وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَwa-idzaa kaaluuhum aw wazanuuhum yukhsiruunatetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- كَالُوهُمْkaaluuhummereka menakar untuk mereka
- أَوْawatau
- وَزَنُوهُمْwazanuuhummereka menimbang untuk mereka
- يُخْسِرُونَyukhsiruunamereka mengurangi
Inti bacaan
Ketidakkonsistenan yang merugikan orang lain: 'tetapi apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya', pembalikan standar yang sama ketika posisi berbeda, kecurangan sistematis yang mengungkap karakter tidak jujur yang mendasar.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata kerja (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata kerja (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) pun muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Kata (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) di sini berpola keempat, sehingga pihak lain yang dirugikan.
Akar (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) berarti menimbang. Akar itu cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil.
Jadi akar yang di 55:9 menyuruh menegakkan timbangan, di sini menamai orang yang memakainya untuk merugikan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (وَزَنُوهُمْ, wazanuuhum) mendahuluinya, dan ia memakai kata ganti objek.
Akar (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) berarti rugi. Akar itu dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang di puluhan ayat menamai kerugian yang menimpa diri sendiri, di sini menamai perbuatan merugikan orang lain. Jadi arah kerugiannya dibalik, dan yang membaliknya cuma bentuk katanya. Kata (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) membuka ayatnya, dan ia juga memakai kata ganti objek.
Bentuk (يُخْسِرُونَ, yukhsiruun) berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Jadi perbuatannya menuntut pihak yang dirugikan, dan pihak itu disebut lewat kata ganti di dua kata sebelumnya.
Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya, dan dua ayat itu melukiskan satu perbuatan dari dua sisi. Jadi kecurangan yang disebut di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu rincian pun sesudahnya.
Kata (أَوْ, aw) huruf pilihan, sehingga dua cara mengurangi disebut sebagai pilihan, bukan sebagai dua perbuatan yang harus terjadi bersama. Jadi salah satunya sudah cukup untuk masuk ke dalam sebutan di 83:1, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa keterangan tambahan.
Kata (كَالُوهُمْ, kaaluuhum) memakai kata ganti objek yang menunjuk orang lain, sedangkan kata kerja di 83:2 tidak memakainya. Jadi dua ayat itu berbeda pada siapa yang dikenai perbuatannya, dan perbedaan itu terbawa di dalam ujung katanya sendiri tanpa satu kata penjelas pun. Susunan itu menutup gambaran kecurangannya dengan sisi yang merugikan, sesudah sisi yang menguntungkan disebut lebih dulu. Al-Qur'an tidak menyebut seberapa banyak yang dikurangi maupun kepada siapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri kecurangan: mengurangi saat memberi kepada orang lain, dan kata kerja keduanya, kata kerja keempatnya, serta kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini.
Akar kata kerja keempatnya cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil.
Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri, sedangkan di sini ia menamai perbuatan merugikan orang lain.
Bentuk kata kerja terakhirnya berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Kata ketiganya huruf pilihan, sehingga dua cara mengurangi disebut sebagai pilihan, bukan sebagai dua perbuatan yang harus terjadi bersama. Kata keduanya memakai kata ganti objek yang menunjuk orang lain, sedangkan kata kerja di 83:2 tidak memakainya, sehingga dua ayat itu berbeda pada siapa yang dikenai perbuatannya. Jadi kecurangan yang dikutuk di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu rincian pun sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya, kata kerja keempatnya, dan kata kerja terakhirnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tiga dari empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah Allah ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tiga kata langka di dalam satu ayat pendek. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Akar kata kerja keempatnya cuma dipakai di 21 ayat, antara lain 6:152, 7:8, 17:35, 55:9, dan 101:6. Di 55:9 akar itu dipakai Allah untuk perintah menegakkan timbangan dengan adil, sedangkan di sini ia menamai orang yang memakainya untuk merugikan. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara perintah dan pelanggarannya dengan satu kalimat pun. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Akar kata kerja terakhirnya dipakai Allah di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 11:22, 39:15, dan 103:2. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kerugian yang menimpa orangnya sendiri, sedangkan di sini arah kerugiannya dibalik kepada orang lain. Arah kerugian itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan mengembalikan kerugian kepada pelakunya, bukan kepada korbannya. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola keempat, sehingga artinya membuat pihak lain rugi. Jadi perbuatannya menuntut pihak yang dirugikan, dan Allah menyebut pihak itu lewat kata ganti yang menempel di dua kata sebelumnya tanpa satu nama pun. Perbedaan pola itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa bentuknya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan pola yang menuntut pihak lain. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.
- Ayat ini menyebut dua cara sekaligus, yaitu menakar dan menimbang, sedangkan 83:2 cuma menyebut satu. Jadi Allah melukiskan sisi yang merugikan dengan lebih rinci daripada sisi yang menguntungkan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan rincian itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan rincian di sisi yang merugikan. Akar yang menyuruh menegakkan timbangan dipakai untuk orang yang memiringkannya.
- Ayat ini melengkapi ayat sebelumnya, dan dua ayat itu melukiskan satu perbuatan dari dua sisi. Apa yang dinyatakan Allah ketika kecurangan yang dikutuk di 83:1 baru terang sesudah dua ayat, dan tidak satu rincian pun ditambahkan sesudahnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata itu, dan menambahkan keterangan tentang kadarnya berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Tiga dari empat katanya tidak berulang di mana pun, dan itu ayat terpadat kelangkaannya.