Ayat 83:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
Celakalah bagi orang-orang yang curang menakar,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَwaylun li-l-muthaffifiinacelakalah bagi orang-orang yang curang menakar
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَيْلٌwayluncelakalah
- لِلْمُطَفِّفِينَli-l-muthaffifiinabagi orang-orang yang curang menakar
Inti bacaan
Pembukaan Al-Mutaffifin dengan kecaman tegas terhadap kecurangan ekonomi: 'celakalah orang-orang yang curang menakar', kutukan langsung terhadap praktik ketidakjujuran dalam transaksi, menegaskan bahwa keadilan ekonomi bukan urusan sekuler terpisah dari iman, melainkan bagian integral dari akuntabilitas moral.
Penjelasan pilihan kata
Surah ini dibuka dengan satu kata kutukan, dan yang dikutuk bukan perkara yang biasanya dianggap besar.
Kata pembukanya “celakalah” (وَيْلٌ, waylun), kata yang dipakai berulang kali di dalam Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di surah ini juga (83:1, 83:10). Kata itu ditaruh paling depan, sebelum siapa pun disebut dan sebelum alasan apa pun diberikan.
Yang dikutuk adalah “orang-orang yang curang menakar” (لِلْمُطَفِّفِينَ, li-l-muthaffifiina), dan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang sedikit, yang tipis, yang nyaris tak terasa. Jadi yang dinamai bukan perampok dan bukan pencuri besar, melainkan orang yang mengurangi sedikit demi sedikit sampai tak kentara.
Perbandingan antara ringannya perbuatan dan kerasnya kecaman itulah pokok ayat ini. Sebuah surah dibuka bukan dengan perkara ibadah, bukan dengan perkara keyakinan, melainkan dengan timbangan di pasar. Dan yang dipilih untuk membuka bukan kecurangan yang besar, melainkan selisih kecil yang setiap orang merasa berhak mengabaikannya.
Surah ini dibuka dengan satu kata kutukan dan satu sebutan, dan keduanya berbicara lewat letaknya. Kata pembukanya dipakai berulang kali di dalam Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di surah ini saja (83:1, 83:10). Sebuah surah yang membuka dirinya dengan kata itu lalu mengulanginya sembilan ayat kemudian sedang menandai dua sasaran yang berbeda dengan bobot yang sama.
Sebutan bagi yang dikutuk memakai bentuk yang tak terulang. Kata “orang-orang yang curang menakar” (لِلْمُطَفِّفِينَ, li-l-muthaffifiina) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang sedikit, tipis, dan nyaris tak terasa. Bentuk kata yang dipakai menyatakan kebiasaan, bukan perbuatan sesekali.
Gabungan kedua hal itu menghasilkan perbandingan yang tajam. Kata kutukan yang paling keras dipasangkan dengan perbuatan yang paling kecil kadarnya. Yang dikutuk bukan perampok dan bukan pencuri besar, melainkan orang yang mengurangi sedikit demi sedikit sampai tak kentara. Selisih yang tak terasa itulah yang dijadikan pokok.
Pilihan pembuka surah ini pun layak direnungkan. Sebuah surah bisa dibuka dengan perkara keyakinan, dengan perkara ibadah, atau dengan kisah. Yang dipilih di sini timbangan di pasar. Perkara yang di dalam pembagian sehari-hari digolongkan sebagai urusan dagang diletakkan di kalimat pertama, dan diletakkan dengan kata yang paling berat yang tersedia. Penempatan itu sendiri sudah merupakan penilaian tentang golongan mana yang sebenarnya perkara besar.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan celaan bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang. Yang menjadikannya menohok adalah perbandingan antara beratnya kata yang dipakai dan kecilnya perbuatan yang disebut.
Kata pembukanya adalah salah satu kata paling keras di dalam kitab ini, dan ia diletakkan sebagai kata pertama surah, sebelum siapa pun disebut dan sebelum alasan apa pun diberikan. Sebuah surah bisa dibuka dengan perkara keyakinan, ibadah, atau kisah. Yang dipilih di sini timbangan di pasar.
Dan yang dikutuk bukan kecurangan besar. Akar kata yang dipakai untuk menyebut mereka berkaitan dengan sesuatu yang sedikit, tipis, dan nyaris tak terasa. Yang digambarkan orang yang mengurangi sedemikian sedikit sehingga tidak seorang pun protes, dan barangkali ia sendiri tidak merasa sedang berbuat curang. Bentuk kata yang dipakai pun menyatakan kebiasaan, bukan perbuatan sesekali.
Gabungan itu menyingkap ukuran yang tidak lazim. Beratnya sebuah perbuatan di sini tidak ditentukan oleh besarnya kerugian yang ditimbulkan, melainkan oleh sesuatu yang lain. Sebuah selisih yang terlalu kecil untuk diperkarakan, dilakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan, mendapat kata yang sama dengan yang dipakai untuk perkara-perkara besar. Kata itu bahkan muncul lagi sembilan ayat kemudian di surah yang sama (83:10), kali ini untuk para pendusta, dan penyandingan kedua sasaran dengan kata yang sama itu sendiri sudah merupakan penilaian.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini dibuka Allah dengan kutukan atas kecurangan takaran. Bukan dengan soal ibadah. Dengan timbangan di pasar. Menaruhnya di pembuka juga menentukan bagaimana sisa surahnya dibaca. Apa pun yang menyusul sesudah ini, termasuk keterangan tentang catatan amal dan hari perhitungan, terbaca sebagai lanjutan dari satu perkara yang dimulai di timbangan.
- Yang dikutuk bukan perampok besar, melainkan yang mengurangi sedikit. Selisihnya kecil. Kecamannya keras. Yang membuatnya berat bukan besarnya kerugian, melainkan bahwa perbuatan itu diulang setiap hari dan tidak pernah terasa sebagai pelanggaran. Kecurangan yang berulang kecil-kecil tidak pernah punya satu hari yang bisa disesali, sebab tidak ada satu pun harinya yang cukup besar untuk diingat.
- Kata celaka ditaruh Allah di kata pertama surah. Sebelum penjelasan. Sebelum alasan. Menaruh kata itu paling depan meniadakan kesempatan bersiap. Pembaca belum tahu siapa yang dimaksud ketika kutukannya sudah terdengar, dan baru pada kata berikutnya ia mengetahui bahwa yang dibicarakan perkara sehari-hari.
- Allah membuka surah ini bukan dengan perkara ibadah, melainkan dengan timbangan di pasar, dan yang dikutuk bukan perampokan besar melainkan pengurangan yang nyaris tak terasa. Selisih kecil apa yang selama ini kita anggap terlalu remeh untuk disebut curang? Yang paling sering kita anggap terlalu remeh biasanya yang paling sering kita kerjakan, dan keseringan itulah yang membuatnya tidak lagi terlihat.
- Sebutan لِلْمُطَفِّفِينَ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini, dan dari kata itulah surah ini mengambil namanya. Adapun kata وَيْلٌ yang mendahuluinya dipakai dua puluh empat kali dalam empat belas surah, antara lain di 2:79, 14:2, 19:37, dan 38:27. Jadi kutukannya kata yang sering dipakai, sedangkan sasarannya sebutan yang tidak dipakai lagi di mana pun. Kata yang umum dipasangkan dengan kata yang khusus, dan yang khusus itu menyebut perbuatan yang paling biasa. Allah tidak menyediakan nama lain untuk perbuatan ini di mana pun, sehingga siapa pun yang mencarinya di dalam kitab ini cuma akan sampai ke satu tempat, yaitu surah yang dibuka dengan kutukan.
- Dua ayat sesudahnya menerangkan siapa yang dimaksud: orang yang apabila menerima takaran dari orang lain minta dipenuhi, tetapi apabila menakar untuk orang lain menguranginya. Jadi yang dikutuk bukan mengurangi takaran begitu saja, melainkan ketimpangan antara dua sisi. Orangnya tahu persis ukuran yang benar; ia menuntutnya ketika menerima. Pengetahuan itulah yang memberatkannya. Ia bukan orang yang keliru menakar, melainkan orang yang menakar dengan dua ukuran dan memilih yang mana menurut posisinya saat itu. Allah tidak menyebut kerugian yang ditimbulkannya dan tidak menyebut berapa banyak yang dikurangi. Yang disebut cuma dua sikapnya yang berlawanan, dan itu sudah cukup untuk menerangkan mengapa surahnya dibuka sekeras itu.
Ayat 83:2
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ
Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَalladziina idzaa ktaaluu 'alaa n-naasi yastawfuunayaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi
Terjemahan per kata (6 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- إِذَاidzaaapabila
- اكْتَالُواktaaluumereka menakar
- عَلَى'alaaatas
- النَّاسِn-naasimanusia
- يَسْتَوْفُونَyastawfuunamereka minta dipenuhi
Inti bacaan
Standar ganda yang menguntungkan diri: 'orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi', identifikasi perilaku spesifik yang menuntut hak penuh untuk diri sendiri, standar kejujuran yang diterapkan hanya ketika menguntungkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (اكْتَالُوا, iktaaluu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi dua dari lima kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun.
Akar (اكْتَالُوا, iktaaluu) berarti menakar. Akar itu cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 6:152, 12:59, 12:60, 12:63, dan 17:35. Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:3.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang sama dipakai untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut. Jadi satu akar memikul dua arah perbuatan yang berlawanan. Kata (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) di sini berpola kesepuluh, bukan pola pertama.
Bentuk (اكْتَالُوا, iktaaluu) berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Jadi keuntungannya kembali kepada pelakunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.
Bentuk (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi. Jadi ia bukan sekadar menerima penuh melainkan menuntutnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya juga.
Kata (النَّاسِ, an-naas) berasal dari akar yang berarti manusia. Akar itu dipakai di 225 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:6. Jadi manusia disebut sebagai pihak yang dirugikan dan sebagai pihak yang berdiri di hadapan Tuhannya.
Kata (الَّذِينَ, alladziina) di awal ayat menyambungkannya kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkannya.
Ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya. Jadi kecurangan itu dilukiskan dari dua sisi, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun contoh barang atau tempatnya.
Kata (عَلَى, 'alaa) di ayat ini menyatakan mengambil dari atas orang lain, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar menerima melainkan menerima dengan mengatasi. Jadi kedudukannya di dalam perbuatan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah hubungan antara dua pihak yang bertransaksi di dalam ayatnya.
Bentuk (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) berbentuk sekarang, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang berulang, bukan sebagai satu kejadian. Jadi ia sejajar dengan bentuk kata kerja di 83:3, dan dua ayat yang merinci kecurangan itu sama-sama melukiskan kebiasaan, bukan satu peristiwa yang berdiri sendiri. Susunan itu membuat pembacanya menunggu sisi keduanya, dan sisi itu baru datang di ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menyebut barang apa yang ditakar maupun di mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata yang melukiskan satu sisi perbuatan tanpa satu contoh pun.
Tafsiran
Ayat ini merinci ciri pertama kecurangan: menuntut penuh saat menerima, dan kata kerja ketiganya serta kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi dua dari lima kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun. Akar kata kerja ketiganya cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 6:152, 12:59, 12:60, 12:63, dan 17:35.
Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:3. Jadi akar yang sama dipakai untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut.
Bentuk kata kerja ketiganya berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi.
Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Kata keempatnya di ayat ini menyatakan mengambil dari atas orang lain, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar menerima melainkan menerima dengan mengatasi. Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang berulang, bukan sebagai satu kejadian yang berdiri sendiri di dalam ayatnya. Jadi ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya dari sisi yang berlawanan tanpa satu kata penghubung.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerja ketiganya cuma dipakai di 13 ayat, dan di dalam surah ini ia muncul di dua ayat, yaitu 83:2 dan 83:3. Jadi Allah memakai satu akar untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut tanpa satu kata pembeda. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftar tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua arah perbuatan yang berlawanan.
- Bentuk kata kerja ketiganya berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Jadi keuntungannya kembali kepada pelakunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun dari Allah. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus keuntungan yang kembali kepada pelakunya di dalam ayat ini. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi. Jadi ia bukan sekadar menerima penuh melainkan menuntutnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya juga tanpa satu kata tambahan. Perbedaan pola itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua kata kerjanya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan pola masing-masing. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 225 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:2 dan 83:6. Jadi manusia disebut sebagai pihak yang dirugikan di sini dan sebagai pihak yang berdiri di hadapan Tuhannya di sana. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua kedudukan manusia. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkan Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang diterangkan susunannya. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya. Apa yang dijaga sebuah kecaman ketika Allah melukiskan perbuatannya dari dua sisi tanpa menyebut satu pun contoh barang maupun tempatnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua ayat itu, dan menambahkan contoh barang atau tempatnya berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan.
Ayat 83:3
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَwa-idzaa kaaluuhum aw wazanuuhum yukhsiruunatetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- كَالُوهُمْkaaluuhummereka menakar untuk mereka
- أَوْawatau
- وَزَنُوهُمْwazanuuhummereka menimbang untuk mereka
- يُخْسِرُونَyukhsiruunamereka mengurangi
Inti bacaan
Ketidakkonsistenan yang merugikan orang lain: 'tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya', pembalikan standar yang sama ketika posisi berbeda, kecurangan sistematis yang mengungkap karakter tidak jujur yang mendasar.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata kerja (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) pun muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Kata (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) di sini berpola keempat, sehingga pihak lain yang dirugikan.
Akar (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) berarti menimbang. Akar itu cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil.
Jadi akar yang di 55:9 menyuruh menegakkan timbangan, di sini menamai orang yang memakainya untuk merugikan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) mendahuluinya, dan ia memakai kata ganti objek.
Akar (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) berarti rugi. Akar itu dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang di puluhan ayat menamai kerugian yang menimpa diri sendiri, di sini menamai perbuatan merugikan orang lain. Jadi arah kerugiannya dibalik, dan yang membaliknya cuma bentuk katanya. Kata (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) membuka ayatnya, dan ia juga memakai kata ganti objek.
Bentuk (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Jadi perbuatannya menuntut pihak yang dirugikan, dan pihak itu disebut lewat kata ganti di dua kata sebelumnya.
Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya, dan dua ayat itu melukiskan satu perbuatan dari dua sisi. Jadi kecurangan yang disebut di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu rincian pun sesudahnya.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga dua cara mengurangi disebut sebagai pilihan, bukan sebagai dua perbuatan yang harus terjadi bersama. Jadi salah satunya sudah cukup untuk masuk ke dalam sebutan di 83:1, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa keterangan tambahan.
Kata (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) memakai kata ganti objek yang menunjuk orang lain, sedangkan kata kerja di 83:2 tidak memakainya. Jadi dua ayat itu berbeda pada siapa yang dikenai perbuatannya, dan perbedaan itu terbawa di dalam ujung katanya sendiri tanpa satu kata penjelas pun. Susunan itu menutup gambaran kecurangannya dengan sisi yang merugikan, sesudah sisi yang menguntungkan disebut lebih dulu. Al-Qur'an tidak menyebut seberapa banyak yang dikurangi maupun kepada siapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri kecurangan: mengurangi saat memberi kepada orang lain, dan kata kerja keduanya, kata kerja keempatnya, serta kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini.
Akar kata kerja keempatnya cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil.
Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri, sedangkan di sini ia menamai perbuatan merugikan orang lain.
Bentuk kata kerja terakhirnya berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Kata ketiganya huruf pilihan, sehingga dua cara mengurangi disebut sebagai pilihan, bukan sebagai dua perbuatan yang harus terjadi bersama. Kata keduanya memakai kata ganti objek yang menunjuk orang lain, sedangkan kata kerja di 83:2 tidak memakainya, sehingga dua ayat itu berbeda pada siapa yang dikenai perbuatannya. Jadi kecurangan yang dikutuk di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu rincian pun sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya, kata kerja keempatnya, dan kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah Allah ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tiga kata langka di dalam satu ayat pendek. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Akar kata kerja keempatnya cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai Allah untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil, sedangkan di sini ia menamai orang yang memakainya untuk merugikan. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara perintah dan pelanggarannya dengan satu kalimat pun. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Akar kata kerja terakhirnya dipakai Allah di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri, sedangkan di sini arah kerugiannya dibalik kepada orang lain. Arah kerugian itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan mengembalikan kerugian kepada pelakunya, bukan kepada korbannya. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Jadi perbuatannya menuntut pihak yang dirugikan, dan Allah menyebut pihak itu lewat kata ganti yang menempel di dua kata sebelumnya tanpa satu nama pun. Perbedaan pola itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa bentuknya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan pola yang menuntut pihak lain. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.
- Ayat ini menyebut dua cara sekaligus, yaitu menakar dan menimbang, sedangkan 83:2 cuma menyebut satu. Jadi Allah melukiskan sisi yang merugikan dengan lebih rinci daripada sisi yang menguntungkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan rincian itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan rincian di sisi yang merugikan. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya, dan dua ayat itu melukiskan satu perbuatan dari dua sisi. Apa yang dinyatakan Allah ketika kecurangan yang dikutuk di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan tidak satu rincian pun ditambahkan sesudahnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata itu, dan menambahkan keterangan tentang kadarnya berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.