فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

Dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَfii ayyi shuuratin maa syaa'a rakkabakadalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فِيfiidalam
  2. أَيِّayyiapakah
  3. صُورَةٍshuuratinrupa
  4. مَاmaaapa yang
  5. شَاءَsyaa'amenghendaki
  6. رَكَّبَكَrakkabakamenyusunmu

Inti bacaan

Kebebasan desain dalam kerangka kehendak ilahi: 'dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu', pengakuan bahwa variasi bentuk fisik manusia (tinggi, pendek, berbagai karakteristik) sepenuhnya berada dalam kendali dan kehendak pencipta.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (رَكَّبَكَ, rakkabaka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menaiki dan menyusun. Ia dipakai di 15 ayat, antara lain 11:41, 16:8, 17:64, 29:65, dan 84:19, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai menaiki kendaraan.

Jadi akar yang di belasan ayat menamai menaiki kendaraan, di sini menamai penyusunan bentuk tubuh. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya sendiri. Kata (رَكَّبَكَ, rakkabaka) di sini menutup ayatnya, dan bentuknya berpola kedua.

Kata (صُورَةٍ, shuurah) berasal dari akar yang berarti membentuk rupa. Akar itu dipakai di 17 ayat, antara lain 3:6, 7:11, 40:64, 59:24, dan 64:3. Di 3:6 dan 40:64 akar itu dipakai untuk Allah yang membentuk manusia di dalam rahim.

Kata kerja (شَاءَ, syaa-a) berasal dari akar yang berarti menghendaki. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:19. Jadi satu akar mengikat kehendak-Nya dalam membentuk manusia dan kekuasaan-Nya pada hari pembalasan.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini kehendak-Nya menentukan bentuk manusia, dan di 82:19 seluruh urusan berada pada-Nya. Jadi satu akar mengikat awal dan akhir keberadaan manusia di dalam satu surah pendek.

Kata (أَيِّ, ayyi) menyatakan pilihan yang tidak dibatasi, sehingga bentuk yang mungkin dibiarkan tanpa daftar. Jadi cakupannya seluas mungkin, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu bentuk pun sebagai contohnya.

Kata (صُورَةٍ, shuurah) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bentuk sebagai jenis, bukan satu bentuk tertentu. Jadi kebebasan kehendak itu dinyatakan dua kali: lewat kata pilihannya dan lewat ketiadaan penakrifannya.

Ayat ini menutup bagian tentang penciptaan, dan sesudahnya 82:9 berpindah kepada pendustaan. Jadi tiga ayat penciptaan berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya bantahan yang dibuka dengan kata penolak.

Kata (مَا, maa) di ayat ini kata tambahan yang menguatkan, bukan kata sambung maupun huruf pengingkaran. Jadi satu bunyi berdiri dengan tiga kedudukan yang berbeda di dalam surah ini, dan pembacanya harus menimbang kedudukannya dari susunan kalimatnya, bukan dari bunyinya sendiri.

Kata (فِي, fii) di awal ayat menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga bentuk tubuh dilukiskan sebagai wadah, bukan sebagai hasil. Jadi manusia disebut disusun ke dalam bentuk, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun. Susunan itu membuat kebebasan kehendak-Nya terbaca sebagai penutup rangkaian penciptaan. Al-Qur'an tidak menyebut bentuk apa saja yang mungkin maupun mengapa satu bentuk dipilih, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang mengakhiri bagian kedua surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian penciptaan dengan penegasan kebebasan kehendak Allah dalam membentuk manusia, dan kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya dipakai di 15 ayat, antara lain 11:41, 16:8, 17:64, 29:65, dan 84:19, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai menaiki kendaraan. Jadi akar yang di belasan ayat menamai menaiki kendaraan, di sini menamai penyusunan bentuk tubuh.

Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 17 ayat, antara lain 3:6, 7:11, 40:64, 59:24, dan 64:3. Di 3:6 dan 40:64 akar itu dipakai untuk Allah yang membentuk manusia di dalam rahim.

Kata kerja kelimanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 82:19. Jadi satu akar mengikat kehendak-Nya dalam membentuk manusia dan kekuasaan-Nya pada hari pembalasan.

Ayat ini menutup bagian tentang penciptaan, dan sesudahnya 82:9 berpindah kepada pendustaan. Kata keempatnya kata tambahan yang menguatkan, bukan kata sambung maupun huruf pengingkaran. Jadi satu bunyi berdiri dengan tiga kedudukan yang berbeda di dalam surah ini, dan pembacanya harus menimbang kedudukannya dari susunan kalimatnya, bukan dari bunyinya sendiri. Jadi tiga ayat penciptaan berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya bantahan yang dibuka dengan kata penolak tanpa satu kata penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 15 ayat, antara lain 11:41, 16:8, 17:64, 29:65, dan 84:19. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai menaiki kendaraan, dan di sini ia menamai penyusunan bentuk tubuh. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan akar yang biasanya menamai menaiki kendaraan. Kebebasan memilih bentuk dinyatakan tanpa satu contoh bentuk pun disebutkan.
  • Kata kerja kelimanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:8 dan 82:19. Di sini kehendak Allah menentukan bentuk manusia, dan di 82:19 seluruh urusan berada pada-Nya. Jadi satu akar mengikat awal dan akhir keberadaan manusia di dalam satu surah pendek. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat awal dan akhir keberadaan manusia. Akar yang menamai kehendak-Nya di awal muncul lagi di ayat penutup surahnya.
  • Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai Allah di 17 ayat, antara lain 3:6, 7:11, 40:64, 59:24, dan 64:3. Di 3:6 dan 40:64 akar itu dipakai untuk Dia yang membentuk manusia di dalam rahim, sedangkan di sini ia menamai bentuk yang dipilih-Nya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk rahim dan untuk hari kiamat. Akar yang menamai kehendak-Nya di awal muncul lagi di ayat penutup surahnya.
  • Kata keduanya menyatakan pilihan yang tidak dibatasi, dan kata ketiganya tidak bertakrif. Jadi kebebasan kehendak Allah dinyatakan dua kali di dalam satu ayat pendek: lewat kata pilihannya dan lewat ketiadaan penakrifannya, tanpa satu kata penegas pun. Kebebasan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri, dan terjemahan yang menambahkan batas akan mengurangi apa yang dinyatakan dua penanda itu sekaligus. Kebebasan memilih bentuk dinyatakan tanpa satu contoh bentuk pun disebutkan.
  • Kata keduanya menyatakan pilihan yang tidak dibatasi, sehingga bentuk yang mungkin dibiarkan tanpa daftar. Apa yang dinyatakan Allah ketika Dia menyebut kebebasan-Nya memilih bentuk manusia tanpa menyebut satu bentuk pun sebagai contohnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata itu, dan menambahkan contoh bentuknya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya sendiri. Kebebasan memilih bentuk dinyatakan tanpa satu contoh bentuk pun disebutkan.
  • Ayat ini menutup bagian tentang penciptaan, dan sesudahnya 82:9 berpindah kepada pendustaan. Jadi tiga ayat penciptaan berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya bantahan Allah yang dibuka dengan kata penolak tanpa satu kata penghubung. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa bagian penciptaan sudah berhenti di ayat ini. Akar yang menamai kehendak-Nya di awal muncul lagi di ayat penutup surahnya.