إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَinna lladziina ajramuu kaanuu mina lladziina aamanuu yadhakuunasesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman
Terjemahan per kata (8 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- أَجْرَمُواajramuumereka berbuat dosa
- كَانُواkaanuumereka selalu
- مِنَminadari
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- يَضْحَكُونَyadhakuunamereka menertawakan
Inti bacaan
Pengungkapan pola ejekan masa lalu: 'sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman', dokumentasi perilaku merendahkan yang dialami orang beriman semasa hidup di dunia.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (أَجْرَمُوا, ajramuu) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:124, 30:47, dan 83:29. Di 30:47 kata yang sama dipakai untuk orang yang dibalas Allah karena perbuatannya.
Kata kerja (يَضْحَكُونَ, yadhhakuun) berasal dari akar yang berarti tertawa. Akar itu cuma dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 53:60, dan 80:39. Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:34.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di sini orang berdosa menertawakan orang beriman, dan di 83:34 orang beriman menertawakan orang kufur. Jadi satu akar memikul pembalikan keadaan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya.
Kata kerja (آمَنُوا, aamanuu) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:34. Jadi dua akar sekaligus diulang di dua ayat itu, dan keduanya berjarak lima ayat.
Jadi kalimat di 83:34 dibangun dari bahan yang sama dengan kalimat di ayat ini, dan yang berbeda cuma siapa yang tertawa dan siapa yang ditertawakan. Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata pun.
Bentuk (يَضْحَكُونَ, yadhhakuun) berbentuk sekarang dan didahului kata kerja yang menyatakan kebiasaan, sehingga tertawa itu dinyatakan berulang-ulang. Jadi ia bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
Huruf min di depan (مِنَ, mina) menyatakan sasaran tertawanya, sehingga yang ditertawakan orang beriman itu sendiri. Jadi arah ejekannya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah siapa yang menjadi bahan tertawa.
Ayat ini membuka lima ayat tentang ejekan di dunia, dan kelimanya berjalan sampai 83:33. Jadi bagian ini sama panjangnya dengan bagian pembalikannya yang cuma tiga ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.
Kata (إِنَّ, inna) di awal ayat huruf penegas, sama seperti huruf pembuka di 83:22. Jadi dua ayat yang membuka dua bagian berlawanan sama-sama dibuka dengan huruf yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata penghubung pun.
Kata (كَانُوا, kaanuu) berasal dari akar yang berarti ada dan menjadi. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14, 83:17, ayat ini, dan 83:36. Jadi akar itu mengikat empat bagian surahnya, dan seluruhnya menamai kebiasaan yang berlangsung lama. Susunan itu membuka kisah ejekan di dunia sesudah sebelas ayat tentang balasan di akhirat. Al-Qur'an tidak menyebut kapan ejekan itu terjadi maupun di mana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma satu kebiasaan yang dilukiskan tanpa satu nama pun. Pembacanya dibiarkan tanpa satu nama maupun satu tempat di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini beralih ke kisah orang-orang berdosa yang dahulu mengejek orang beriman di dunia, dan kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:124, 30:47, dan 83:29.
Di 30:47 kata yang sama dipakai untuk orang yang dibalas Allah karena perbuatannya. Kata terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 53:60, dan 80:39.
Di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu ayat ini dan 83:34. Di sini orang berdosa menertawakan orang beriman, dan di 83:34 orang beriman menertawakan orang kufur.
Jadi satu akar memikul pembalikan keadaan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya. Kata keenamnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 83:34.
Ayat ini membuka lima ayat tentang ejekan di dunia, dan kelimanya berjalan sampai 83:33. Kata pertamanya huruf penegas, sama seperti huruf pembuka di 83:22. Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14, 83:17, ayat ini, dan 83:36, sehingga akar itu mengikat empat bagian surahnya. Jadi bagian ini lima ayat panjangnya, sedangkan pembalikannya di akhirat cuma tiga ayat di 83:34 sampai 83:36. Pembacanya dibiarkan tanpa keterangan tentang kapan ejekan itu terjadi.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai Allah di 10 ayat, dan di dalam surah ini akar itu muncul di dua ayat, yaitu 83:29 dan 83:34. Di sini orang berdosa menertawakan orang beriman, dan di 83:34 orang beriman menertawakan orang kufur. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua tertawa yang berlawanan. Satu akar memikul pembalikan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya.
- Kata keenamnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:29 dan 83:34. Jadi dua akar sekaligus diulang Allah di dua ayat itu, dan kalimat di 83:34 dibangun dari bahan yang sama dengan kalimat di ayat ini. Kesejajaran itu berlaku sampai ke bahan katanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat itu dibangun dari kata yang sama persis. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
- Bentuk kata terakhirnya berbentuk sekarang dan didahului kata kerja yang menyatakan kebiasaan, sehingga tertawa itu dinyatakan berulang-ulang. Jadi Allah menyebutnya bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama. Perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri, dan terjemahan yang menghilangkan kata kebiasaannya akan mengubahnya menjadi satu kejadian. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
- Huruf di depan kata kelimanya menyatakan sasaran tertawanya, sehingga yang ditertawakan orang beriman itu sendiri. Jadi arah ejekannya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah siapa yang menjadi bahan tertawa di dalam ayat Allah ini. Arah ejekan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah siapa yang menjadi bahan tertawa di dalam ayat ini. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
- Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:124, 30:47, dan 83:29. Di 30:47 kata yang sama dipakai Allah untuk orang yang dibalas karena perbuatannya, sedangkan di sini ia menamai orang yang menertawakan orang beriman di dunia. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian kata itu cuma di tiga surah. Satu akar memikul pembalikan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya.
- Ayat ini membuka lima ayat tentang ejekan di dunia, dan kelimanya berjalan sampai 83:33. Apa yang dinyatakan Allah dengan memberi ejekan di dunia lima ayat, sedangkan pembalikannya di akhirat cuma tiga ayat di 83:34 sampai 83:36? Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemberian lima ayat kepada bagian ini. Satu akar memikul pembalikan yang menjadi pokok bagian penutup surahnya. Ejekan yang dilukiskan bukan satu kejadian melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.