedua kata kerja di ujung ayat berlawanan artinya, yaitu mendahulukan dan mengakhirkan. Jadi Allah mencakup seluruh perbuatan lewat dua ujungnya, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini di mana pun. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua kata berlawanan berdiri bersebelahan di ujung ayatnya. Empat gambaran kehancuran dijawab satu kalimat tentang jiwa, bukan gambaran kelima.
  • Kata keduanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut setiap jiwa, bukan satu jiwa tertentu. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 82:19 dengan dua kali penyebutan di dalam satu ayat. Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Yang dikerjakan dan yang ditinggalkan sama-sama dihitung tanpa satu pengecualian.
  • Kata ketiganya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi Allah tidak menamai isi perbuatannya sama sekali. Apa yang dibayangkan pembaca ketika yang akan diketahuinya kelak justru dibiarkan kosong tanpa satu rincian pun? Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan kosong oleh kata sambungnya. Empat gambaran kehancuran dijawab satu kalimat tentang jiwa, bukan gambaran kelima.
  • Ayat ini jawaban bagi empat ayat keterangan waktu sebelumnya, dan ia kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri. Jadi pembicaraan berpindah dari alam kepada jiwa tanpa satu kata penghubung, dan Allah tidak menandai peralihan itu. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa pokok pembicaraannya sudah berganti sama sekali. Yang dikerjakan dan yang ditinggalkan sama-sama dihitung tanpa satu pengecualian.