عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

Di atas dipan-dipan, memandang.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ'alaa l-araa'iki yanzhuruunadi atas dipan-dipan, memandang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. عَلَى'alaaatas
  2. الْأَرَائِكِl-araa'ikidipan-dipan
  3. يَنْظُرُونَyanzhuruunamemandang

Inti bacaan

Kontras kebebasan memandang: 'di atas dipan-dipan, memandang', kebebasan visual yang menjadi kontras tajam dengan golongan yang terhalang dari memandang Tuhan mereka (83:15), kenikmatan penglihatan tanpa batasan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ, 'ala l-araa-iki yanzhuruun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 83:23 dan 83:35. Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada surah lain yang memakainya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini ayat itu melukiskan orang berbakti, dan di 83:35 ia melukiskan orang beriman sesudah keadaan dibalikkan. Jadi satu ayat yang sama persis dipakai dua kali untuk dua saat yang berbeda.

Kata (الْأَرَائِكِ, al-araa-ik) berasal dari akar yang berarti dipan berkelambu. Akar itu cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 18:31, 36:56, 76:13, 83:23, dan 83:35. Jadi dua dari lima pemakaiannya berada di dalam surah ini.

Kata kerja (يَنْظُرُونَ, yanzhuruun) berasal dari akar yang berarti memandang. Akar itu dipakai di 115 ayat, antara lain 2:50, 7:198, 27:41, 75:23, dan 88:17. Kesejajaran dengan 75:23 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk wajah yang memandang Tuhannya.

Jadi akar yang di 75:23 menamai pandangan kepada Tuhannya, di sini menamai pandangan yang tidak disebut sasarannya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka pandang di dalam ayat ini maupun di 83:35. Kata (يَنْظُرُونَ, yanzhuruun) di sini berdiri tanpa objek, sehingga sasarannya tak disebut.

Bentuk (يَنْظُرُونَ, yanzhuruun) berbentuk sekarang, sehingga pandangan itu dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa yang selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Kata kerja (يَنْظُرُونَ, yanzhuruun) berdiri tanpa objek, sehingga apa yang dipandang tidak disebutkan. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menyisipkan objeknya akan mempersempit apa yang tertulis.

Ayat ini bagian kedua dari tujuh ayat tentang balasan orang berbakti, dan ia yang pertama melukiskan keadaan mereka. Jadi bagian ini bergerak dari pernyataan umum di 83:22 kepada gambaran yang terperinci.

Kata (عَلَى, 'alaa) menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga mereka dilukiskan berada di atas tempat duduknya. Jadi gambarannya kedudukan yang mengatasi, bukan sekadar bersandar, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun di dalam ayatnya.

Kata (الْأَرَائِكِ, al-araa-ik) bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut tempat duduk yang sudah dikenali. Jadi Al-Qur'an menunjuk sesuatu tanpa menerangkan wujudnya, dan keterangan itu tidak dilengkapi di 83:35 maupun di ayat mana pun sesudahnya. Susunan itu melukiskan keadaan mereka dengan tiga kata yang akan diulang persis di ayat penutup surahnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka pandang maupun dari mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma gambaran yang sengaja dibiarkan kosong sasarannya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kenyamanan mereka bersandar sambil memandang, dan rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 83:23 dan 83:35.

Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada surah lain yang memakainya. Di sini ayat itu melukiskan orang berbakti, dan di 83:35 ia melukiskan orang beriman sesudah keadaan dibalikkan.

Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 18:31, 36:56, 76:13, 83:23, dan 83:35. Jadi dua dari lima pemakaiannya berada di dalam surah ini.

Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 115 ayat, antara lain 2:50, 7:198, 27:41, 75:23, dan 88:17. Kesejajaran dengan 75:23 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk wajah yang memandang Tuhannya.

Kata terakhirnya berdiri tanpa objek, sehingga apa yang dipandang tidak disebutkan. Kata pertamanya menyatakan berada di atas sesuatu, sehingga mereka dilukiskan berada di atas tempat duduknya. Kata keduanya bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut tempat duduk yang sudah dikenali, dan Al-Qur'an tidak menerangkan wujudnya di ayat mana pun. Jadi bagian ini bergerak dari pernyataan umum di 83:22 kepada gambaran yang terperinci tanpa satu kata penghubung di antaranya.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 83:23 dan 83:35. Di sini ayat itu melukiskan orang berbakti, dan di 83:35 ia melukiskan orang beriman sesudah keadaan dibalikkan Allah. Jadi satu ayat yang sama persis dipakai dua kali untuk dua saat yang berbeda. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pengulangan satu ayat penuh di dalam satu surah. Pandangan tanpa sasaran membiarkan pembacanya mengisi sendiri apa yang dipandang.
  • Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 115 ayat, antara lain 2:50, 7:198, 27:41, 75:23, dan 88:17. Di 75:23 akar itu dipakai untuk wajah yang memandang Tuhannya, sedangkan di sini pandangan itu tidak disebut sasarannya sama sekali. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar itu untuk pandangan tanpa sasaran. Satu ayat penuh yang diulang di ujung surah menandai pembalikan nasib dua golongan.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 18:31, 36:56, 76:13, 83:23, dan 83:35. Jadi dua dari lima pemakaiannya berada di dalam surah ini, dan keduanya di dalam ayat yang sama bunyinya tanpa satu huruf pembeda. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan dua dari lima pemakaiannya di satu surah. Pandangan tanpa sasaran membiarkan pembacanya mengisi sendiri apa yang dipandang.
  • Kata terakhirnya berdiri tanpa objek, sehingga apa yang dipandang tidak disebutkan Allah. Apa yang dibayangkan pembaca ketika sebuah kenikmatan dilukiskan sebagai memandang, dan yang dipandang justru dibiarkan kosong di dua ayat sekaligus? Ketiadaan objek itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan kosong oleh susunan katanya. Pandangan tanpa sasaran membiarkan pembacanya mengisi sendiri apa yang dipandang.
  • Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga pandangan itu dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi Allah tidak menyebutnya sebagai satu peristiwa yang selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk lampau akan mengubah keadaan yang berjalan menjadi peristiwa selesai. Satu ayat penuh yang diulang di ujung surah menandai pembalikan nasib dua golongan.
  • Ayat ini bagian kedua dari tujuh ayat tentang balasan orang berbakti, dan ia yang pertama melukiskan keadaan mereka. Jadi bagian ini bergerak dari pernyataan umum di 83:22 kepada gambaran yang terperinci tanpa satu kata penghubung dari Allah. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa gambaran terperinci menyusul pernyataan umum di ayat sebelumnya. Satu ayat penuh yang diulang di ujung surah menandai pembalikan nasib dua golongan.