لِيَوْمٍ عَظِيمٍ

Pada suatu hari yang agung,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لِيَوْمٍ عَظِيمٍli-yawmin 'azhiiminpada suatu hari yang agung

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. لِيَوْمٍli-yawminuntuk hari
  2. عَظِيمٍ'azhiiminyang besar

Inti bacaan

Penanda momen pertanggungjawaban: 'pada suatu hari yang agung', identifikasi waktu ketika seluruh kecurangan akan dipertanggungjawabkan, bobot yang seharusnya menjadi pertimbangan dalam bertransaksi sehari-hari.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(Kiamat)" tidak dipakai.

Rangkaian (لِيَوْمٍ عَظِيمٍ, li-yaumin 'azhiim) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut hari sebagai jenis, bukan satu hari yang sudah dinamai.

Kata (يَوْمٍ, yaumin) berasal dari akar yang berarti hari. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 83:6, 83:11, dan 83:34. Jadi akar itu salah satu yang paling menyebar di dalam surahnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar itu menamai hari kebangkitan di sini dan di 83:6, hari pertanggungjawaban di 83:11, dan hari pembalikan keadaan di 83:34. Jadi satu akar mengikat empat bagian surahnya. Kata (عَظِيمٍ, 'azhiim) di sini tidak bertakrif, sehingga sifatnya tidak dibatasi.

Kata (عَظِيمٍ, 'azhiim) berasal dari akar yang berarti besar. Akar itu dipakai di 127 ayat, antara lain 2:7, 9:72, 24:11, 56:76, dan 68:4. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyifati azab, karunia, atau kedudukan.

Ayat ini bergantung penuh pada 83:4, sebab huruf lam di awalnya menyambungkannya kepada kata kerja di sana. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa perbuatan yang diterangkannya.

Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu ayat terpendek di dalam surah ini. Jadi keterangan yang paling menentukan tentang waktunya dinyatakan dengan kalimat yang paling ringkas, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Kata (لِيَوْمٍ, li-yaumin) mendahuluinya, dan hurufnya menyatakan tujuan.

Ketiadaan nama itu perlu dijaga. Al-Qur'an tidak menamai hari itu di dalam ayat ini, dan namanya baru disebut di 83:11 dengan sebutan yang berbeda. Jadi dua ayat menyebut hari yang sama dengan dua cara.

Kata (عَظِيمٍ, 'azhiim) tidak bertakrif, sehingga hari itu disifati tanpa dibatasi kepada satu sifat yang sudah dikenal. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis di dalam ayatnya sendiri tanpa satu kata pun yang membenarkannya.

Huruf lam di depan (لِيَوْمٍ, li-yaumin) menyatakan untuk apa mereka dibangkitkan, bukan pada hari apa. Jadi kebangkitan itu diikat kepada tujuannya, bukan kepada waktunya, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun di dalam ayatnya. Susunan itu menerangkan untuk apa mereka dibangkitkan, bukan kapan. Al-Qur'an tidak menamai hari itu di dalam ayat ini maupun di ayat sesudahnya, dan namanya baru disebut di 83:11 dengan sebutan yang sama sekali berbeda dari sifat yang dipakai di sini. Pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tambahan tentang hari itu.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kebangkitan itu terjadi pada hari yang agung, dan rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Kedua katanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut hari sebagai jenis, bukan satu hari yang sudah dinamai. Kata pertamanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 83:6, 83:11, dan 83:34.

Jadi akar itu salah satu yang paling menyebar di dalam surahnya. Akar itu menamai hari kebangkitan di sini dan di 83:6, hari pertanggungjawaban di 83:11, dan hari pembalikan keadaan di 83:34.

Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 127 ayat, antara lain 2:7, 9:72, 24:11, 56:76, dan 68:4. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyifati azab, karunia, atau kedudukan.

Ayat ini bergantung penuh pada 83:4, sebab huruf di awalnya menyambungkannya kepada kata kerja di sana. Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga hari itu disifati tanpa dibatasi kepada satu sifat yang sudah dikenal. Huruf di depan kata pertamanya menyatakan untuk apa mereka dibangkitkan, bukan pada hari apa, sehingga kebangkitan itu diikat kepada tujuannya, bukan kepada waktunya. Jadi Al-Qur'an tidak menamai hari itu di dalam ayat ini, dan namanya baru disebut di 83:11 dengan sebutan yang berbeda sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:5, 83:6, 83:11, dan 83:34. Akar itu menamai hari kebangkitan di dua ayat pertama, hari pertanggungjawaban di 83:11, dan hari pembalikan keadaan di 83:34. Jadi satu akar mengikat empat bagian surah Allah ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebaran satu akar di empat bagian surah pendek ini.
  • Kedua katanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut hari sebagai jenis, bukan satu hari yang sudah dinamai. Jadi Allah tidak menamai hari itu di dalam ayat ini, dan namanya baru disebut di 83:11 dengan sebutan yang berbeda sama sekali. Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh ketiadaan penakrifannya. Hari yang disifati agung tetapi tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri.
  • Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 127 ayat, antara lain 2:7, 9:72, 24:11, 56:76, dan 68:4. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyifati azab, karunia, atau kedudukan, sedangkan di sini ia menyifati hari itu sendiri. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan sifat itu untuk hari yang dimaksud. Hari yang disifati agung tetapi tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri.
  • Ayat ini bergantung penuh pada 83:4, sebab huruf di awalnya menyambungkannya kepada kata kerja di sana. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa perbuatan yang diterangkan Allah di dalamnya. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa perbuatan yang sedang diterangkan susunannya. Hari yang disifati agung tetapi tidak dinamai membiarkan pembacanya menimbang sendiri. Huruf tujuan mengubah kebangkitan dari peristiwa menjadi perjalanan menuju sesuatu.
  • Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu ayat terpendek di dalam surah ini. Apa yang ditambahkan sebuah keterangan waktu ketika Allah menyatakannya dengan kalimat sesingkat mungkin, di tengah surah yang panjangnya tiga puluh enam ayat? Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan kalimat terpendek untuk keterangan ini. Huruf tujuan mengubah kebangkitan dari peristiwa menjadi perjalanan menuju sesuatu.
  • Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tidak ada satu tempat lain pun yang memakai dua kata itu berdampingan, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksudkan Allah dengan pasangan itu. Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata itu, dan menerangkan hari itu lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam ayatnya. Huruf tujuan mengubah kebangkitan dari peristiwa menjadi perjalanan menuju sesuatu.