بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Celakalah bagi orang-orang yang curang menakar,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَwaylun li-l-muthaffifiinacelakalah bagi orang-orang yang curang menakar

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَيْلٌwayluncelakalah
  2. لِلْمُطَفِّفِينَli-l-muthaffifiinabagi orang-orang yang curang menakar

Inti bacaan

Pembukaan Al-Mutaffifin dengan kecaman tegas terhadap kecurangan ekonomi: 'celakalah orang-orang yang curang menakar', kutukan langsung terhadap praktik ketidakjujuran dalam transaksi, menegaskan bahwa keadilan ekonomi bukan urusan sekuler terpisah dari iman, melainkan bagian integral dari akuntabilitas moral.

Penjelasan pilihan kata

Surah ini dibuka dengan satu kata kutukan, dan yang dikutuk bukan perkara yang biasanya dianggap besar.

Kata pembukanya “celakalah” (وَيْلٌ, waylun), kata yang dipakai berulang kali di dalam Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di surah ini juga (83:1, 83:10). Kata itu ditaruh paling depan, sebelum siapa pun disebut dan sebelum alasan apa pun diberikan.

Yang dikutuk adalah “orang-orang yang curang menakar” (لِلْمُطَفِّفِينَ, li-l-muthaffifiina), dan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang sedikit, yang tipis, yang nyaris tak terasa. Jadi yang dinamai bukan perampok dan bukan pencuri besar, melainkan orang yang mengurangi sedikit demi sedikit sampai tak kentara.

Perbandingan antara ringannya perbuatan dan kerasnya kecaman itulah pokok ayat ini. Sebuah surah dibuka bukan dengan perkara ibadah, bukan dengan perkara keyakinan, melainkan dengan timbangan di pasar. Dan yang dipilih untuk membuka bukan kecurangan yang besar, melainkan selisih kecil yang setiap orang merasa berhak mengabaikannya.

Surah ini dibuka dengan satu kata kutukan dan satu sebutan, dan keduanya berbicara lewat letaknya. Kata pembukanya dipakai berulang kali di dalam Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di surah ini saja (83:1, 83:10). Sebuah surah yang membuka dirinya dengan kata itu lalu mengulanginya sembilan ayat kemudian sedang menandai dua sasaran yang berbeda dengan bobot yang sama.

Sebutan bagi yang dikutuk memakai bentuk yang tak terulang. Kata “orang-orang yang curang menakar” (لِلْمُطَفِّفِينَ, li-l-muthaffifiina) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang sedikit, tipis, dan nyaris tak terasa. Bentuk kata yang dipakai menyatakan kebiasaan, bukan perbuatan sesekali.

Gabungan kedua hal itu menghasilkan perbandingan yang tajam. Kata kutukan yang paling keras dipasangkan dengan perbuatan yang paling kecil kadarnya. Yang dikutuk bukan perampok dan bukan pencuri besar, melainkan orang yang mengurangi sedikit demi sedikit sampai tak kentara. Selisih yang tak terasa itulah yang dijadikan pokok.

Pilihan pembuka surah ini pun layak direnungkan. Sebuah surah bisa dibuka dengan perkara keyakinan, dengan perkara ibadah, atau dengan kisah. Yang dipilih di sini timbangan di pasar. Perkara yang di dalam pembagian sehari-hari digolongkan sebagai urusan dagang diletakkan di kalimat pertama, dan diletakkan dengan kata yang paling berat yang tersedia. Penempatan itu sendiri sudah merupakan penilaian tentang golongan mana yang sebenarnya perkara besar.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan celaan bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang. Yang menjadikannya menohok adalah perbandingan antara beratnya kata yang dipakai dan kecilnya perbuatan yang disebut.

Kata pembukanya adalah salah satu kata paling keras di dalam kitab ini, dan ia diletakkan sebagai kata pertama surah, sebelum siapa pun disebut dan sebelum alasan apa pun diberikan. Sebuah surah bisa dibuka dengan perkara keyakinan, ibadah, atau kisah. Yang dipilih di sini timbangan di pasar.

Dan yang dikutuk bukan kecurangan besar. Akar kata yang dipakai untuk menyebut mereka berkaitan dengan sesuatu yang sedikit, tipis, dan nyaris tak terasa. Yang digambarkan orang yang mengurangi sedemikian sedikit sehingga tidak seorang pun protes, dan barangkali ia sendiri tidak merasa sedang berbuat curang. Bentuk kata yang dipakai pun menyatakan kebiasaan, bukan perbuatan sesekali.

Gabungan itu menyingkap ukuran yang tidak lazim. Beratnya sebuah perbuatan di sini tidak ditentukan oleh besarnya kerugian yang ditimbulkan, melainkan oleh sesuatu yang lain. Sebuah selisih yang terlalu kecil untuk diperkarakan, dilakukan berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan, mendapat kata yang sama dengan yang dipakai untuk perkara-perkara besar. Kata itu bahkan muncul lagi sembilan ayat kemudian di surah yang sama (83:10), kali ini untuk para pendusta, dan penyandingan kedua sasaran dengan kata yang sama itu sendiri sudah merupakan penilaian.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini dibuka Allah dengan kutukan atas kecurangan takaran. Bukan dengan soal ibadah. Dengan timbangan di pasar. Menaruhnya di pembuka juga menentukan bagaimana sisa surahnya dibaca. Apa pun yang menyusul sesudah ini, termasuk keterangan tentang catatan amal dan hari perhitungan, terbaca sebagai lanjutan dari satu perkara yang dimulai di timbangan.
  • Yang dikutuk bukan perampok besar, melainkan yang mengurangi sedikit. Selisihnya kecil. Kecamannya keras. Yang membuatnya berat bukan besarnya kerugian, melainkan bahwa perbuatan itu diulang setiap hari dan tidak pernah terasa sebagai pelanggaran. Kecurangan yang berulang kecil-kecil tidak pernah punya satu hari yang bisa disesali, sebab tidak ada satu pun harinya yang cukup besar untuk diingat.
  • Kata celaka ditaruh Allah di kata pertama surah. Sebelum penjelasan. Sebelum alasan. Menaruh kata itu paling depan meniadakan kesempatan bersiap. Pembaca belum tahu siapa yang dimaksud ketika kutukannya sudah terdengar, dan baru pada kata berikutnya ia mengetahui bahwa yang dibicarakan perkara sehari-hari.
  • Allah membuka surah ini bukan dengan perkara ibadah, melainkan dengan timbangan di pasar, dan yang dikutuk bukan perampokan besar melainkan pengurangan yang nyaris tak terasa. Selisih kecil apa yang selama ini kita anggap terlalu remeh untuk disebut curang? Yang paling sering kita anggap terlalu remeh biasanya yang paling sering kita kerjakan, dan keseringan itulah yang membuatnya tidak lagi terlihat.
  • Sebutan لِلْمُطَفِّفِينَ hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini, dan dari kata itulah surah ini mengambil namanya. Adapun kata وَيْلٌ yang mendahuluinya dipakai dua puluh empat kali dalam empat belas surah, antara lain di 2:79, 14:2, 19:37, dan 38:27. Jadi kutukannya kata yang sering dipakai, sedangkan sasarannya sebutan yang tidak dipakai lagi di mana pun. Kata yang umum dipasangkan dengan kata yang khusus, dan yang khusus itu menyebut perbuatan yang paling biasa. Allah tidak menyediakan nama lain untuk perbuatan ini di mana pun, sehingga siapa pun yang mencarinya di dalam kitab ini cuma akan sampai ke satu tempat, yaitu surah yang dibuka dengan kutukan.
  • Dua ayat sesudahnya menerangkan siapa yang dimaksud: orang yang apabila menerima takaran dari orang lain minta dipenuhi, tetapi apabila menakar untuk orang lain menguranginya. Jadi yang dikutuk bukan mengurangi takaran begitu saja, melainkan ketimpangan antara dua sisi. Orangnya tahu persis ukuran yang benar; ia menuntutnya ketika menerima. Pengetahuan itulah yang memberatkannya. Ia bukan orang yang keliru menakar, melainkan orang yang menakar dengan dua ukuran dan memilih yang mana menurut posisinya saat itu. Allah tidak menyebut kerugian yang ditimbulkannya dan tidak menyebut berapa banyak yang dikurangi. Yang disebut cuma dua sikapnya yang berlawanan, dan itu sudah cukup untuk menerangkan mengapa surahnya dibuka sekeras itu.