كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka usahakan itu telah menutupi karat pada hati mereka.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَkallaa bal raana 'alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuunasekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka usahakan itu telah menutupi karat pada hati mereka

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. بَلْbalbahkan
  3. رَانَraanamenutupi
  4. عَلَىٰ'alaaatas
  5. قُلُوبِهِمْquluubihimhati mereka
  6. مَاmaaapa yang
  7. كَانُواkaanuumereka selalu
  8. يَكْسِبُونَyaksibuunamereka usahakan

Inti bacaan

Metafora tajam tentang korupsi hati: 'sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka usahakan itu telah menutupi karat pada hati mereka', citra karat yang menumpuk akibat perbuatan buruk berulang, penjelasan mekanistik tentang bagaimana dosa berkelanjutan mengaburkan kepekaan moral secara bertahap.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (رَانَ, raana) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya berarti karat yang menutupi. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar.

Ini akar pertama dari empat akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 83:25, 83:27, dan 83:30, sehingga surah tiga puluh enam ayat ini memuat empat hapax akar sekaligus. Kata (رَانَ, raana) di sini berbentuk lampau, dan akarnya tidak dipakai di tempat lain.

Kata (قُلُوبِهِمْ, quluubihim) berasal dari akar yang berarti membalik. Akar itu dipakai di 155 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:31. Di 83:31 akar itu dipakai untuk orang yang pulang kepada keluarganya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar menamai hati yang berkarat dan perbuatan pulang ke rumah, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang sesuatu yang berbalik. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Kata (قُلُوبِهِمْ, quluubihim) menyusulnya, dan ia memakai kata ganti jamak.

Kata kerja (يَكْسِبُونَ, yaksibuun) berasal dari akar yang berarti mengusahakan. Akar itu dipakai di 60 ayat, antara lain 2:79, 4:111, 6:120, 42:30, dan 74:38. Di 42:30 akar itu dipakai untuk musibah yang datang karena perbuatan tangan sendiri.

Kata (كَلَّا, kallaa) diulang dari 83:7, sehingga kata itu muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini. Ia dipakai sekali lagi di 83:15, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan kata itu.

Kata (بَلْ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia datang tepat sesudah kata penolak. Jadi satu ayat memuat dua kata pembalik sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Bentuk (يَكْسِبُونَ, yaksibuun) berbentuk sekarang dan didahului kata kerja yang menyatakan kebiasaan, sehingga perbuatan itu dinyatakan berulang-ulang. Jadi karatnya datang dari kebiasaan, bukan dari satu perbuatan.

Kata (عَلَىٰ, 'alaa) menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga karat itu dilukiskan menutupi hati dari atas. Jadi gambarannya lapisan yang menghalangi, bukan noda yang menempel, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun di dalam ayatnya.

Kata (مَا, maa) di ayat ini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi isi perbuatan mereka tidak dinamai sama sekali, dan menyisipkan namanya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunan katanya sendiri. Susunan itu menerangkan sebab kebutaan mereka dengan satu kata yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menyebut sejak kapan karat itu menumpuk maupun apa perbuatan yang menumpuknya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tujuh kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan sebab kebutaan mereka: hati yang berkarat akibat perbuatan dosa yang terus-menerus, dan kata kerja ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar pertama dari empat akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 83:25, 83:27, dan 83:30.

Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai di 155 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:31. Di 83:31 akar itu dipakai untuk orang yang pulang kepada keluarganya.

Jadi satu akar menamai hati yang berkarat dan perbuatan pulang ke rumah, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang sesuatu yang berbalik.

Kata pertamanya diulang dari 83:7, sehingga kata itu muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini. Kata keempatnya menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga karat itu dilukiskan menutupi hati dari atas. Kata keenamnya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran, sehingga isi perbuatan mereka tidak dinamai sama sekali di dalam ayatnya. Jadi karatnya datang dari kebiasaan, bukan dari satu perbuatan, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu contoh perbuatan pun di dalam ayatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kelimanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 155 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan 83:31. Di 83:31 akar itu dipakai untuk orang yang pulang kepada keluarganya, sehingga satu akar menamai hati yang berkarat dan perbuatan berbalik pulang. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk hati dan untuk kepulangan. Satu akar menamai hati yang berbalik dan langkah kaki yang pulang ke rumah.
  • Kata kerja ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar pertama dari empat akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 83:25, 83:27, dan 83:30. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan empat hapax akar di dalam satu surah. Satu akar menamai hati yang berbalik dan langkah kaki yang pulang ke rumah.
  • Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 60 ayat, antara lain 2:79, 4:111, 6:120, 42:30, dan 74:38. Di 42:30 akar itu dipakai untuk musibah yang datang karena perbuatan tangan sendiri, sedangkan di sini ia menamai apa yang mengarat di hati. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara musibah dan karat itu dengan satu kalimat pun. Karat yang menutupi hati datang dari perbuatan mereka sendiri, bukan dari luar.
  • Kata pertamanya diulang dari 83:7, dan kata keduanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi satu ayat memuat dua kata pembalik sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini di mana pun. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua kata pembalik berdiri bersebelahan di awal ayat yang sama. Karat yang menutupi hati datang dari perbuatan mereka sendiri, bukan dari luar.
  • Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk sekarang dan didahului kata kerja yang menyatakan kebiasaan, sehingga perbuatan itu dinyatakan berulang-ulang. Jadi karatnya datang dari kebiasaan, bukan dari satu perbuatan yang berdiri sendiri. Perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri, dan terjemahan yang menghilangkan kata kebiasaannya akan mengubah karat itu menjadi satu perbuatan. Satu akar menamai hati yang berbalik dan langkah kaki yang pulang ke rumah.
  • Kata kerja ketiganya tidak punya satu pembanding pun di seluruh Al-Qur'an, baik bentuknya maupun akarnya. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika satu-satunya kata yang melukiskan apa yang terjadi pada hati mereka tidak bisa dibandingkan dengan tempat lain? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan katanya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalamnya. Karat yang menutupi hati datang dari perbuatan mereka sendiri, bukan dari luar.