يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

Hari ketika seseorang tak berkuasa apa pun bagi orang lain; dan urusan pada hari itu milik Allah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًاyawma laa tamliku nafsun li-nafsin syay'anhari ketika seseorang tak berkuasa apa pun bagi orang lain
  2. وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِwa-l-amru yawma'idzin li-llaahidan urusan pada hari itu milik Allah

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. لَاlaatidak
  3. تَمْلِكُtamlikumemiliki
  4. نَفْسٌnafsunsatu jiwa
  5. لِنَفْسٍli-nafsinbagi seseorang
  6. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  7. وَالْأَمْرُwa-l-amrudan urusan
  8. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  9. لِلَّهِli-llaahibagi Allah

Inti bacaan

Puncak penegasan kedaulatan tunggal: 'hari ketika seseorang tak berkuasa apa pun bagi orang lain; dan urusan pada hari itu milik Allah', penutup surah yang menegaskan bahwa pada momen krusial tersebut, seluruh kendali dan otoritas sepenuhnya berada pada satu sumber, tanpa perantara atau bantuan pihak lain yang efektif.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (لَا تَمْلِكُ, laa tamliku) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 46:8 dan 82:19. Di 46:8 rangkaian itu dipakai untuk menyatakan bahwa Nabi tidak berkuasa sedikit pun atas apa yang datang dari Allah.

Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk ketidakberdayaan, dan yang di 46:8 tentang seorang nabi sedangkan yang di sini tentang setiap jiwa. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (نَفْسٌ, nafs) disebut dua kali di dalam ayat ini, sekali sebagai yang tidak berkuasa dan sekali sebagai yang tidak ditolong. Jadi satu kata berdiri di dua kedudukan yang berlawanan di dalam satu kalimat.

Akar (نَفْسٌ, nafs) berarti napas dan jiwa. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan ayat ini. Kesejajaran dengan 82:5 patut dicatat, sebab di sana jiwa mengetahui perbuatannya sendiri.

Jadi jiwa yang mengetahui perbuatannya di 82:5 adalah jiwa yang tidak bisa menolong siapa pun di sini. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya.

Rangkaian (يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ, yauma-idzin li-llaah) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 22:56 dan 82:19. Di 22:56 rangkaian itu dipakai untuk menyatakan bahwa kerajaan pada hari itu milik Allah.

Kata (وَالْأَمْرُ, wa-l-amr) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 7:54, 27:33, dan 82:19. Di 7:54 kata yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa penciptaan dan urusan adalah milik-Nya.

Ayat penutup ini yang paling panjang di dalam surah ini, dan ia satu-satunya ayat yang memuat nama Allah. Jadi delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhan, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja.

Kata (شَيْئًا, syai-an) berasal dari akar yang berarti menghendaki. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:8 dan ayat ini. Jadi akar yang di 82:8 menamai kehendak Allah dalam membentuk manusia, di sini menamai sesuatu yang tidak dimiliki satu jiwa pun bagi jiwa yang lain.

Kata (يَوْمَ, yauma) di awal ayat berbaris fathah sebagai keterangan waktu, sedangkan bentuk yang sama di 82:17 dan 82:18 berbaris damah sebagai pokok kalimat. Jadi satu kata berdiri dengan dua kedudukan yang berbeda di tiga ayat penutup yang berturut-turut. Susunan itu menutup surahnya dengan penyerahan seluruh urusan, sesudah dua pertanyaan yang tidak dijawab satu kalimat pun di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menyebut jiwa siapa maupun urusan apa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma sembilan kata yang mengakhiri sembilan belas ayat surah ini dengan satu-satunya penyebutan nama-Nya di sepanjang seluruh ayatnya.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menegaskan bahwa pada Hari Pertanggungjawaban, seluruh kendali sepenuhnya berada di tangan Allah, dan rangkaian dua kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 46:8 dan 82:19.

Di 46:8 rangkaian itu dipakai untuk menyatakan bahwa Nabi tidak berkuasa sedikit pun atas apa yang datang dari Allah. Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk ketidakberdayaan.

Kata keempatnya disebut dua kali di dalam ayat ini, sekali sebagai yang tidak berkuasa dan sekali sebagai yang tidak ditolong. Akar kata itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan ayat ini.

Jadi jiwa yang mengetahui perbuatannya di 82:5 adalah jiwa yang tidak bisa menolong siapa pun di sini. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 22:56 dan 82:19.

Ayat penutup ini yang paling panjang di dalam surah ini, dan ia satu-satunya ayat yang memuat nama Allah. Kata keenamnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:8 dan ayat ini. Jadi akar yang di 82:8 menamai kehendak Allah dalam membentuk manusia, di sini menamai sesuatu yang tidak dimiliki satu jiwa pun bagi jiwa yang lain. Jadi delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhan, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja tanpa satu penyebutan nama pun.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 46:8 dan 82:19. Di 46:8 rangkaian itu dipakai untuk menyatakan bahwa Nabi tidak berkuasa sedikit pun atas apa yang datang dari Allah, sedangkan di sini ia dipakai untuk setiap jiwa. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian rangkaian yang sama untuk dua pihak berbeda. Jiwa yang mengetahui perbuatannya adalah jiwa yang tidak bisa menolong siapa pun.
  • Akar kata keempatnya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 82:5 dan 82:19. Jadi jiwa yang mengetahui perbuatannya di 82:5 adalah jiwa yang tidak bisa menolong siapa pun di sini, dan Allah tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung pun. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat ayat kelima dan ayat penutup surahnya. Nama-Nya ditahan sampai kata terakhir surah, sesudah delapan belas ayat tanpa nama.
  • Kata keempatnya disebut dua kali di dalam ayat ini, sekali sebagai yang tidak berkuasa dan sekali sebagai yang tidak ditolong. Jadi Allah menaruh satu kata di dua kedudukan yang berlawanan di dalam satu kalimat, dan pengulangan itu yang melukiskan keterputusannya. Pengulangan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu kata berdiri dua kali dengan dua kedudukan yang berlawanan. Nama-Nya ditahan sampai kata terakhir surah, sesudah delapan belas ayat tanpa nama.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 22:56 dan 82:19. Di 22:56 rangkaian itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa kerajaan pada hari itu milik-Nya, sedangkan di sini ia menyatakan bahwa seluruh urusan pada hari itu milik-Nya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian rangkaian itu cuma di dua tempat. Jiwa yang mengetahui perbuatannya adalah jiwa yang tidak bisa menolong siapa pun.
  • Kata ketujuhnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 7:54, 27:33, dan 82:19. Di 7:54 kata yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa penciptaan dan urusan adalah milik Allah, sedangkan di sini urusan itu disebut sendirian tanpa penciptaan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebutan urusan tanpa penciptaan di ayat ini. Jiwa yang mengetahui perbuatannya adalah jiwa yang tidak bisa menolong siapa pun.
  • Ayat penutup ini yang paling panjang di dalam surah ini, dan ia satu-satunya ayat yang memuat nama Allah. Apa yang dinyatakan sebuah surah ketika nama-Nya ditahan sampai kata terakhirnya, sesudah delapan belas ayat menyebut Dia tanpa nama? Penyebutan itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa seluruh ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penahanan nama-Nya sampai kata terakhir. Nama-Nya ditahan sampai kata terakhir surah, sesudah delapan belas ayat tanpa nama.