تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ
Engkau mengenali pada wajah mereka cahaya kenikmatan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِta'rifu fii wujuuhihim nadhrata n-na'iimiengkau mengenali pada wajah mereka cahaya kenikmatan
Terjemahan per kata (5 kata)
- تَعْرِفُta'rifuengkau mengenali
- فِيfiipada
- وُجُوهِهِمْwujuuhihimwajah mereka
- نَضْرَةَnadhratakeceriaan
- النَّعِيمِn-na'iimikenikmatan
Inti bacaan
Manifestasi fisik kebahagiaan batin: 'engkau mengenali pada wajah mereka cahaya kenikmatan', kondisi internal yang tercermin jelas secara eksternal, kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَضْرَةَ, nadhrata) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berseri segar. Ia cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 75:22, 76:11, dan 83:24.
Di 75:22 akar itu dipakai untuk wajah yang berseri pada hari itu, dan di 76:11 ia dipakai untuk keberseri-serian yang diberikan Allah. Jadi ketiga pemakaiannya menamai cahaya yang tampak pada wajah, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya. Kata (نَضْرَةَ, nadhrata) di sini disandarkan kepada kata sesudahnya.
Kata (النَّعِيمِ, an-na'iim) berasal dari akar yang berarti hidup senang dan tercukupi. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:22 dan ayat ini. Di 83:22 kenikmatan itu disebut sebagai tempat mereka berada.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Kenikmatan yang melingkupi mereka di 83:22 tampak pada wajah mereka di sini. Jadi satu akar mengikat keadaan yang di luar dan tanda yang di wajah, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung pun.
Kata (وُجُوهِهِمْ, wujuuhihim) berasal dari akar yang berarti wajah dan arah. Akar itu dipakai di 71 ayat, antara lain 2:112, 3:106, 10:26, 75:22, dan 88:2. Kesejajaran dengan 75:22 patut dicatat, sebab di sana wajah disebut bersama akar yang sama seperti kata ketiga di ayat ini.
Kata kerja (تَعْرِفُ, ta'rifu) berorang kedua tunggal, sedangkan seluruh bagian ini membicarakan golongan. Jadi pembacanya disapa langsung di tengah gambaran, dan Al-Qur'an tidak menandai pergantian itu.
Kata (النَّعِيمِ, an-na'iim) bertakrif di sini, sedangkan bentuk yang sama di 83:22 tidak bertakrif. Jadi satu kata muncul dengan dua cara penakrifan di dalam satu bagian, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.
Ayat ini bagian ketiga dari tujuh ayat tentang balasan orang berbakti, dan ia yang pertama menyapa pembacanya. Jadi gambaran itu tidak cuma diberitakan melainkan diperlihatkan kepada yang membacanya.
Kata (فِي, fii) menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga tanda kenikmatan itu dilukiskan berada di dalam wajah mereka, bukan menempel di atasnya. Jadi gambarannya sesuatu yang terpancar dari dalam, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun.
Kata (نَضْرَةَ, nadhrata) disandarkan kepada kata sesudahnya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi yang dikenali di wajah mereka bukan keberseri-serian begitu saja melainkan keberseri-serian yang datang dari kenikmatan itu, dan pembatasan itu terbawa di dalam susunan katanya. Susunan itu menyapa pembacanya langsung di tengah gambaran tentang golongan. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang disapa maupun bagaimana ia bisa mengenali tanda itu, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang menaruhnya sebagai saksi.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kenikmatan mereka tampak jelas pada wajah mereka, dan kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 75:22, 76:11, dan 83:24. Di 75:22 akar itu dipakai untuk wajah yang berseri pada hari itu, dan di 76:11 ia dipakai untuk keberseri-serian yang diberikan Allah.
Jadi ketiga pemakaiannya menamai cahaya yang tampak pada wajah, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.
Kata terakhirnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:22 dan ayat ini. Di 83:22 kenikmatan itu disebut sebagai tempat mereka berada, dan di sini ia tampak pada wajah mereka.
Kata pertamanya berorang kedua tunggal, sedangkan seluruh bagian ini membicarakan golongan. Kata keduanya menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga tanda kenikmatan itu dilukiskan berada di dalam wajah mereka, bukan menempel di atasnya. Kata ketiganya disandarkan kepada kata sesudahnya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan yang tidak bisa dipisah. Jadi gambaran itu tidak cuma diberitakan melainkan diperlihatkan kepada yang membacanya, dan Al-Qur'an tidak menandai pergantian sapaan itu. Pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tentang bagaimana tanda itu dikenali.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:22 dan 83:24. Di 83:22 kenikmatan itu disebut sebagai tempat mereka berada, dan di sini ia tampak pada wajah mereka. Jadi satu akar mengikat keadaan yang di luar dan tanda yang di wajah. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat tempat dan tanda di wajah mereka. Pembaca disapa langsung di tengah gambaran, seolah ia sendiri yang memandang.
- Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 75:22, 76:11, dan 83:24. Di 75:22 akar itu dipakai untuk wajah yang berseri pada hari itu, dan di 76:11 untuk keberseri-serian yang diberikan Allah. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar yang langka itu untuk wajah. Pembaca disapa langsung di tengah gambaran, seolah ia sendiri yang memandang.
- Kata pertamanya berorang kedua tunggal, sedangkan seluruh bagian ini membicarakan golongan. Jadi Allah menyapa pembacanya langsung di tengah gambaran, dan gambaran itu tidak cuma diberitakan melainkan diperlihatkan kepada yang membacanya. Peralihan itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa ia sedang disapa di tengah gambaran tentang golongan. Pembaca disapa langsung di tengah gambaran, seolah ia sendiri yang memandang.
- Kata terakhirnya bertakrif di sini, sedangkan bentuk yang sama di 83:22 tidak bertakrif. Jadi satu kata muncul dengan dua cara penakrifan di dalam satu bagian, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan penakrifan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan masing-masing. Kenikmatan yang terlihat di wajah tidak bisa disembunyikan dari siapa pun. Kenikmatan yang terlihat di wajah tidak bisa disembunyikan dari siapa pun.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 71 ayat, antara lain 2:112, 3:106, 10:26, 75:22, dan 88:2. Kesejajaran dengan 75:22 patut dicatat, sebab di sana wajah disebut bersama akar yang sama seperti kata ketiga di ayat ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan berkumpulnya dua akar itu di satu ayat lain. Kenikmatan yang terlihat di wajah tidak bisa disembunyikan dari siapa pun.
- Ayat ini bagian ketiga dari tujuh ayat tentang balasan orang berbakti, dan ia yang pertama menyapa pembacanya. Apa yang ditambahkan sebuah balasan ketika Allah menyatakannya bukan cuma dirasakan pemiliknya, melainkan terlihat oleh siapa pun yang memandang? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata itu, dan menerangkan bagaimana ia mengenali tanda itu berarti menaruh apa yang tidak tertulis. Kenikmatan yang terlihat di wajah tidak bisa disembunyikan dari siapa pun.