وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ
Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌwa-maa adraaka maa sijjiinundan tahukah engkau apakah Sijjin itu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tahukah
- أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
- مَاmaaapakah
- سِجِّينٌsijjiinunSijjin
Inti bacaan
Pertanyaan retoris yang mengagungkan bobot konsekuensi: 'dan tahukah engkau apakah Sijjin itu?', teknik yang menegaskan signifikansi mendalam dari tempat pencatatan tersebut.
Penjelasan pilihan kata
"Itu" mengikuti pola formula baku "wa-maa adraaka maa X" (bandingkan 74:27, 77:14, dan 82:17).
Rangkaian (وَمَا أَدْرَاكَ مَا, wa maa adraaka maa) muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, dan 83:19. Jadi dua dari dua belas tempat itu berada di dalam surah ini.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Rangkaian yang sama dipakai untuk Sijjin di sini dan untuk Illiyyin di 83:19, sehingga dua nama yang berlawanan sama-sama dinyatakan tidak terjangkau. Jadi susunan yang sama melayani dua golongan yang berlawanan.
Akar (أَدْرَاكَ, adraaka) berarti tahu. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:19. Jadi akar itu terkunci ke dalam dua pertanyaan yang sejajar, dan ia tidak dipakai di ayat lain mana pun di surahnya.
Kata (سِجِّينٌ, sijjiinun) di ayat ini berbaris damah, sedangkan bentuk yang sama di 83:7 berbaris kasrah sesudah huruf. Jadi satu nama berdiri dengan dua baris di dua ayat berturut-turut, dan perbedaan itu ditentukan kedudukannya di dalam kalimat.
Bentuk (أَدْرَاكَ, adraaka) berorang kedua tunggal, sedangkan ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi pembicaraan berpindah kepada sapaan langsung, dan Al-Qur'an tidak menandai pergantian itu.
Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan yang menyatakan perkaranya di luar jangkauan, bukan permintaan keterangan. Jadi jawabannya tidak diharapkan, dan yang datang di 83:9 justru keterangan yang tetap tidak menerangkannya.
Ayat ini bagian kedua dari empat ayat tentang catatan orang durhaka, dan susunannya diulang persis di 83:19 untuk golongan yang berlawanan. Jadi dua bagian surah ini dibangun dengan rangka yang sama.
Kata (مَا, maa) di ayat ini muncul dua kali dengan dua kedudukan yang berbeda, sekali sebagai huruf tanya dan sekali sebagai kata sambung. Jadi satu bunyi berdiri dua kali di dalam satu ayat pendek dengan dua tugas yang berlainan, dan pembacanya harus menimbangnya dari susunan kalimatnya sendiri.
Kata (سِجِّينٌ, sijjiinun) menutup ayatnya, dan letaknya sama persis dengan letak nama di 83:19. Jadi dua ayat yang sejajar sama-sama ditutup dengan nama yang ditanyakan, dan kesejajaran itu berlaku sampai ke urutan katanya tanpa satu kata pembeda. Susunan itu membuat pertanyaannya terbaca sebagai pernyataan bahwa perkaranya di luar jangkauan. Al-Qur'an tidak menyebut jawabannya di dalam ayat ini, dan yang datang di 83:9 justru keterangan tentang benda lain yang tetap tidak menerangkan namanya. Pembacanya dibiarkan tanpa satu keterangan tambahan pun tentang nama itu.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan misteri Sijjin yang tak terbayangkan, dan rangkaian tiga kata pertamanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, dan 83:19.
Jadi dua dari dua belas tempat itu berada di dalam surah ini. Rangkaian yang sama dipakai untuk Sijjin di sini dan untuk Illiyyin di 83:19, sehingga dua nama yang berlawanan sama-sama dinyatakan tidak terjangkau.
Akar kata keduanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:19. Jadi akar itu terkunci ke dalam dua pertanyaan yang sejajar, dan ia tidak dipakai di ayat lain mana pun di surahnya.
Kata terakhirnya berbaris damah, sedangkan bentuk yang sama di 83:7 berbaris kasrah sesudah huruf. Jadi satu nama berdiri dengan dua baris di dua ayat berturut-turut.
Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan yang menyatakan perkaranya di luar jangkauan, bukan permintaan keterangan. Kata keduanya di ayat ini muncul dua kali dengan dua kedudukan yang berbeda, sekali sebagai huruf tanya dan sekali sebagai kata sambung. Kata terakhirnya menutup ayatnya, dan letaknya sama persis dengan letak nama di 83:19, sehingga dua ayat yang sejajar sama-sama ditutup dengan nama yang ditanyakan. Jadi dua bagian surah ini dibangun dengan rangka yang sama, dan susunan ayat ini diulang persis di 83:19 untuk golongan yang berlawanan.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, dan 83:19, dan dua di antaranya berada di dalam surah ini. Rangkaian yang sama dipakai Allah untuk Sijjin di sini dan untuk Illiyyin di 83:19, sehingga dua nama yang berlawanan sama-sama dinyatakan tidak terjangkau. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian susunan yang sama untuk dua nama berlawanan.
- Akar kata keduanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:8 dan 83:19. Jadi akar itu terkunci ke dalam dua pertanyaan yang sejajar, dan Allah tidak memakainya di ayat lain mana pun di dalam surahnya walau sekali. Kesejajaran itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa seluruh ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pengunciannya di dua pertanyaan saja. Susunan yang sama diulang untuk nama yang berlawanan sembilan ayat kemudian. Pertanyaan tentang satu nama menyatakan bahwa jawabannya di luar jangkauan.
- Kata terakhirnya berbaris damah, sedangkan bentuk yang sama di 83:7 berbaris kasrah sesudah huruf. Jadi satu nama berdiri dengan dua baris di dua ayat berturut-turut, dan perbedaan itu ditentukan kedudukannya di dalam kalimat, bukan artinya. Perbedaan baris itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan kedudukan masing-masing. Pertanyaan tentang satu nama menyatakan bahwa jawabannya di luar jangkauan.
- Bentuk kata keduanya berorang kedua tunggal, sedangkan ayat sebelumnya berbicara tentang pihak ketiga. Jadi pembicaraan berpindah kepada sapaan langsung, dan Allah tidak menandai pergantian itu dengan satu kata penghubung pun. Peralihan itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa yang disapa sekarang satu orang, bukan golongan. Pertanyaan tentang satu nama menyatakan bahwa jawabannya di luar jangkauan. Susunan yang sama diulang untuk nama yang berlawanan sembilan ayat kemudian.
- Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan yang menyatakan perkaranya di luar jangkauan, bukan permintaan keterangan. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika Allah menjawab pertanyaan itu di 83:9 dengan dua kata yang tetap tidak menerangkannya? Bentuk itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa pertanyaannya dijawab dengan keterangan tentang benda yang lain sama sekali. Pertanyaan tentang satu nama menyatakan bahwa jawabannya di luar jangkauan.
- Ayat ini bagian kedua dari empat ayat tentang catatan orang durhaka, dan susunannya diulang persis di 83:19 untuk golongan yang berlawanan. Jadi dua bagian surah Allah ini dibangun dengan rangka yang sama tanpa satu kata pembeda. Kesejajaran dua bagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan letak ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyusunan yang sejajar itu. Susunan yang sama diulang untuk nama yang berlawanan sembilan ayat kemudian.