الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ
Yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِalladziina yukadzdzibuuna bi-yawmi d-diiniyaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (4 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- يُكَذِّبُونَyukadzdzibuunamereka mendustakan
- بِيَوْمِbi-yawmipada hari
- الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
Inti bacaan
Identifikasi spesifik kategori pendusta: '(yaitu) orang-orang yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban', kejelasan definisi bahwa penolakan terhadap akuntabilitas adalah akar dari label 'pendusta' dalam konteks ini.
Penjelasan pilihan kata
"Yawm ad-diin" diterjemahkan "Hari Pertanggungjawaban", acuan baku terjemahan ini.
Rangkaian (بِيَوْمِ الدِّينِ, bi-yaumi d-diin) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 70:26, 74:46, dan 83:11. Di 70:26 dan 74:46 rangkaian itu juga dipakai untuk menyebut apa yang dibenarkan atau didustakan.
Jadi ketiga tempat memakai rangkaian yang sama untuk perkara yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkannya cuma bentuk katanya yang sama persis.
Kata kerja (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) berasal dari akar yang berarti berdusta. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:10, ayat ini, 83:12, dan 83:17. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai akar yang sama.
Kata (الَّذِينَ, alladziina) di awal ayat menyambungkannya kepada sebutan di 83:10, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi susunan yang sama dipakai di 83:1 dan 83:2 pada pembuka surahnya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua kutukan di dalam surah ini sama-sama disusul kalimat yang dibuka dengan kata penunjuk yang sama. Jadi dua bagian surah dibangun dengan rangka yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Bentuk (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) berbentuk sekarang, sehingga pendustaan itu dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi ia tidak disebut sebagai satu keputusan yang sudah selesai.
Huruf ba di depan (بِيَوْمِ, bi-yaumi) menyatakan sasaran pendustaan, sehingga yang didustakan harinya sendiri, bukan berita tentangnya. Jadi arah pendustaannya ditentukan satu huruf saja.
Ayat ini membuka tiga ayat tentang para pendusta, dan ketiganya berjalan sampai 83:13. Jadi mereka dirinci lebih panjang daripada orang yang curang menakar di bagian pembukanya.
Kata (الدِّينِ, ad-diin) berasal dari akar yang berarti tunduk dan pembalasan. Akar itu dipakai di 87 ayat, antara lain 1:4, 2:193, 24:2, 51:6, dan 82:9. Kesejajaran dengan 82:9 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini dan memakai akar yang sama untuk apa yang didustakan mereka.
Bentuk (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) berpola kedua, sehingga artinya menyatakan sesuatu dusta, bukan berdusta sendiri. Jadi perbuatannya tertuju kepada sesuatu di luar dirinya, dan perbedaan pola itu terbawa di dalam huruf tambahannya sendiri tanpa satu kata penjelas pun. Susunan itu merinci siapa yang dikutuk, sesudah kutukan diucapkan lebih dulu di ayat sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyebut nama satu pun di antara mereka maupun berapa banyak, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang menerangkan sifat mereka.
Tafsiran
Ayat ini merinci identitas para pendusta: mereka yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 70:26, 74:46, dan 83:11.
Di 70:26 dan 74:46 rangkaian itu juga dipakai untuk menyebut apa yang dibenarkan atau didustakan. Jadi ketiga tempat memakai rangkaian yang sama untuk perkara yang sama.
Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:10, ayat ini, 83:12, dan 83:17. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai akar yang sama.
Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:10, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Susunan yang sama dipakai di 83:1 dan 83:2 pada pembuka surahnya.
Ayat ini membuka tiga ayat tentang para pendusta, dan ketiganya berjalan sampai 83:13. Akar kata terakhirnya dipakai di 87 ayat, antara lain 1:4, 2:193, 24:2, 51:6, dan 82:9. Kesejajaran dengan 82:9 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini dan memakai akar yang sama untuk apa yang didustakan mereka. Jadi mereka dirinci lebih panjang daripada orang yang curang menakar di bagian pembukanya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Pembacanya dibiarkan tanpa satu nama pun di antara mereka.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 70:26, 74:46, dan 83:11. Di 70:26 dan 74:46 rangkaian itu juga dipakai untuk menyebut apa yang dibenarkan atau didustakan, sehingga ketiga tempat memakainya untuk perkara yang sama. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian rangkaian yang sama di tiga surah berjauhan. Yang mereka dustakan bukan berita tentang hari itu melainkan harinya sendiri.
- Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada sebutan di 83:10, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Susunan yang sama dipakai Allah di 83:1 dan 83:2, sehingga dua kutukan di dalam surah ini sama-sama disusul kalimat yang dibuka dengan kata penunjuk yang sama. Kesejajaran itu berlaku sampai ke kata pembukanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua kutukan disusul kalimat dengan rangka yang sama. Dua kutukan di surah ini sama-sama disusul kalimat dengan rangka yang sama.
- Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:10, 83:11, 83:12, dan 83:17. Jadi tiga ayat berturut-turut memakai akar yang sama, dan Allah tidak menandai pemusatan itu dengan satu kalimat pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan satu akar di empat ayat surah ini. Yang mereka dustakan bukan berita tentang hari itu melainkan harinya sendiri.
- Huruf di depan kata ketiganya menyatakan sasaran pendustaan, sehingga yang didustakan harinya sendiri, bukan berita tentangnya. Jadi arah pendustaannya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah apa yang sebenarnya mereka tolak. Arah pendustaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah apa yang sebenarnya mereka tolak di dalam ayat ini. Dua kutukan di surah ini sama-sama disusul kalimat dengan rangka yang sama.
- Bentuk kata keduanya berbentuk sekarang, sehingga pendustaan itu dinyatakan sebagai yang masih berlangsung. Jadi Allah tidak menyebutnya sebagai satu keputusan yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk lampau akan menutup kemungkinan mereka masih bisa berubah. Dua kutukan di surah ini sama-sama disusul kalimat dengan rangka yang sama.
- Ayat ini membuka tiga ayat tentang para pendusta, dan ketiganya berjalan sampai 83:13. Apa yang dinyatakan Allah dengan merinci para pendusta lebih panjang daripada orang yang curang menakar di dua ayat pembuka surahnya? Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemberian ruang yang lebih besar kepada mereka. Yang mereka dustakan bukan berita tentang hari itu melainkan harinya sendiri. Yang mereka dustakan bukan berita tentang hari itu melainkan harinya sendiri.