وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ

Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap pelampau batas lagi bergelimang dosa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍwa-maa yukadzdzibu bihi illaa kullu mu'tadin atsiimindan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap pelampau batas lagi bergelimang dosa

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. يُكَذِّبُyukadzdzibumendustakan
  3. بِهِbihipadanya
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. كُلُّkullusetiap
  6. مُعْتَدٍmu'tadinyang melampaui batas
  7. أَثِيمٍatsiiminyang banyak berdosa

Inti bacaan

Profil karakter yang menolak akuntabilitas: 'dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap pelampau batas lagi bergelimang dosa', pengakuan bahwa penolakan terhadap Hari Pertanggungjawaban berkorelasi dengan pola perilaku bermasalah yang lebih luas.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (مُعْتَدٍ أَثِيمٍ, mu'tadin atsiim) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:12 dan 83:12. Di 68:12 rangkaian itu berdiri di dalam daftar sifat orang yang tidak boleh ditaati.

Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama, dan yang di 68:12 melarang menaatinya sedangkan yang di sini menyebutnya sebagai satu-satunya pendusta. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Akar (مُعْتَدٍ, mu'tadin) berarti melampaui dan memusuhi. Akar itu dipakai di 92 ayat, antara lain 2:190, 5:87, 7:55, 26:166, dan 65:1. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai permusuhan atau melampaui batas yang ditetapkan.

Akar (أَثِيمٍ, atsiim) berarti dosa. Akar itu cuma dipakai di 42 ayat, antara lain 2:173, 4:107, 44:44, 45:7, dan 76:24. Di 45:7 akar itu dipakai bersama kata yang berdekatan artinya di dalam kalimat kutukan.

Rangkaian (كُلُّ, kullu) menyatakan cakupan yang menyeluruh, dan ia berdiri sesudah huruf pengecualian. Jadi susunannya menutup seluruh kemungkinan lain: tidak ada yang mendustakannya kecuali orang yang bersifat demikian.

Kata (إِلَّا, illaa) huruf pengecualian, dan ia bekerja bersama huruf pengingkaran di awal kalimatnya. Jadi ayat ini memuat pembatasan ganda, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Bentuk (يُكَذِّبُ, yukadzdzibu) berbentuk tunggal, sedangkan bentuk yang sama di 83:11 berbentuk jamak. Jadi dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama dengan bilangan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu.

Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang para pendusta, dan ia menyempitkan siapa mereka. Jadi susunannya bergerak dari jamak ke tunggal, lalu ke satu ucapan yang dikutip di 83:13.

Kata (بِهِ, bihi) memakai kata ganti yang menunjuk hari di 83:11, sehingga dua ayat itu terikat. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa perkara yang didustakan, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya di dalam ayat ini walau sekali.

Kata (أَثِيمٍ, atsiim) berpola yang menyatakan kesungguhan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar berdosa melainkan tenggelam di dalam dosa. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya di dalam ayat ini. Susunan itu menyempitkan siapa yang mendustakan sampai tinggal satu jenis orang. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun maupun satu contoh perbuatan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tujuh kata yang menutup seluruh kemungkinan lain dengan dua huruf. Pembacanya dibiarkan tanpa satu nama maupun satu contoh perbuatan di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa hanya orang yang melampaui batas dan berdosa yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:12 dan 83:12.

Di 68:12 rangkaian itu berdiri di dalam daftar sifat orang yang tidak boleh ditaati. Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama, dan yang di 68:12 melarang menaatinya sedangkan yang di sini menyebutnya sebagai satu-satunya pendusta.

Akar kata kedua dari belakang dipakai di 92 ayat, antara lain 2:190, 5:87, 7:55, 26:166, dan 65:1. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai permusuhan atau melampaui batas yang ditetapkan.

Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 42 ayat, antara lain 2:173, 4:107, 44:44, 45:7, dan 76:24. Di 45:7 akar itu dipakai bersama kata yang berdekatan artinya di dalam kalimat kutukan.

Bentuk kata keduanya berbentuk tunggal, sedangkan bentuk yang sama di 83:11 berbentuk jamak. Kata keempatnya memakai kata ganti yang menunjuk hari di 83:11, sehingga dua ayat itu terikat. Kata terakhirnya berpola yang menyatakan kesungguhan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar berdosa melainkan tenggelam di dalam dosa, dan kadarnya terbawa di dalam pola katanya. Jadi susunannya bergerak dari bentuk jamak ke tunggal, lalu ke satu ucapan yang dikutip di 83:13 tanpa satu kata penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:12 dan 83:12. Di 68:12 rangkaian itu berdiri di dalam daftar sifat orang yang tidak boleh ditaati, sedangkan di sini Allah menyebutnya sebagai satu-satunya pihak yang mendustakan hari itu. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian rangkaian yang sama di dua surah saja. Sifat yang disebut di sini muncul juga di surah lain untuk orang yang tak boleh ditaati.
  • Akar kata kedua dari belakang dipakai Allah di 92 ayat, antara lain 2:190, 5:87, 7:55, 26:166, dan 65:1. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai permusuhan atau melampaui batas yang ditetapkan-Nya, dan di sini ia menyifati pendusta hari pembalasan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang menamai melampaui batas. Dua huruf menutup seluruh kemungkinan lain: tidak ada pendusta selain orang itu.
  • Kata kelimanya huruf pengecualian, dan ia bekerja bersama huruf pengingkaran di awal kalimatnya. Jadi ayat ini memuat pembatasan ganda dari Allah, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini di mana pun. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua pembatas berdiri di dalam satu ayat yang cuma tujuh kata. Dua huruf menutup seluruh kemungkinan lain: tidak ada pendusta selain orang itu. Dua huruf menutup seluruh kemungkinan lain: tidak ada pendusta selain orang itu.
  • Bentuk kata keduanya berbentuk tunggal, sedangkan bentuk yang sama di 83:11 berbentuk jamak. Jadi dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama dengan bilangan yang berbeda, dan Allah tidak menerangkan pergantian itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan bilangan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pergantiannya di tengah bagian. Sifat yang disebut di sini muncul juga di surah lain untuk orang yang tak boleh ditaati.
  • Kata keenamnya menyatakan cakupan yang menyeluruh, dan ia berdiri sesudah huruf pengecualian. Jadi susunan Allah menutup seluruh kemungkinan lain, dan tidak ada satu pihak pun di luar sifat itu yang disebut mendustakan hari pembalasan. Cakupan itu terbawa di dalam satu kata saja, dan terjemahan yang melemahkannya akan membuka kemungkinan yang justru ditutup susunan ayatnya sendiri. Dua huruf menutup seluruh kemungkinan lain: tidak ada pendusta selain orang itu.
  • Ayat ini bagian kedua dari tiga ayat tentang para pendusta, dan ia menyempitkan siapa mereka. Apa yang dikerjakan susunan itu pada pembacanya ketika Allah bergerak dari bentuk jamak, ke tunggal, lalu ke satu ucapan yang dikutip di 83:13? Yang tersedia bagi pembacanya cuma sifat yang disebutkan, dan menamai orangnya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan susunan ayatnya. Sifat yang disebut di sini muncul juga di surah lain untuk orang yang tak boleh ditaati.