كِرَامًا كَاتِبِينَ
Yang mulia dan mencatat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كِرَامًا كَاتِبِينَkiraaman kaatibiinayang mulia dan mencatat
Terjemahan per kata (2 kata)
- كِرَامًاkiraamanyang mulia
- كَاتِبِينَkaatibiinapara pencatat
Inti bacaan
Kualitas para pencatat: 'yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu)', penegasan bahwa pencatatan dilakukan oleh entitas yang terpercaya dan dihormati, menjamin akurasi dokumentasi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(di sisi Allah)" dan "(amal perbuatanmu)" tidak dipakai.
Rangkaian (كِرَامًا كَاتِبِينَ, kiraaman kaatibiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, mengikuti kata terakhir di 82:10 yang juga tidak bertakrif.
Kata (كِرَامًا, kiraaman) berasal dari akar yang berarti mulia dan murah hati. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:6 dan ayat ini. Di 82:6 akar itu menjadi gelar Allah, dan di sini ia menjadi sifat para penjaga.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar dipakai untuk Yang disembah dan untuk hamba-Nya yang mencatat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian ganda itu dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang. Kata (كَاتِبِينَ, kaatibiin) di sini berbentuk pelaku, bukan bentuk penderita.
Kata (كَاتِبِينَ, kaatibiin) berasal dari akar yang berarti menulis dan menetapkan. Akar itu dipakai di 279 ayat, antara lain 2:79, 4:103, 9:120, 18:49, dan 45:29. Di 18:49 akar itu dipakai untuk kitab catatan yang tidak meninggalkan satu perkara pun.
Kedua kata di ayat ini berbentuk pelaku, sehingga keduanya menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang berlangsung. Jadi mulia dan mencatat disebut sebagai keadaan tetap, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Kata (كِرَامًا, kiraaman) mendahuluinya, dan keduanya berbaris fathah.
Susunan ayat ini menaruh sifat mulia lebih dulu dan pekerjaan mencatat belakangan. Jadi Al-Qur'an menyebut kemuliaan mereka sebelum menyebut apa yang mereka kerjakan, dan urutan itu tidak diterangkan.
Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang penjaga, dan ia berdiri sebagai keterangan bagi kata terakhir di 82:10. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang disifatinya.
Kata (كِرَامًا, kiraaman) berbaris fathah karena menerangkan kata terakhir di 82:10, dan kata sesudahnya mengikuti baris yang sama. Jadi dua kata di ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya, dan kedudukan i'rabnya ditentukan di luar ayat ini sendiri tanpa satu kata penunjuk pun.
Bentuk (كَاتِبِينَ, kaatibiin) berbentuk jamak, sama seperti bentuk kata terakhir di 82:10. Jadi tiga kata dari dua ayat berturut-turut sama-sama berbentuk jamak, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu gambaran yang tidak terpisah. Susunan itu membuat dua sifat terbaca sebagai satu pasangan yang tidak terpisah. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang membuat mereka mulia maupun dengan apa mereka mencatat, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata yang bergantung pada ayat sebelumnya untuk dimengerti.
Tafsiran
Ayat ini merinci sifat penjaga tersebut: mulia dan mencatat, dan rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Kedua katanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, mengikuti kata terakhir di 82:10 yang juga tidak bertakrif. Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:6 dan ayat ini.
Di 82:6 akar itu menjadi gelar Allah, dan di sini ia menjadi sifat para penjaga. Jadi satu akar dipakai untuk Yang disembah dan untuk hamba-Nya yang mencatat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian ganda itu dengan satu kalimat pun.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 279 ayat, antara lain 2:79, 4:103, 9:120, 18:49, dan 45:29. Di 18:49 akar itu dipakai untuk kitab catatan yang tidak meninggalkan satu perkara pun.
Kedua kata di ayat ini berbentuk pelaku, sehingga keduanya menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang berlangsung. Kata pertamanya berbaris fathah karena menerangkan kata terakhir di 82:10, dan kata sesudahnya mengikuti baris yang sama. Jadi dua kata di ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya, dan kedudukan i'rabnya ditentukan di luar ayat ini sendiri tanpa satu kata penunjuk pun. Jadi Al-Qur'an menyebut kemuliaan mereka sebelum menyebut apa yang mereka kerjakan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:6 dan 82:11. Di 82:6 akar itu menjadi gelar Allah, dan di sini ia menjadi sifat para penjaga. Jadi satu akar dipakai untuk Yang disembah dan untuk hamba-Nya yang mencatat. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk Allah dan untuk penjaga-Nya. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 279 ayat, antara lain 2:79, 4:103, 9:120, 18:49, dan 45:29. Di 18:49 akar itu dipakai untuk kitab catatan yang tidak meninggalkan satu perkara pun, baik yang kecil maupun yang besar. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang menamai penulisan kitab. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat.
- Kedua kata di ayat ini berbentuk pelaku, sehingga keduanya menyatakan sifat yang melekat, bukan perbuatan yang berlangsung. Jadi Allah menyebut mulia dan mencatat sebagai keadaan tetap, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang memakai kata kerja akan mengubah sifat yang melekat menjadi perbuatan yang berjalan. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya.
- Susunan ayat ini menaruh sifat mulia lebih dulu dan pekerjaan mencatat belakangan. Apa yang berubah pada gambaran sebuah pencatatan ketika Allah menyebut kemuliaan pencatatnya sebelum menyebut apa yang mereka kerjakan? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa kemuliaan disebut lebih dulu daripada pekerjaannya di dalam susunan ayatnya. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat. Satu akar dipakai untuk gelar Allah dan untuk sifat hamba yang mencatat.
- Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tidak ada satu tempat lain pun yang memakai dua kata itu berdampingan, dan pembacanya cuma punya ayat ini untuk menimbang apa yang dimaksudkan Allah dengan pasangan itu. Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata itu, dan menerangkannya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam ayat ini sendiri. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya.
- Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang penjaga, dan ia berdiri sebagai keterangan bagi kata terakhir di 82:10. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang disifati Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang sedang disifati susunannya. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya. Kemuliaan pencatat disebut lebih dulu daripada pekerjaan mencatatnya.