إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍinna l-abraara la-fii na'iiminsesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الْأَبْرَارَl-abraaraorang-orang yang berbakti
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- نَعِيمٍna'iiminkenikmatan
Inti bacaan
Hasil bagi golongan berbakti: 'sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan', konsekuensi positif yang jelas bagi mereka yang menjalani hidup dengan kebajikan tulus.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْأَبْرَارَ, al-abraar) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 76:5, 82:13, dan 83:22. Kesejajaran dengan 83:22 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini di dalam susunan mushaf.
Kata (نَعِيمٍ, na'iim) muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 52:17, 56:89, 70:38, 82:13, dan 83:22. Jadi dua kata di ayat ini berkumpul lagi di 83:22, dan tidak ada ayat lain yang memakai keduanya berdampingan.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua surah yang bersebelahan memakai pasangan kata yang sama untuk menyebut orang berbakti dan kenikmatan mereka. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Akar (الْأَبْرَارَ, al-abraar) berarti berbuat baik dan berbakti. Akar itu dipakai di 30 ayat, antara lain 2:177, 3:92, 19:14, 80:16, dan 83:18. Di 2:177 akar itu dipakai untuk kebaikan yang dirinci sebagai iman dan pemberian harta.
Huruf lam di dalam (لَفِي, la-fii) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, sama seperti susunan di 82:10 dan 82:14.
Kata (نَعِيمٍ, na'iim) tidak bertakrif, sehingga yang disebut kenikmatan sebagai jenis, bukan satu kenikmatan tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis.
Kata (لَفِي, la-fii) menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga kenikmatan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai pemberian. Jadi mereka disebut berada di dalamnya, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf.
Ayat ini membuka bagian keempat surah ini, dan bagian itu berjalan sampai 82:16. Jadi empat ayat berturut-turut membicarakan dua golongan dan balasan masing-masing.
Bentuk (الْأَبْرَارَ, al-abraar) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh orang berbakti sebagai golongan. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan bentuk yang sama dipakai di 82:14 untuk golongan yang berlawanan tanpa satu kata pembeda di antara keduanya.
Kata (إِنَّ, inna) di awal ayat huruf penegas, dan pasangannya dipakai di 82:14 dengan tambahan kata sambung. Jadi dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua, dan membaca salah satunya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya yang menyusul. Susunan itu membuat kenikmatan terbaca sebagai tempat yang melingkupi, bukan sebagai pemberian yang diterima, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja. Al-Qur'an tidak menyebut siapa saja yang termasuk golongan itu maupun apa wujud kenikmatannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini beralih menggambarkan balasan bagi orang-orang yang berbakti, dan kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 76:5, 82:13, dan 83:22.
Kata terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 52:17, 56:89, 70:38, 82:13, dan 83:22. Jadi dua kata di ayat ini berkumpul lagi di 83:22, dan tidak ada ayat lain yang memakai keduanya berdampingan.
Kesejajaran dengan 83:22 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai pasangan kata yang sama untuk menyebut orang berbakti dan kenikmatan mereka.
Akar kata keduanya dipakai di 30 ayat, antara lain 2:177, 3:92, 19:14, 80:16, dan 83:18. Di 2:177 akar itu dipakai untuk kebaikan yang dirinci sebagai iman dan pemberian harta.
Huruf di dalam kata ketiganya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Bentuk kata keduanya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut seluruh orang berbakti sebagai golongan. Kata pertamanya huruf penegas, dan pasangannya dipakai di 82:14 dengan tambahan kata sambung, sehingga dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua. Jadi empat ayat berturut-turut membicarakan dua golongan dan balasan masing-masing, dan bagian itu baru ditutup di 82:16.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 76:5, 82:13, dan 83:22, dan kata terakhirnya muncul 5 kali termasuk di 83:22. Jadi dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat lain, dan tidak ada ayat ketiga yang memakai keduanya berdampingan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pertemuan dua kata itu lagi di satu ayat lain. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.
- Kesejajaran dengan 83:22 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sesudah surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai pasangan kata yang sama untuk menyebut orang berbakti dan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada mereka. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua surah bersebelahan memakai pasangan kata yang sama. Dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat surah tetangganya.
- Akar kata keduanya dipakai Allah di 30 ayat, antara lain 2:177, 3:92, 19:14, 80:16, dan 83:18. Di 2:177 akar itu dipakai untuk kebaikan yang dirinci sebagai iman dan pemberian harta, sedangkan di sini ia menamai orangnya tanpa satu rincian pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penyebutan orangnya tanpa satu rincian pun. Dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat surah tetangganya.
- Kata ketiganya menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga kenikmatan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai pemberian. Jadi Allah menyebut mereka berada di dalamnya, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah tempat yang melingkupi menjadi pemberian yang diterima. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.
- Huruf di dalam kata ketiganya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, sama seperti susunan yang dipakai Allah di 82:10 dan 82:14. Kepadatan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian dua penegas di ketiganya. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut kenikmatan sebagai jenis, bukan satu kenikmatan tertentu. Apa yang dibayangkan pembaca ketika Allah menjanjikan kenikmatan tanpa menyebut satu pun wujudnya di dalam ayat ini? Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Dua kata di ayat ini berkumpul lagi di satu ayat surah tetangganya. Kenikmatan dilukiskan sebagai tempat yang melingkupi, bukan pemberian yang dibagikan.