الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ
Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَalladziina idzaa ktaaluu 'alaa n-naasi yastawfuunayaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi
Terjemahan per kata (6 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- إِذَاidzaaapabila
- اكْتَالُواktaaluumereka menakar
- عَلَى'alaaatas
- النَّاسِn-naasimanusia
- يَسْتَوْفُونَyastawfuunamereka minta dipenuhi
Inti bacaan
Standar ganda yang menguntungkan diri: 'orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi', identifikasi perilaku spesifik yang menuntut hak penuh untuk diri sendiri, standar kejujuran yang diterapkan hanya ketika menguntungkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (اكْتَالُوا, iktaaluu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi dua dari lima kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun.
Akar (اكْتَالُوا, iktaaluu) berarti menakar. Akar itu cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 6:152, 12:59, 12:60, 12:63, dan 17:35. Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:3.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang sama dipakai untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut. Jadi satu akar memikul dua arah perbuatan yang berlawanan. Kata (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) di sini berpola kesepuluh, bukan pola pertama.
Bentuk (اكْتَالُوا, iktaaluu) berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Jadi keuntungannya kembali kepada pelakunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.
Bentuk (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi. Jadi ia bukan sekadar menerima penuh melainkan menuntutnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya juga.
Kata (النَّاسِ, an-naas) berasal dari akar yang berarti manusia. Akar itu dipakai di 225 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:6. Jadi manusia disebut sebagai pihak yang dirugikan dan sebagai pihak yang berdiri di hadapan Tuhannya.
Kata (الَّذِينَ, alladziina) di awal ayat menyambungkannya kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkannya.
Ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya. Jadi kecurangan itu dilukiskan dari dua sisi, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun contoh barang atau tempatnya.
Kata (عَلَى, 'alaa) di ayat ini menyatakan mengambil dari atas orang lain, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar menerima melainkan menerima dengan mengatasi. Jadi kedudukannya di dalam perbuatan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah hubungan antara dua pihak yang bertransaksi di dalam ayatnya.
Bentuk (يَسْتَوْفُونَ, yastaufuun) berbentuk sekarang, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang berulang, bukan sebagai satu kejadian. Jadi ia sejajar dengan bentuk kata kerja di 83:3, dan dua ayat yang merinci kecurangan itu sama-sama melukiskan kebiasaan, bukan satu peristiwa yang berdiri sendiri. Susunan itu membuat pembacanya menunggu sisi keduanya, dan sisi itu baru datang di ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menyebut barang apa yang ditakar maupun di mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata yang melukiskan satu sisi perbuatan tanpa satu contoh pun.
Tafsiran
Ayat ini merinci ciri pertama kecurangan: menuntut penuh saat menerima, dan kata kerja ketiganya serta kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi dua dari lima kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun. Akar kata kerja ketiganya cuma dipakai di 13 ayat, antara lain 6:152, 12:59, 12:60, 12:63, dan 17:35.
Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:3. Jadi akar yang sama dipakai untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut.
Bentuk kata kerja ketiganya berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi.
Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Kata keempatnya di ayat ini menyatakan mengambil dari atas orang lain, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar menerima melainkan menerima dengan mengatasi. Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang berulang, bukan sebagai satu kejadian yang berdiri sendiri di dalam ayatnya. Jadi ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya dari sisi yang berlawanan tanpa satu kata penghubung.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerja ketiganya cuma dipakai di 13 ayat, dan di dalam surah ini ia muncul di dua ayat, yaitu 83:2 dan 83:3. Jadi Allah memakai satu akar untuk perbuatan menerima takaran dan perbuatan memberi takaran, dan dua ayat itu berdiri berturut-turut tanpa satu kata pembeda. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftar tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua arah perbuatan yang berlawanan.
- Bentuk kata kerja ketiganya berpola kedelapan, sehingga artinya menakar untuk dirinya sendiri. Jadi keuntungannya kembali kepada pelakunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun dari Allah. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus keuntungan yang kembali kepada pelakunya di dalam ayat ini. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kesepuluh, sehingga artinya menuntut supaya dipenuhi. Jadi ia bukan sekadar menerima penuh melainkan menuntutnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam pola katanya juga tanpa satu kata tambahan. Perbedaan pola itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua kata kerjanya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan pola masing-masing. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 225 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:2 dan 83:6. Jadi manusia disebut sebagai pihak yang dirugikan di sini dan sebagai pihak yang berdiri di hadapan Tuhannya di sana. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua kedudukan manusia. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:1, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkan Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang diterangkan susunannya. Menuntut penuh saat menerima terdengar wajar sampai ia dipasangkan dengan sisi keduanya.
- Ayat ini membuka dua ayat yang merinci perbuatannya, dan 83:3 melengkapinya. Apa yang dijaga sebuah kecaman ketika Allah melukiskan perbuatannya dari dua sisi tanpa menyebut satu pun contoh barang maupun tempatnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua ayat itu, dan menambahkan contoh barang atau tempatnya berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan. Satu akar untuk menerima dan memberi menaruh dua perbuatan itu di satu timbangan.