كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar dalam Sijjin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍkallaa inna kitaaba l-fujjaari la-fii sijjiininsekali-kali tidak, sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar dalam Sijjin
Terjemahan per kata (6 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- إِنَّinnasesungguhnya
- كِتَابَkitaabaKitab
- الْفُجَّارِl-fujjaariorang-orang durhaka
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- سِجِّينٍsijjiininSijjin
Inti bacaan
Konsekuensi tegas bagi pelaku kecurangan: 'sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar dalam Sijjin', penempatan khusus catatan amal buruk, sistem pencatatan yang memisahkan berdasarkan kualitas perbuatan.
Penjelasan pilihan kata
"Kallaa" distandarkan menjadi "Sekali-kali tidak!". "Sijjiin" dipertahankan sebagai nama diri dan tidak diterjemahkan, acuan sama dengan "Saqar": nama tempat atau catatan khusus, bukan gelar definit yang menyifati seperti as-saa'ah dan al-Haaqqah.
Kata (سِجِّينٍ, sijjiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti memenjarakan. Ia cuma dipakai di 12 ayat, dan sepuluh di antaranya berada di surah 12, yaitu 12:25, 12:32, 12:33, 12:35, 12:36, 12:39, 12:41, 12:42, dan 12:100 bersama 26:29.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang hampir seluruhnya dipakai untuk penjara Yusuf, di sini memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka. Jadi satu akar mengikat penjara di dunia dan tempat catatan di akhirat. Kata (سِجِّينٍ, sijjiin) di sini tidak bertakrif, sehingga ia berdiri sebagai nama.
Kata (الْفُجَّارِ, al-fujjaar) sebagai kata muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 38:28, 82:14, dan 83:7. Di 38:28 kata yang sama dipakai di dalam pertanyaan apakah orang beriman disamakan dengan orang durhaka.
Kata (كِتَابَ, kitaaba) berasal dari akar yang berarti menulis dan menetapkan. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 83:9, 83:18, dan 83:20. Jadi akar itu salah satu yang paling menyebar di dalam surahnya.
Huruf lam di dalam (لَفِي, la-fii) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat memuat dua penegas sekaligus, dan susunan yang sama dipakai lagi di 83:18 serta 83:22.
Kata (كَلَّا, kallaa) berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan ia membuka bagian baru. Jadi kata itu dipakai tiga kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, 83:14, dan 83:15.
Ayat ini membuka empat ayat tentang catatan orang durhaka, dan keempatnya berjalan sampai 83:10. Jadi bagian ini disusun sejajar dengan bagian tentang orang berbakti yang menyusul di 83:18 sampai 83:21.
Kata (سِجِّينٍ, sijjiin) tidak bertakrif, sehingga ia berdiri sebagai nama tanpa penakrifan. Jadi ia sejajar dengan nama di 83:27 dan berbeda dari nama di 83:18, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun di ketiga tempatnya.
Kata (كِتَابَ, kitaaba) disandarkan langsung kepada golongan yang disebut sesudahnya, sehingga catatan itu dinyatakan sebagai milik mereka. Jadi yang tersimpan bukan catatan asing melainkan catatan yang berasal dari perbuatan mereka sendiri, dan kepemilikan itu terbawa di dalam susunan katanya. Susunan itu membuka bagian baru dengan kata penolak, sesudah tiga ayat tentang kebangkitan berhenti. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang ditolak dengan kata itu maupun mengapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang memuat satu nama yang tidak diterjemahkan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa catatan amal orang-orang durhaka tersimpan dalam Sijjin, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, dan sepuluh di antaranya berada di surah 12. Jadi akar yang hampir seluruhnya dipakai untuk penjara Yusuf, di sini memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka.
Jadi satu akar mengikat penjara di dunia dan tempat catatan di akhirat, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata keempatnya sebagai kata muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 38:28, 82:14, dan 83:7. Di 38:28 kata yang sama dipakai di dalam pertanyaan apakah orang beriman disamakan dengan orang durhaka.
Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 83:9, 83:18, dan 83:20. Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga ia berdiri sebagai nama tanpa penakrifan. Kata ketiganya disandarkan langsung kepada golongan yang disebut sesudahnya, sehingga catatan itu dinyatakan sebagai milik mereka, dan yang tersimpan bukan catatan asing melainkan catatan yang berasal dari perbuatan mereka sendiri. Jadi bagian ini disusun sejajar dengan bagian tentang orang berbakti yang menyusul di 83:18 sampai 83:21 tanpa satu kata pembanding.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 12 ayat, dan sepuluh di antaranya berada di surah 12. Jadi akar yang hampir seluruhnya dipakai Allah untuk penjara Yusuf, di sini memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian akar penjara untuk nama tempat catatan. Akar yang menamai penjara Yusuf memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka.
- Kata keempatnya sebagai kata muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 38:28, 82:14, dan 83:7. Di 38:28 kata yang sama dipakai Allah di dalam pertanyaan apakah orang beriman disamakan dengan orang durhaka, sedangkan di sini ia menamai pemilik catatan yang tersimpan di Sijjin. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian sebutan itu cuma di dua tempat. Kata penolak membuka bagian baru sebelum satu kata pun menerangkan apa yang ditolak.
- Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:7, 83:9, 83:18, dan 83:20. Jadi akar itu salah satu yang paling menyebar di dalam surahnya, dan Allah memakainya untuk dua golongan yang berlawanan. Kesejajaran itu berlaku sampai ke akarnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat dua bagian surah yang berpasangan. Kata penolak membuka bagian baru sebelum satu kata pun menerangkan apa yang ditolak.
- Huruf di dalam kata kelimanya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat memuat dua penegas sekaligus, dan susunan yang sama dipakai Allah lagi di 83:18 serta 83:22. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua penegas berdiri di dalam satu ayat yang cuma enam kata. Akar yang menamai penjara Yusuf memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka. Akar yang menamai penjara Yusuf memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka.
- Kata pertamanya berdiri sendiri tanpa terikat kepada kata sesudahnya, dan ia membuka bagian baru. Jadi kata itu dipakai Allah tiga kali di dalam surah ini, yaitu di 83:7, 83:14, dan 83:15, dan ketiganya membalikkan arah pembicaraan. Pengulangan itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa seluruh ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kata itu empat kali. Akar yang menamai penjara Yusuf memberi nama bagi tempat catatan orang durhaka.
- Ayat ini membuka empat ayat tentang catatan orang durhaka, dan keempatnya berjalan sampai 83:10. Apa yang dikerjakan susunan itu pada pembacanya ketika Allah menyusun bagian ini sejajar dengan bagian orang berbakti di 83:18 sampai 83:21? Kesejajaran dua bagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyusunan yang sejajar itu. Kata penolak membuka bagian baru sebelum satu kata pun menerangkan apa yang ditolak.