Ayat 83:2
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ
Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَalladziina idzaa ktaaluu 'alaa n-naasi yastawfuunayaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi
Terjemahan per kata (6 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- إِذَاidzaaapabila
- اكْتَالُواktaaluumereka menakar
- عَلَى'alaaatas
- النَّاسِn-naasimanusia
- يَسْتَوْفُونَyastawfuunamereka minta dipenuhi
Inti bacaan
Standar ganda yang menguntungkan diri: 'orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi', identifikasi perilaku spesifik yang menuntut hak penuh untuk diri sendiri, standar kejujuran yang diterapkan hanya ketika menguntungkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (اكْتَالُوا, iktaaluu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi dua dari lima kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun.
Akar (اكْتَالُوا, iktaaluu) berarti menakar. Akar itu cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 6:152, 12:59, 12:60, 12:63, dan 17:35. Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:3.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang sama dipakai untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut. Jadi satu akar memikul dua arah perbuatan yang berlawanan. Kata (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) di sini berpola kesepuluh, bukan pola pertama.
Bentuk (اكْتَالُوا, iktaaluu) berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Jadi keuntungannya kembali kepada pelakunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.
Bentuk (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi. Jadi ia bukan sekadar menerima penuh melainkan menuntutnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya juga.
Kata (النَّاسِ, an-naas) berasal dari akar yang berarti manusia. Akar itu dipakai di 225 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:6. Jadi manusia disebut sebagai pihak yang dirugikan dan sebagai pihak yang berdiri di hadapan Tuhannya.
Kata (الَّذِينَ, alladziina) di awal ayat menyambungkannya kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkannya.
Ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya. Jadi kecurangan itu dilukiskan dari dua sisi, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun contoh barang atau tempatnya.
Kata (عَلَى, 'alaa) di ayat ini menyatakan mengambil dari atas orang lain, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar menerima melainkan menerima dengan mengatasi. Jadi kedudukannya di dalam perbuatan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah hubungan antara dua pihak yang bertransaksi di dalam ayatnya.
Bentuk (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) berbentuk sekarang, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang berulang, bukan sebagai satu kejadian. Jadi ia sejajar dengan bentuk kata kerja di 83:3, dan dua ayat yang merinci kecurangan itu sama-sama melukiskan kebiasaan, bukan satu peristiwa yang berdiri sendiri. Susunan itu membuat pembacanya menunggu sisi keduanya, dan sisi itu baru datang di ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menyebut barang apa yang ditakar maupun di mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata yang melukiskan satu sisi perbuatan tanpa satu contoh pun.
Tafsiran
Ayat ini merinci ciri pertama kecurangan: menuntut penuh saat menerima, dan kata kerja ketiganya serta kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi dua dari lima kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun. Akar kata kerja ketiganya cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 6:152, 12:59, 12:60, 12:63, dan 17:35.
Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:3. Jadi akar yang sama dipakai untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut.
Bentuk kata kerja ketiganya berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi.
Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Kata keempatnya di ayat ini menyatakan mengambil dari atas orang lain, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar menerima melainkan menerima dengan mengatasi. Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang berulang, bukan sebagai satu kejadian yang berdiri sendiri di dalam ayatnya. Jadi ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya dari sisi yang berlawanan tanpa satu kata penghubung.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerja ketiganya cuma dipakai di 13 ayat, dan di dalam surah ini ia muncul di dua ayat, yaitu 83:2 dan 83:3. Jadi Allah memakai satu akar untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut tanpa satu kata pembeda. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftar tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua arah perbuatan yang berlawanan.
- Bentuk kata kerja ketiganya berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Jadi keuntungannya kembali kepada pelakunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun dari Allah. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus keuntungan yang kembali kepada pelakunya di dalam ayat ini. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi. Jadi ia bukan sekadar menerima penuh melainkan menuntutnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya juga tanpa satu kata tambahan. Perbedaan pola itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua kata kerjanya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan pola masing-masing. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 225 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:2 dan 83:6. Jadi manusia disebut sebagai pihak yang dirugikan di sini dan sebagai pihak yang berdiri di hadapan Tuhannya di sana. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua kedudukan manusia. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkan Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang diterangkan susunannya. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya. Apa yang dijaga sebuah kecaman ketika Allah melukiskan perbuatannya dari dua sisi tanpa menyebut satu pun contoh barang maupun tempatnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua ayat itu, dan menambahkan contoh barang atau tempatnya berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan.
Ayat 83:3
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَwa-idzaa kaaluuhum aw wazanuuhum yukhsiruunatetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- كَالُوهُمْkaaluuhummereka menakar untuk mereka
- أَوْawatau
- وَزَنُوهُمْwazanuuhummereka menimbang untuk mereka
- يُخْسِرُونَyukhsiruunamereka mengurangi
Inti bacaan
Ketidakkonsistenan yang merugikan orang lain: 'tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya', pembalikan standar yang sama ketika posisi berbeda, kecurangan sistematis yang mengungkap karakter tidak jujur yang mendasar.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata kerja (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) pun muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Kata (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) di sini berpola keempat, sehingga pihak lain yang dirugikan.
Akar (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) berarti menimbang. Akar itu cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil.
Jadi akar yang di 55:9 menyuruh menegakkan timbangan, di sini menamai orang yang memakainya untuk merugikan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) mendahuluinya, dan ia memakai kata ganti objek.
Akar (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) berarti rugi. Akar itu dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang di puluhan ayat menamai kerugian yang menimpa diri sendiri, di sini menamai perbuatan merugikan orang lain. Jadi arah kerugiannya dibalik, dan yang membaliknya cuma bentuk katanya. Kata (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) membuka ayatnya, dan ia juga memakai kata ganti objek.
Bentuk (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Jadi perbuatannya menuntut pihak yang dirugikan, dan pihak itu disebut lewat kata ganti di dua kata sebelumnya.
Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya, dan dua ayat itu melukiskan satu perbuatan dari dua sisi. Jadi kecurangan yang disebut di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu rincian pun sesudahnya.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga dua cara mengurangi disebut sebagai pilihan, bukan sebagai dua perbuatan yang harus terjadi bersama. Jadi salah satunya sudah cukup untuk masuk ke dalam sebutan di 83:1, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa keterangan tambahan.
Kata (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) memakai kata ganti objek yang menunjuk orang lain, sedangkan kata kerja di 83:2 tidak memakainya. Jadi dua ayat itu berbeda pada siapa yang dikenai perbuatannya, dan perbedaan itu terbawa di dalam ujung katanya sendiri tanpa satu kata penjelas pun. Susunan itu menutup gambaran kecurangannya dengan sisi yang merugikan, sesudah sisi yang menguntungkan disebut lebih dulu. Al-Qur'an tidak menyebut seberapa banyak yang dikurangi maupun kepada siapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri kecurangan: mengurangi saat memberi kepada orang lain, dan kata kerja keduanya, kata kerja keempatnya, serta kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini.
Akar kata kerja keempatnya cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil.
Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri, sedangkan di sini ia menamai perbuatan merugikan orang lain.
Bentuk kata kerja terakhirnya berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Kata ketiganya huruf pilihan, sehingga dua cara mengurangi disebut sebagai pilihan, bukan sebagai dua perbuatan yang harus terjadi bersama. Kata keduanya memakai kata ganti objek yang menunjuk orang lain, sedangkan kata kerja di 83:2 tidak memakainya, sehingga dua ayat itu berbeda pada siapa yang dikenai perbuatannya. Jadi kecurangan yang dikutuk di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu rincian pun sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya, kata kerja keempatnya, dan kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah Allah ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tiga kata langka di dalam satu ayat pendek. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Akar kata kerja keempatnya cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai Allah untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil, sedangkan di sini ia menamai orang yang memakainya untuk merugikan. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara perintah dan pelanggarannya dengan satu kalimat pun. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Akar kata kerja terakhirnya dipakai Allah di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri, sedangkan di sini arah kerugiannya dibalik kepada orang lain. Arah kerugian itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan mengembalikan kerugian kepada pelakunya, bukan kepada korbannya. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Jadi perbuatannya menuntut pihak yang dirugikan, dan Allah menyebut pihak itu lewat kata ganti yang menempel di dua kata sebelumnya tanpa satu nama pun. Perbedaan pola itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa bentuknya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan pola yang menuntut pihak lain. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.
- Ayat ini menyebut dua cara sekaligus, yaitu menakar dan menimbang, sedangkan 83:2 cuma menyebut satu. Jadi Allah melukiskan sisi yang merugikan dengan lebih rinci daripada sisi yang menguntungkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan rincian itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan rincian di sisi yang merugikan. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya, dan dua ayat itu melukiskan satu perbuatan dari dua sisi. Apa yang dinyatakan Allah ketika kecurangan yang dikutuk di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan tidak satu rincian pun ditambahkan sesudahnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata itu, dan menambahkan keterangan tentang kadarnya berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.