ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

Kemudian dikatakan, “Inilah yang dahulu kalian dustakan.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَtsumma yuqaalu haadzaa lladzii kuntum bihi tukadzdzibuunakemudian dikatakan, inilah yang dahulu kalian dustakan

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. يُقَالُyuqaaludikatakan
  3. هَٰذَاhaadzaaini
  4. الَّذِيlladziiyang
  5. كُنْتُمْkuntumkalian selalu
  6. بِهِbihipadanya
  7. تُكَذِّبُونَtukadzdzibuunakalian mendustakan

Inti bacaan

Konfrontasi langsung dengan kenyataan yang ditolak: 'kemudian dikatakan: inilah yang dahulu kalian dustakan', momen ketika penyangkalan verbal berhadapan langsung dengan realitas yang tak terbantahkan.

Penjelasan pilihan kata

"Haadzaa" (dekat) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan "inilah": draf sudah tepat. Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi verba pasif "yuqaalu" (akar q-w-l) via morfologi.

Kata kerja (يُقَالُ, yuqaalu) berasal dari akar yang berarti mengatakan. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, ayat ini, dan 83:32. Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 83:13 yang berbicara orang durhaka, di sini yang berbicara tidak disebutkan, dan di 83:32 yang berbicara orang berdosa tentang orang beriman. Jadi satu akar mengikat tiga kutipan yang berlainan pemiliknya.

Kata kerja (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuun) berasal dari akar yang berarti berdusta. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:10, 83:11, 83:12, dan ayat ini. Jadi akar itu salah satu yang paling menyebar di dalam surahnya.

Kesejajaran itu patut dicatat pula. Tiga ayat pertama memakai akar itu untuk menyebut mereka, dan ayat ini memakainya untuk mengembalikan tuduhan kepada mereka sendiri. Jadi satu akar mengikat sebutan dan pengembaliannya. Kata (تُكَذِّبُونَ, tukadzdzibuun) di sini berorang kedua jamak, bukan pihak ketiga.

Bentuk (يُقَالُ, yuqaalu) berbentuk penderita, sehingga yang mengatakan tidak disebutkan. Jadi seruan itu terdengar tanpa pemilik suara, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.

Kata (هَٰذَا, haadzaa) menunjuk yang dekat, sedangkan kata penunjuk di 83:4 menunjuk yang jauh. Jadi dua kata penunjuk di dalam surah ini memakai jarak yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Kata (ثُمَّ, tsumma) diulang dari 83:16, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penanda urutan yang berjarak. Jadi tiga hukuman disebut satu demi satu dengan jeda di antaranya.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang hukuman mereka, dan sesudahnya 83:18 berpindah kepada orang berbakti. Jadi bagian tentang orang durhaka berhenti di sini sesudah dua belas ayat.

Kata (هَٰذَا, haadzaa) berbaris damah sebagai pokok kalimat di dalam kutipan itu, sehingga yang ditunjuk berdiri sebagai pokok pembicaraan. Jadi seruan itu menaruh benda yang mereka dustakan di tempat yang paling menonjol di dalam kalimatnya tanpa satu kata penekan pun.

Kata (كُنْتُمْ, kuntum) berasal dari akar yang berarti ada dan menjadi. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14, ayat ini, 83:29, dan 83:36. Jadi akar itu mengikat empat bagian surahnya, dan seluruhnya menamai kebiasaan yang berlangsung lama. Susunan itu menutup hukuman mereka dengan seruan yang mengembalikan tuduhan kepada mereka sendiri. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang berseru maupun apa yang ditunjuk kata penunjuknya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini mencatat seruan penegasan kepada mereka bahwa inilah yang dahulu mereka dustakan, dan kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, ayat ini, dan 83:32.

Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda. Di 83:13 yang berbicara orang durhaka, di sini yang berbicara tidak disebutkan, dan di 83:32 yang berbicara orang berdosa tentang orang beriman.

Kata terakhirnya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:10, 83:11, 83:12, dan ayat ini. Jadi tiga ayat pertama memakai akar itu untuk menyebut mereka, dan ayat ini memakainya untuk mengembalikan tuduhan kepada mereka sendiri.

Bentuk kata keduanya berbentuk penderita, sehingga yang mengatakan tidak disebutkan. Jadi seruan itu terdengar tanpa pemilik suara.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang hukuman mereka, dan sesudahnya 83:18 berpindah kepada orang berbakti. Kata ketiganya berbaris damah sebagai pokok kalimat di dalam kutipan itu, sehingga yang ditunjuk berdiri sebagai pokok pembicaraan. Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14, ayat ini, 83:29, dan 83:36. Jadi bagian tentang orang durhaka berhenti di sini sesudah dua belas ayat, dan 83:18 berpindah kepada golongan yang berlawanan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan 83:32. Di 83:13 yang berbicara orang durhaka, di sini yang berbicara tidak disebutkan Allah, dan di 83:32 orang berdosa tentang orang beriman. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk tiga kutipan berbeda pemiliknya. Seruan tanpa pemilik suara membuat penegasannya datang dari mana-mana.
  • Kata terakhirnya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:10, 83:11, 83:12, dan 83:17. Tiga ayat pertama memakai akar itu untuk menyebut mereka, dan ayat ini memakainya untuk mengembalikan tuduhan kepada mereka sendiri. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan satu akar di empat ayat surah ini. Tuduhan yang mereka lemparkan dikembalikan kepada mereka dengan akar yang sama.
  • Bentuk kata keduanya berbentuk penderita, sehingga yang mengatakan tidak disebutkan. Jadi seruan itu terdengar tanpa pemilik suara, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun dari Allah. Ketiadaan pemilik suara itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderitanya. Seruan tanpa pemilik suara membuat penegasannya datang dari mana-mana. Tuduhan yang mereka lemparkan dikembalikan kepada mereka dengan akar yang sama.
  • Kata ketiganya menunjuk yang dekat, sedangkan kata penunjuk di 83:4 menunjuk yang jauh. Jadi dua kata penunjuk di dalam surah ini memakai jarak yang berlawanan, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan jarak itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua kata penunjuknya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan jarak masing-masing. Tuduhan yang mereka lemparkan dikembalikan kepada mereka dengan akar yang sama.
  • Kata pertamanya diulang dari 83:16, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penanda urutan yang berjarak. Jadi Allah menyebut tiga hukuman satu demi satu dengan jeda di antaranya, dan jaraknya tidak diterangkan sama sekali. Jarak itu terbawa di dalam satu kata saja, dan terjemahan yang menghilangkannya akan merapatkan tiga hukuman yang sebenarnya dipisah susunannya. Tuduhan yang mereka lemparkan dikembalikan kepada mereka dengan akar yang sama.
  • Ayat ini menutup tiga ayat tentang hukuman mereka, dan sesudahnya 83:18 berpindah kepada orang berbakti. Apa yang tersisa pada pembacanya ketika Allah menutup dua belas ayat tentang orang durhaka dengan kalimat yang menunjuk sesuatu di depan mata mereka? Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan panjang bagian tentang mereka. Seruan tanpa pemilik suara membuat penegasannya datang dari mana-mana.