خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Meterainya kasturi; dan untuk itu hendaklah berlomba orang-orang yang berlomba.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَkhitaamuhu miskun wa-fii dzaalika fa-l-yatanaafasi l-mutanaafisuunameterainya kasturi, dan untuk itu hendaklah berlomba orang-orang yang berlomba

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. خِتَامُهُkhitaamuhupenutupnya
  2. مِسْكٌmiskunkesturi
  3. وَفِيwa-fiidan pada
  4. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  5. فَلْيَتَنَافَسِfa-l-yatanaafasimaka hendaklah berlomba
  6. الْمُتَنَافِسُونَl-mutanaafisuunaorang-orang yang berlomba

Inti bacaan

Ajakan berkompetisi dalam kebaikan: 'meterainya kasturi; dan untuk itu hendaklah berlomba orang-orang yang berlomba', dorongan eksplisit untuk mengarahkan semangat kompetitif manusia menuju pencapaian spiritual, bukan sekadar kepemilikan duniawi.

Penjelasan pilihan kata

"Dzaalika" (jauh) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan "itu": draf sudah tepat.

Kata (خِتَامُهُ, khitaamuhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (مِسْكٌ, misk) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata kerja (فَلْيَتَنَافَسِ, fa-l-yatanaafas) dan kata (الْمُتَنَافِسُونَ, al-mutanaafisuun) pun masing-masing muncul 1 kali.

Jadi empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini bersama 83:3. Al-Qur'an tidak menerangkan pemusatan itu. Kata (مِسْكٌ, misk) di sini tidak bertakrif, dan ia menutup bagian pertama ayatnya.

Akar (خِتَامُهُ, khitaamuhu) berarti menyegel. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:25 dan ayat ini. Jadi akar itu dipakai dua kali berturut-turut, dan yang kedua menerangkan yang pertama.

Akar (فَلْيَتَنَافَسِ, fa-l-yatanaafas) berarti napas dan jiwa. Akar itu dipakai di 270 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai jiwa manusia. Jadi akar yang di ratusan ayat menamai jiwa, di sini menamai perlombaan.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang menamai jiwa dipakai untuk perbuatan berlomba, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang sesuatu yang diperebutkan dengan segenap diri. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Kata (خِتَامُهُ, khitaamuhu) mendahuluinya, dan ia memakai kata ganti kepemilikan.

Bentuk (فَلْيَتَنَافَسِ, fa-l-yatanaafas) berbentuk perintah lewat huruf lam, sehingga yang disuruh pihak ketiga, bukan orang yang sedang disapa. Jadi seruan itu tidak dialamatkan kepada siapa pun secara langsung.

Ayat ini satu-satunya di dalam bagian ini yang memuat seruan, sedangkan enam ayat lainnya melukiskan keadaan. Jadi gambaran itu disela satu ajakan, dan Al-Qur'an tidak menandai penyelaan itu dengan satu kata penghubung pun.

Kata (وَفِي, wa fii) menyatakan di dalam perkara itulah perlombaan diserukan, sehingga sasarannya ditentukan satu huruf saja. Jadi yang diperlombakan bukan bendanya melainkan keadaan yang baru dilukiskan, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan hurufnya sendiri tanpa satu kata penjelas pun.

Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk yang jauh, sedangkan kata penunjuk di 83:17 dan 83:32 menunjuk yang dekat. Jadi tiga kata penunjuk di dalam surah ini memakai dua jarak yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Susunan itu menyelipkan satu seruan di tengah gambaran yang seluruhnya melukiskan keadaan. Al-Qur'an tidak menyebut bagaimana cara berlomba itu maupun kepada siapa seruannya dialamatkan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma satu ajakan tanpa satu petunjuk pun.

Tafsiran

Ayat ini menyerukan agar manusia berlomba meraih kenikmatan tersebut, dan empat katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Jadi empat kata di ayat ini tidak berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah ini bersama 83:3.

Akar kata pertamanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:25 dan ayat ini. Jadi akar itu dipakai dua kali berturut-turut, dan yang kedua menerangkan yang pertama.

Akar kata kelimanya dipakai di 270 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai jiwa manusia. Jadi akar yang di ratusan ayat menamai jiwa, di sini menamai perlombaan, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang sesuatu yang diperebutkan dengan segenap diri.

Bentuk kata kelimanya berbentuk perintah lewat huruf lam, sehingga yang disuruh pihak ketiga, bukan orang yang sedang disapa. Kata keempatnya menyatakan di dalam perkara itulah perlombaan diserukan, sehingga sasarannya ditentukan satu huruf saja. Kata kelimanya menunjuk yang jauh, sedangkan kata penunjuk di 83:17 dan 83:32 menunjuk yang dekat, sehingga tiga kata penunjuk di surah ini memakai dua jarak yang berbeda. Jadi gambaran itu disela satu ajakan, dan Al-Qur'an tidak menandai penyelaan itu dengan satu kata penghubung pun di dalam susunannya.

Renungan dan Hikmah

  • Empat kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tidak satu pun di antaranya berulang di tempat lain mana pun, dan itu kepadatan kelangkaan yang paling besar di dalam surah Allah ini bersama 83:3. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan empat kata langka di dalam satu ayat. Akar yang menamai jiwa dipakai untuk perbuatan berlomba dengan segenap diri. Akar yang menamai jiwa dipakai untuk perbuatan berlomba dengan segenap diri.
  • Akar kata kelimanya dipakai Allah di 270 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai jiwa manusia. Jadi akar yang di ratusan ayat menamai jiwa, di sini menamai perlombaan, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang sesuatu yang diperebutkan dengan segenap diri. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara jiwa dan perlombaan dengan satu kalimat pun. Akar yang menamai jiwa dipakai untuk perbuatan berlomba dengan segenap diri.
  • Akar kata pertamanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:25 dan 83:26. Jadi akar itu dipakai Allah dua kali berturut-turut, dan yang kedua menerangkan yang pertama tanpa satu kata penghubung di antara dua ayatnya. Kesejajaran itu berlaku sampai ke akarnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama. Empat kata yang tidak berulang di mana pun berdiri di dalam satu ayat. Empat kata yang tidak berulang di mana pun berdiri di dalam satu ayat.
  • Bentuk kata kelimanya berbentuk perintah lewat huruf lam, sehingga yang disuruh pihak ketiga, bukan orang yang sedang disapa. Jadi seruan Allah tidak dialamatkan kepada siapa pun secara langsung, dan siapa pun yang membacanya bisa merasa disuruh. Bentuk itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa perintahnya tidak dialamatkan kepada satu pihak pun secara langsung. Empat kata yang tidak berulang di mana pun berdiri di dalam satu ayat.
  • Ayat ini satu-satunya di dalam bagian ini yang memuat seruan, sedangkan enam ayat lainnya melukiskan keadaan. Apa yang dikerjakan sebuah ajakan pada pembacanya ketika Allah menyelipkannya di tengah gambaran, bukan sesudah gambarannya selesai? Bentuk itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tujuh ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyisipan satu ajakan di tengahnya. Akar yang menamai jiwa dipakai untuk perbuatan berlomba dengan segenap diri.
  • Yang diserukan Allah untuk diperlombakan adalah kenikmatan yang baru saja dilukiskan, bukan sesuatu yang bisa dilihat sekarang. Jadi perlombaannya diarahkan kepada perkara yang tidak ada di hadapan mata, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun caranya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma seruan itu sendiri, dan menambahkan caranya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan susunan ayatnya. Empat kata yang tidak berulang di mana pun berdiri di dalam satu ayat.