وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ
Dan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali bergembira ria,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَwa-idzaa nqalabuu ilaa ahlihimu nqalabuu fakihiinadan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali bergembira ria
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- انْقَلَبُواnqalabuumereka kembali
- إِلَىٰilaakepada
- أَهْلِهِمُahlihimukeluarga mereka
- انْقَلَبُواnqalabuumereka kembali
- فَكِهِينَfakihiinaorang-orang yang bergembira
Inti bacaan
Kepuasan yang diperoleh dari merendahkan orang lain: 'dan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali bergembira ria', pengakuan bahwa ejekan terhadap orang beriman menjadi sumber kesenangan tersendiri bagi pelakunya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَكِهِينَ, faakihiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti bergembira dan bergurau. Ia cuma dipakai di 19 ayat, antara lain 36:57, 43:73, 55:11, 56:32, dan 80:31, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai buah-buahan.
Jadi akar yang di belasan ayat menamai buah-buahan surga, di sini menamai orang yang bergembira karena ejekannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya. Kata (فَكِهِينَ, faakihiin) di sini berbaris fathah sebagai keterangan keadaan.
Kata kerja (انْقَلَبُوا, inqalabuu) berasal dari akar yang berarti membalik. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan ayat ini. Di 83:14 akar itu menamai hati yang berkarat.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar menamai hati yang tertutup karat dan perbuatan pulang ke rumah, dan keduanya dipakai untuk golongan yang sama. Jadi orang yang hatinya berkarat adalah orang yang pulang dengan gembira di sini. Kata (انْقَلَبُوا, inqalabuu) mendahuluinya, dan ia diulang dua kali di ayat ini.
Kata kerja (انْقَلَبُوا, inqalabuu) diulang dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai keterangan waktu dan sekali sebagai kalimat pokoknya. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam satu ayat pendek, dan pengulangan itu yang menyusun kalimatnya.
Bentuk (انْقَلَبُوا, inqalabuu) berpola ketujuh, sehingga artinya berbalik dengan sendirinya. Jadi kepulangannya disandarkan kepada mereka sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut memulangkannya.
Kata (أَهْلِهِمُ, ahlihim) berasal dari akar yang berarti keluarga dan penghuni. Akar itu dipakai di 120 ayat, antara lain 4:35, 11:45, 20:132, 66:6, dan 84:9. Kesejajaran dengan 84:9 patut dicatat, sebab di sana orang yang selamat pulang kepada keluarganya dengan gembira.
Jadi dua surah yang berdekatan memakai gambaran yang sama, dan yang di 84:9 pahala sedangkan yang di sini kegembiraan atas ejekan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kata pun.
Kata (إِلَىٰ, ilaa) menyatakan arah tujuan, sehingga kepulangan itu dilukiskan sebagai perjalanan yang punya ujung. Jadi arahnya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan menghapus tujuan yang dinyatakan susunan katanya sendiri di dalam ayat ini.
Kata (فَكِهِينَ, faakihiin) berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:23 pada kata yang berbeda. Jadi dua ayat di dalam surah ini melukiskan keadaan lewat kata sifat yang menempel pada kata kerjanya. Susunan itu merinci tahap kedua ejekan mereka, yaitu kegembiraan yang terbawa sampai ke rumah. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka katakan di rumah maupun kepada siapa, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kepuasan mereka mengejek yang berlanjut hingga pulang ke rumah, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya cuma dipakai di 19 ayat, antara lain 36:57, 43:73, 55:11, 56:32, dan 80:31, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai buah-buahan. Jadi akar yang di belasan ayat menamai buah-buahan surga, di sini menamai orang yang bergembira karena ejekannya.
Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan ayat ini. Di 83:14 akar itu menamai hati yang berkarat.
Jadi orang yang hatinya berkarat adalah orang yang pulang dengan gembira di sini. Kata itu diulang dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai keterangan waktu dan sekali sebagai kalimat pokoknya.
Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 120 ayat, antara lain 4:35, 11:45, 20:132, 66:6, dan 84:9. Kata keempatnya menyatakan arah tujuan, sehingga kepulangan itu dilukiskan sebagai perjalanan yang punya ujung. Kata terakhirnya berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:23 pada kata yang berbeda. Jadi ejekan itu tidak berhenti di tempatnya melainkan terbawa sampai ke rumah, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka katakan di sana.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 19 ayat, antara lain 36:57, 43:73, 55:11, 56:32, dan 80:31. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai buah-buahan surga, sedangkan di sini ia menamai kegembiraan atas ejekan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian akar buah-buahan untuk kegembiraan ini. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya.
- Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 83:14 dan 83:31. Di 83:14 akar itu menamai hati yang berkarat. Jadi orang yang hatinya tertutup karat adalah orang yang pulang dengan gembira di sini, dan Allah tidak menyatakan hubungan itu. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat hati yang berkarat dan kepulangan mereka. Akar yang menamai buah-buahan surga dipakai untuk kesenangan yang salah tempatnya.
- Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai Allah di 120 ayat, antara lain 4:35, 11:45, 20:132, 66:6, dan 84:9. Di 84:9 orang yang selamat pulang kepada keluarganya dengan gembira, sedangkan di sini kegembiraannya datang dari ejekan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian gambaran yang sama di dua surah. Akar yang menamai buah-buahan surga dipakai untuk kesenangan yang salah tempatnya.
- Kata keduanya diulang dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai keterangan waktu dan sekali sebagai kalimat pokoknya. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam satu ayat pendek, dan pengulangan itu yang menyusun kalimat Allah di sini. Pengulangan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu kata berdiri dua kali dengan dua kedudukan di satu ayat. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya.
- Bentuk kata keduanya berpola ketujuh, sehingga artinya berbalik dengan sendirinya. Jadi kepulangannya disandarkan kepada mereka sendiri, dan Allah tidak menyebut satu pihak pun yang memulangkannya di dalam ayat ini. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghadirkan pihak lain yang tidak disebutkan di dalam ayatnya. Akar yang menamai buah-buahan surga dipakai untuk kesenangan yang salah tempatnya.
- Ayat ini bagian ketiga dari lima ayat tentang ejekan, dan ia menyebut apa yang terjadi sesudah mereka meninggalkan tempatnya. Apa yang ditambahkan sebuah ejekan ketika Allah mencatat bahwa kegembiraannya masih terbawa sampai ke rumah? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ejekannya disusun bertingkat di tiga ayat yang berturut-turut. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya. Kegembiraan atas ejekan terbawa sampai ke rumah, bukan berhenti di tempatnya.