كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ
Sekali-kali tidak! Bahkan, kalian mendustakan pertanggungjawaban.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِkallaa bal tukadzdzibuuna bi-d-diinisekali-kali tidak, bahkan kalian mendustakan pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (4 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- بَلْbalbahkan
- تُكَذِّبُونَtukadzdzibuunakalian mendustakan
- بِالدِّينِbi-d-diinipada hari Pertanggungjawaban
Inti bacaan
Diagnosis akar masalah yang sesungguhnya: 'jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kalian mendustakan pertanggungjawaban', pengungkapan bahwa di balik ketidaktahuan tentang alasan durhaka, sesungguhnya terdapat penolakan mendasar terhadap konsep akuntabilitas itu sendiri.
Penjelasan pilihan kata
"Kallaa" distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!", konsisten dengan 80:11 dan 80:23.
Kata (بِالدِّينِ, bi-d-diin) berasal dari akar yang berarti tunduk dan pembalasan. Akar itu dipakai di 87 ayat, antara lain 1:4, 2:193, 24:2, 51:6, dan 107:1. Di dalam surah ini akar itu berdiri di empat ayat, yaitu ayat ini, 82:15, 82:17, dan 82:18, sehingga ia akar yang paling menyebar di dalam surahnya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini akar itu menamai apa yang didustakan, dan di tiga ayat lainnya ia menamai hari pembalasan. Jadi yang didustakan di ayat ini justru hari yang tiga kali disebut sesudahnya. Kata (بِالدِّينِ, bi-d-diin) di sini bertakrif, dan hurufnya menyatakan sasaran pendustaan.
Kata (كَلَّا, kallaa) berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan ia membuka bagian ketiga surah ini. Jadi delapan ayat pertama tentang alam dan penciptaan, dan mulai ayat ini pembicaraan berpindah kepada sikap manusia.
Kata (بَلْ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia datang tepat sesudah kata penolak. Jadi satu ayat pendek memuat dua kata pembalik sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.
Bentuk (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuun) berorang kedua jamak, sedangkan tiga ayat sebelumnya berorang kedua tunggal. Jadi pihak yang disapa berganti dari satu orang menjadi banyak orang, dan Al-Qur'an tidak menandai pergantian itu.
Bentuk (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuun) berbentuk sekarang, sehingga pendustaan itu dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi ia tidak disebut sebagai satu keputusan yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.
Huruf ba di depan (بِالدِّينِ, bi-d-diin) menyatakan sasaran pendustaan, sehingga yang didustakan disebut dengan jelas di ayat ini. Jadi ia berbeda dari susunan di surah lain yang membiarkan sasarannya kosong.
Ayat ini membuka bagian ketiga surah ini, dan bagian itu berjalan sampai 82:12. Jadi empat ayat berturut-turut membicarakan pendustaan dan para penjaga yang mencatatnya.
Kata (بِالدِّينِ, bi-d-diin) bertakrif, sehingga yang didustakan perkara yang sudah tertentu, bukan sembarang pertanggungjawaban. Jadi Al-Qur'an menunjuk satu perkara yang dianggap dikenali, dan nama lengkapnya baru disebut tiga kali di bagian penutup surahnya tanpa satu kata penghubung.
Bentuk (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuun) berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri. Jadi perbuatannya tertuju kepada sesuatu di luar dirinya, dan perbedaan pola itu terbawa di dalam huruf tambahannya sendiri tanpa satu kata penjelas pun. Susunan itu membuat bantahan terbaca lebih dulu dan sebabnya belakangan, sehingga penolakan sampai sebelum alasannya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang mendustakan dengan nama maupun sejak kapan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang membuka bagian ketiga surah ini.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa akar kelalaian manusia adalah pendustaan terhadap pertanggungjawaban, dan kata terakhirnya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 82:15, 82:17, dan 82:18.
Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya. Di sini akar itu menamai apa yang didustakan, dan di tiga ayat lainnya ia menamai hari pembalasan.
Jadi yang didustakan di ayat ini justru hari yang tiga kali disebut sesudahnya, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata pertamanya berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi satu ayat pendek memuat dua kata pembalik sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.
Bentuk kata ketiganya berorang kedua jamak, sedangkan tiga ayat sebelumnya berorang kedua tunggal. Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang didustakan perkara yang sudah tertentu, bukan sembarang pertanggungjawaban. Bentuk kata ketiganya berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri, dan perbuatannya tertuju kepada sesuatu di luar dirinya. Jadi delapan ayat pertama tentang alam dan penciptaan, dan mulai ayat ini pembicaraan berpindah kepada sikap manusia beserta para penjaganya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 82:9, 82:15, 82:17, dan 82:18. Di sini akar itu menamai apa yang didustakan, dan di tiga ayat lainnya ia menamai hari pembalasan. Jadi yang didustakan justru hari yang tiga kali disebut Allah sesudahnya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan satu akar di empat ayat surah pendek ini. Yang didustakan adalah hari yang namanya diulang tiga kali di penutup surahnya.
- Kata pertamanya berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi satu ayat pendek memuat dua kata pembalik sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua kata pembalik berdiri bersebelahan di awal ayat yang sama. Dua kata pembalik berdiri bersebelahan, dan keduanya menolak sebelum menyatakan.
- Bentuk kata ketiganya berorang kedua jamak, sedangkan tiga ayat sebelumnya berorang kedua tunggal. Jadi pihak yang disapa berganti dari satu orang menjadi banyak orang, dan Allah tidak menandai pergantian itu dengan satu kata penghubung pun. Peralihan itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa yang disapa sekarang banyak orang, bukan satu orang. Dua kata pembalik berdiri bersebelahan, dan keduanya menolak sebelum menyatakan.
- Bentuk kata ketiganya berbentuk sekarang, sehingga pendustaan itu dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi Allah tidak menyebutnya sebagai satu keputusan yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk lampau akan menutup kemungkinan mereka masih bisa berubah. Yang didustakan adalah hari yang namanya diulang tiga kali di penutup surahnya.
- Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan sasaran pendustaan, sehingga yang didustakan disebut dengan jelas di ayat ini. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika Allah menyebut sasarannya, dibandingkan ketika Dia membiarkannya kosong seperti di surah lain? Perbedaan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan susunannya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebutan sasarannya di ayat ini saja. Dua kata pembalik berdiri bersebelahan, dan keduanya menolak sebelum menyatakan.
- Ayat ini membuka bagian ketiga surah ini, dan bagian itu berjalan sampai 82:12. Jadi delapan ayat pertama tentang alam dan penciptaan, dan mulai ayat ini pembicaraan Allah berpindah kepada sikap manusia beserta para penjaga yang mencatatnya. Pembagian bagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan panjang bagiannya. Yang didustakan adalah hari yang namanya diulang tiga kali di penutup surahnya.