كِتَابٌ مَرْقُومٌ

Kitab yang bertanda-tulis.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كِتَابٌ مَرْقُومٌkitaabun marquumunkitab yang bertanda-tulis

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. كِتَابٌkitaabunKitab
  2. مَرْقُومٌmarquumunyang bertanda-tulis

Inti bacaan

Kepastian dan kejelasan catatan: '(yaitu) kitab yang bertanda-tulis', penegasan bahwa catatan ini tercatat jelas dan permanen, tidak bisa dihapus atau diperdebatkan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(Yaitu)" tidak dipakai.

Rangkaian (كِتَابٌ مَرْقُومٌ, kitaabun marquum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 83:9 dan 83:20. Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada surah lain yang memakainya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua kata yang sama persis dipakai untuk Sijjin di sini dan untuk Illiyyin di 83:20, sehingga dua tempat yang berlawanan diterangkan dengan kalimat yang tidak berbeda satu huruf pun. Jadi perbedaan keduanya tidak terletak pada keterangannya. Kata (مَرْقُومٌ, marquum) di sini berbentuk penderita, bukan bentuk pelaku.

Akar (مَرْقُومٌ, marquum) berarti menulis dan menandai. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:9, 83:9, dan 83:20. Di 18:9 akar itu dipakai untuk penghuni gua dan lempeng bertulis.

Jadi dua dari tiga pemakaian akar itu berada di dalam surah ini, dan yang di 18:9 menamai sesuatu yang bertulis di dunia. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (كِتَابٌ, kitaabun) mendahuluinya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif.

Kedua kata di ayat ini tidak bertakrif, sehingga yang disebut kitab sebagai jenis, bukan satu kitab tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis. Kata (مَرْقُومٌ, marquum) menutup ayatnya, dan ia menyifati kata di depannya.

Bentuk (مَرْقُومٌ, marquum) berbentuk penderita, sehingga yang menulisinya tidak disebutkan. Jadi keterangan itu berpusat pada keadaan kitabnya, bukan pada pihak yang menulisnya, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Ayat ini menjawab pertanyaan di 83:8 dengan dua kata yang tetap tidak menerangkan namanya. Jadi pertanyaan tentang Sijjin dijawab dengan keterangan tentang kitab, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya dengan satu kata pun. Kata (كِتَابٌ, kitaabun) berbaris damah sebagai keterangan bagi nama di 83:8.

Susunan ayat ini cuma dua kata, sama seperti susunan di 83:5 dan 83:20. Jadi tiga ayat terpendek di dalam surah ini sama panjangnya, dan ketiganya memuat keterangan yang menentukan. Kata (مَرْقُومٌ, marquum) diulang persis di 83:20 bersama kata yang mendahuluinya.

Kata (كِتَابٌ, kitaabun) berbaris damah sebagai keterangan bagi nama di 83:8, sehingga ayat ini bergantung pada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang diterangkannya, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutan namanya di dalam ayat ini.

Kata (مَرْقُومٌ, marquum) menyifati kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Jadi keterangan dan bendanya terikat rapat, dan susunan yang sama dipakai lagi di 83:20 untuk tempat catatan golongan yang berlawanan tanpa satu huruf pembeda. Susunan itu menjawab pertanyaan sebelumnya dengan dua kata yang tidak menyebut nama itu lagi. Al-Qur'an tidak menyebut apa isi kitab itu maupun siapa yang menulisnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata yang diulang persis di 83:20.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan bahwa Sijjin adalah kitab catatan yang bertanda jelas, dan rangkaian dua katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 83:9 dan 83:20.

Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada surah lain yang memakainya. Dua kata yang sama persis dipakai untuk Sijjin di sini dan untuk Illiyyin di 83:20.

Jadi dua tempat yang berlawanan diterangkan dengan kalimat yang tidak berbeda satu huruf pun, sehingga perbedaan keduanya tidak terletak pada keterangannya.

Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:9, 83:9, dan 83:20. Di 18:9 akar itu dipakai untuk penghuni gua dan lempeng bertulis, sehingga dua dari tiga pemakaian akar itu berada di dalam surah ini.

Ayat ini menjawab pertanyaan di 83:8 dengan dua kata yang tetap tidak menerangkan namanya. Kata pertamanya berbaris damah sebagai keterangan bagi nama di 83:8, sehingga ayat ini bergantung pada ayat sebelumnya. Kata terakhirnya menyifati kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif, sehingga keterangan dan bendanya terikat rapat tanpa satu penakrifan pun. Jadi tiga ayat terpendek di dalam surah ini sama panjangnya, yaitu 83:5, ayat ini, dan 83:20, dan ketiganya memuat keterangan yang menentukan.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 83:9 dan 83:20. Jadi Allah menerangkan Sijjin dan Illiyyin dengan kalimat yang tidak berbeda satu huruf pun, sehingga perbedaan dua tempat yang berlawanan itu tidak terletak pada keterangannya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kalimat yang sama untuk dua tempat berlawanan. Kitab yang bertanda tidak disebut siapa yang menulisinya maupun apa isinya.
  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:9, 83:9, dan 83:20. Di 18:9 akar itu dipakai Allah untuk penghuni gua dan lempeng bertulis. Jadi dua dari tiga pemakaian akar itu berada di dalam surah ini, dan yang ketiga menamai sesuatu yang bertulis di dunia. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan akar yang langka itu di satu surah. Dua kata yang sama menerangkan dua tempat yang paling berjauhan nasibnya.
  • Bentuk kata terakhirnya berbentuk penderita, sehingga yang menulisinya tidak disebutkan. Jadi keterangan Allah berpusat pada keadaan kitabnya, bukan pada pihak yang menulisnya, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Ketiadaan penulis itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menggeser pusat keterangan dari kitabnya kepada pihak yang menulisnya. Dua kata yang sama menerangkan dua tempat yang paling berjauhan nasibnya.
  • Kedua kata di ayat ini tidak bertakrif, sehingga yang disebut kitab sebagai jenis, bukan satu kitab tertentu. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis di dalam ayatnya. Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Kitab yang bertanda tidak disebut siapa yang menulisinya maupun apa isinya.
  • Ayat ini menjawab pertanyaan di 83:8 dengan dua kata yang tetap tidak menerangkan namanya. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika Allah menjawab pertanyaan tentang satu nama dengan keterangan tentang benda lain sama sekali? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata itu, dan menerangkan nama yang ditanyakan lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis. Dua kata yang sama menerangkan dua tempat yang paling berjauhan nasibnya. Dua kata yang sama menerangkan dua tempat yang paling berjauhan nasibnya.
  • Susunan ayat ini cuma dua kata, sama seperti susunan di 83:5 dan 83:20. Jadi tiga ayat terpendek di dalam surah ini sama panjangnya, dan ketiganya memuat keterangan yang menentukan tentang waktu maupun tempat catatan itu. Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan panjang yang sama bagi ketiganya. Kitab yang bertanda tidak disebut siapa yang menulisinya maupun apa isinya.