إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Apabila dibacakan kepadanya tanda-tanda Kami, dia berkata, “Dongeng orang-orang dahulu.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَidzaa tutlaa 'alayhi aayaatunaa qaala asaathiiru l-awwaliinaapabila dibacakan kepadanya tanda-tanda Kami, dia berkata, dongeng orang-orang dahulu

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. تُتْلَىٰtutlaadibacakan
  3. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  4. آيَاتُنَاaayaatunaatanda-tanda Kami
  5. قَالَqaalaberkata
  6. أَسَاطِيرُasaathiirudongeng-dongeng
  7. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Respons meremehkan yang khas: 'apabila dibacakan kepadanya tanda-tanda Kami, dia berkata: itu adalah dongeng orang-orang dahulu', pola penolakan yang menampik pesan serius dengan label merendahkan tanpa penyimakan yang sungguh-sungguh.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(Itu adalah)" tidak dipakai: kutip diterjemahkan harfiah tanpa penambahan kopula. Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi verba "qaala" (akar q-w-l) via morfologi.

Rangkaian (أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ, asaathiiru l-awwaliin) muncul 9 kali di 9 surah, yaitu di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Jadi kalimat itu selalu dipakai sebagai tuduhan terhadap wahyu.

Kesejajaran dengan 68:15 patut dicatat, sebab di sana kalimat yang sama diucapkan orang yang disifati di 68:12 dengan rangkaian yang sama seperti di 83:12. Jadi dua surah memakai pasangan sifat dan ucapan yang sama.

Kata (آيَاتُنَا, aayaatunaa) muncul 12 kali di 12 surah, antara lain di 8:31, 10:15, 31:7, 45:25, dan 68:15. Jadi kata itu berkumpul dengan tuduhan yang sama di beberapa tempat, termasuk di 8:31 dan 68:15.

Kata kerja (قَالَ, qaala) berasal dari akar yang berarti mengatakan. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 83:17, dan 83:32. Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini yang berbicara orang durhaka, di 83:17 yang berbicara pihak yang tidak disebutkan, dan di 83:32 yang berbicara orang berdosa tentang orang beriman. Jadi satu akar mengikat tiga kutipan.

Bentuk (تُتْلَىٰ, tutlaa) berbentuk penderita, sehingga yang membacakan tidak disebutkan. Jadi yang ditekankan pembacaannya, bukan pembacanya, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang para pendusta, dan sesudahnya 83:14 menerangkan sebabnya. Jadi ucapan mereka disebut lebih dulu dan sebabnya menyusul, dan Al-Qur'an tidak menandai urutan itu.

Kata (عَلَيْهِ, 'alaihi) memakai kata ganti tunggal yang menunjuk orang di 83:12, sehingga dua ayat itu terikat. Jadi yang dibacakan ayat-ayat itu satu orang, bukan kumpulan, dan bilangannya terbawa di dalam kata gantinya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.

Kata (آيَاتُنَا, aayaatunaa) memakai kata ganti kepemilikan berorang pertama jamak, dan itu satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk itu. Jadi Yang berfirman menyebut diri-Nya sekali saja di sepanjang surahnya, dan penyebutan itu berdiri di tengah kutipan tuduhan mereka. Susunan itu mengutip ucapan mereka tanpa satu kata pengantar selain kata kerjanya. Al-Qur'an tidak menyebut kapan ucapan itu diucapkan maupun kepada siapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang menutup bagian tentang para pendusta.

Tafsiran

Ayat ini mencatat tuduhan orang durhaka bahwa wahyu hanyalah dongeng kuno, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah, yaitu di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13.

Jadi kalimat itu selalu dipakai sebagai tuduhan terhadap wahyu. Kesejajaran dengan 68:15 patut dicatat, sebab di sana kalimat yang sama diucapkan orang yang disifati di 68:12 dengan rangkaian yang sama seperti di 83:12.

Jadi dua surah memakai pasangan sifat dan ucapan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata ketiganya muncul 12 kali di 12 surah, antara lain di 8:31, 10:15, 31:7, 45:25, dan 68:15. Kata kerja keempatnya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 83:17, dan 83:32.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang para pendusta, dan sesudahnya 83:14 menerangkan sebabnya. Kata ketiganya memakai kata ganti tunggal yang menunjuk orang di 83:12, sehingga yang dibacakan ayat-ayat itu satu orang, bukan kumpulan. Kata keempatnya memakai kata ganti kepemilikan berorang pertama jamak, dan itu satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk itu. Jadi ucapan mereka disebut lebih dulu dan sebabnya menyusul di 83:14, dan Al-Qur'an tidak menandai urutan itu dengan satu kata pun.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah, dan salah satunya 68:15. Di sana kalimat yang sama diucapkan orang yang disifati di 68:12 dengan rangkaian yang sama seperti di 83:12. Jadi dua surah memakai pasangan sifat dan ucapan yang sama dari Allah. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian pasangan sifat dan ucapan yang sama di dua surah. Tiga kutipan di surah ini dimiliki tiga pihak yang berbeda sama sekali.
  • Kata kerja keempatnya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan 83:32. Di sini yang berbicara orang durhaka, di 83:17 pihak yang tidak disebutkan Allah, dan di 83:32 orang berdosa tentang orang beriman. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa tiga kutipan di surah ini dimiliki tiga pihak yang berbeda. Tuduhan yang sama diucapkan di sembilan surah, dan selalu tentang wahyu.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah, yaitu di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Jadi kalimat itu selalu dipakai sebagai tuduhan terhadap wahyu Allah, dan tidak sekali pun untuk perkara yang lain. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kalimat itu selalu sebagai tuduhan. Tiga kutipan di surah ini dimiliki tiga pihak yang berbeda sama sekali.
  • Bentuk kata keduanya berbentuk penderita, sehingga yang membacakan tidak disebutkan. Jadi yang ditekankan Allah pembacaannya, bukan pembacanya, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun. Ketiadaan pembaca itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menggeser pusat kalimat dari pembacaannya kepada pembacanya. Tiga kutipan di surah ini dimiliki tiga pihak yang berbeda sama sekali. Tiga kutipan di surah ini dimiliki tiga pihak yang berbeda sama sekali.
  • Kata ketiganya muncul 12 kali di 12 surah, antara lain di 8:31, 10:15, 31:7, 45:25, dan 68:15. Jadi kata yang menyebut ayat-ayat Allah berkumpul dengan tuduhan yang sama di beberapa tempat, termasuk di 8:31 dan 68:15. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan berkumpulnya kata itu dengan tuduhan yang sama. Tuduhan yang sama diucapkan di sembilan surah, dan selalu tentang wahyu. Tuduhan yang sama diucapkan di sembilan surah, dan selalu tentang wahyu.
  • Ayat ini menutup tiga ayat tentang para pendusta, dan sesudahnya 83:14 menerangkan sebabnya. Apa yang dikerjakan susunan itu pada pembacanya ketika Allah mengutip ucapan mereka lebih dulu, lalu baru menyebut apa yang membuat mereka berkata begitu? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ucapan mereka dikutip lebih dulu daripada sebab yang menerangkannya. Tuduhan yang sama diucapkan di sembilan surah, dan selalu tentang wahyu.