وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ
Dan apabila melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip mengejek,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَwa-idzaa marruu bihim yataghaamazuunadan apabila melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip mengejek
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- مَرُّواmarruumereka lewat
- بِهِمْbihimpada mereka
- يَتَغَامَزُونَyataghaamazuunamereka saling mengedipkan mata
Inti bacaan
Detail perilaku mengejek yang spesifik: 'dan apabila melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip mengejek', gestur non-verbal yang menegaskan sifat sistematis dan disengaja dari ejekan tersebut.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يَتَغَامَزُونَ, yataghaamazuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti mengedipkan mata mengejek. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar.
Ini akar keempat dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 83:14, 83:25, dan 83:27, sehingga empat hapax akar tersebar di empat bagian surahnya. Kata (يَتَغَامَزُونَ, yataghaamazuun) di sini berpola keenam, sehingga perbuatannya bersama.
Bentuk (يَتَغَامَزُونَ, yataghaamazuun) berpola keenam, sehingga artinya saling memberi isyarat di antara mereka. Jadi perbuatannya dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam polanya.
Kata kerja (مَرُّوا, marruu) berasal dari akar yang berarti berlalu lewat. Akar itu cuma dipakai di 32 ayat, antara lain 2:259, 7:189, 12:105, 25:72, dan 31:7. Di 25:72 akar itu dipakai untuk orang yang berlalu dengan menjaga kehormatan diri.
Kesejajaran dengan 25:72 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama menamai cara berlalu yang terpuji, dan di sini ia menamai cara berlalu yang mengejek. Jadi satu akar memikul dua cara melewati orang lain. Kata (مَرُّوا, marruu) mendahuluinya, dan bentuknya berbentuk lampau.
Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang berulang, dan kata yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Jadi tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama, dan ketiganya melukiskan kebiasaan.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Tiga ayat itu menyusun tiga tahap ejekan: isyarat saat berpapasan, kegembiraan saat pulang, dan tuduhan saat memandang. Jadi ejekannya dilukiskan bertingkat, dan Al-Qur'an tidak menandai tingkatannya.
Kata (بِهِمْ, bihim) memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:29, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang dilewati.
Kata (وَإِذَا, wa idzaa) di awal ayat menandai waktu yang berulang, dan susunan yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Jadi tiga ayat berturut-turut dibuka dengan dua kata yang sama persis, dan pengulangan sepadat itu tidak ada di bagian lain surah ini.
Kata (مَرُّوا, marruu) berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang. Jadi perbuatan melewatinya disebut sudah terjadi dan isyaratnya sebagai yang berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk keduanya tanpa satu kata keterangan pun. Susunan itu merinci tahap pertama ejekan mereka dengan satu kata yang tidak berulang di mana pun. Al-Qur'an tidak menyebut apa isyarat itu maupun apa maksudnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang melukiskan gerak yang hampir tidak terlihat.
Tafsiran
Ayat ini merinci ejekan mereka: saling mengedipkan mata saat melintasi orang beriman, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini akar keempat dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Tiga lainnya berada di 83:14, 83:25, dan 83:27.
Bentuk kata terakhirnya berpola keenam, sehingga artinya saling memberi isyarat di antara mereka. Jadi perbuatannya dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri.
Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 32 ayat, antara lain 2:259, 7:189, 12:105, 25:72, dan 31:7. Di 25:72 akar itu dipakai untuk orang yang berlalu dengan menjaga kehormatan diri.
Kata pertamanya menandai waktu yang berulang, dan kata yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Kata pertamanya menandai waktu yang berulang, dan susunan yang sama dipakai di 83:31 serta 83:32. Kata keduanya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang, sehingga perbuatan melewatinya disebut sudah terjadi dan isyaratnya sebagai yang berlangsung. Jadi ejekannya dilukiskan bertingkat di tiga ayat berturut-turut, dan Al-Qur'an tidak menandai tingkatannya dengan satu kata pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar keempat dan terakhir dari akar-akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan tiga lainnya berada di 83:14, 83:25, dan 83:27. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan empat hapax akar di dalam satu surah. Akar yang menamai cara berlalu yang terhormat dipakai untuk cara berlalu yang mengejek.
- Kata keduanya berasal dari akar yang cuma dipakai Allah di 32 ayat, antara lain 2:259, 7:189, 12:105, 25:72, dan 31:7. Di 25:72 akar itu dipakai untuk orang yang berlalu dengan menjaga kehormatan diri, sedangkan di sini ia menamai cara berlalu yang mengejek. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk dua cara melewati orang. Akar yang menamai cara berlalu yang terhormat dipakai untuk cara berlalu yang mengejek.
- Bentuk kata terakhirnya berpola keenam, sehingga artinya saling memberi isyarat di antara mereka. Jadi Allah menyatakan perbuatannya dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam polanya tanpa satu kata keterangan. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan mengubah perbuatan bersama menjadi perbuatan sendiri-sendiri. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa.
- Kata pertamanya menandai waktu yang berulang, dan kata yang sama dipakai Allah di 83:31 serta 83:32. Jadi tiga ayat berturut-turut menyusun tiga tahap ejekan: isyarat saat berpapasan, kegembiraan saat pulang, dan tuduhan saat memandang. Kesejajaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian penanda yang sama. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa.
- Kata ketiganya memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:29, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang dilewati mereka. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang dilewati mereka. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa. Ejekan yang cuma berupa kedipan mata sejajar dengan selisih takaran yang tak terasa.
- Yang disebut Allah di ayat ini bukan hinaan yang terdengar, melainkan isyarat mata di antara mereka. Apa yang dinyatakan sebuah surah ketika ia membuka dengan selisih takaran yang tak terasa, lalu mencatat ejekan yang cuma berupa kedipan mata? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menerangkan apa isyarat itu berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Akar yang menamai cara berlalu yang terhormat dipakai untuk cara berlalu yang mengejek.